Header Ads

Aksi Bela Islam

Merambah Sukses di Negeri Jiran


Bagi orang Indonesia, terutama yang tinggal di kota Jakarta, Pasar Tanah Abang pasti sudah cukup akrab terdengar di telinga. Pasar tersebut terkenal sebagai pusat grosir busana pakaian yang sangat lengkap dan murah. Tidak hanya itu, produknya pun beragam, dari produk lokal hingga buatan luar negeri. Sehingga, yang melakukan transaksi di pasar tersebut tak hanya berasal dari dalam kota saja. Bahkan, banyak dari mereka yang berasal dari luar provinsi, luar pulau Jawa, bahkan dari mancanegara.

Lain halnya di Malaysia. Di Negeri Jiran tersebut, ada suatu kawasan di jantung kota Kuala Lumpur yang dijuluki Kawasan Masjid India. Di sebut demikian karena di tempat tersebut, berdiri sebuah masjid yang didirikan oleh seorang saudagar muslim berdarah india. Berkapasitas 3.500 orang, tempat ibadah tingkat tiga tersebut dibangun lebih dari satu abad yang lalu. Sebagian besar jamaahnya adalah muslim etnis india Malaysia. Tak heran, dalam setiap shalat jum’at, khotbah disampaikan dalam Bahasa Tamil. Sejak saat didirikan, bangunan ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Hingga saat ini, tempat ini selalu ramai dikunjungi, tidak hanya oleh komunitas muslim india, tetapi dari berbagai kalangan untuk menjalankan ibadah setiap harinya. Karena sejarah dan keunikannya itu, masjid ini menjadi salah satu daya tarik wisata di jantung kota Kuala Lumpur. Tak heran, banyak wisatawan yang hilir mudik di kawasan ini.

Mengepung masjid tersebut, terdapat kompleks pusat perbelanjaan yang terbilang cukup besar dengan nama kompleks pertokoan Masjid India. Tak hanya pertokoan, di kompleks ini juga hadir berbagai restoran dan rumah makan dengan aneka hidangan, mulai dari citarasa Melayu, India, hingga Mogul. Seperti halnya Pasar Tanah Abang di Indonesia, kompleks perbelanjaan ini merupakan pusat grosir dan eceran pakaian dan busana terlengkap. Terpisah hanya beberapa ratus meter dari kawasan tersebut, berdiri megah Masjid Jamek, yang identik dengan komunitas Melayu. Di sepanjang Jalan Masjid India dan dan Jalan Tuanku Abdulrahman, terdapat sebuah kawasan yang disebut ‘India Kecil’ atau ‘Little India’. Pasalnya, di sepanjang jalan ini, banyak toko-toko etnis India yang menjajakan makanan, cinderamata, dan busana khas ala India.

Berada di lantai dasar Hotel Noble, tepatnya di jalan Tuanku Abdul Rahman, berdiri sebuah toko busana muslim. Di pintu masuknya terpampang tulisan Annur Collection Enterprise. Di dalam toko tersebut, terpajang beragam kerudung dan busana muslim beraneka model. Sangat lengkap. Pemiliknya adalah seorang haji berdarah Mandailing, Sumatera Utara, Indonesia yang sudah lama menetap di Malaysia. Ia biasa disapa Bapak H. Sabaruddin. Annur Collection Enterprise merupakan sebuah perusahaan grosir kerudung dan busana muslim. Menurut ayah dari tiga orang putri tersebut, permintaan terhadap produknya tak hanya dari dalam negeri, namun banyak datang dari negara lain, di antaranya adalah Brunai Darussalam dan Singapura. Awal ia berbisnis busana, desain pertama ia bawa dari Indonesia, kemudian dimodifikasi. Sekarang, ia mendesain dan memproduksi sendiri. Produk yang ia hasilkan beragam mulai dari kerudung platinum, kerudung bercorak, yang ia desain sendiri langsung dari pabrik. Di samping itu, gerainya juga menyediakan busana muslim. Kini, ia bisa menikmati madu kesuksesan dari jerih payahnya di masa muda. Kesehariannya, ia selalu mengendarai mobil Mercy-nya, pulang pergi dari tempat kediaman ke lokasi usahanya.

Dalam menjalankan bisnisnya, ia menggaji karyawan sebanyak sebanyak tujuh orang. Setiap bulannya, ia mengeluarkan uang sekitar Rp. 25 juta untuk gaji karyawan saja. Menurutnya, mencari karyawan di Malaysia terbilang susah-susah gampang. Seringkali, karyawan tidak bisa bertahan lama. Baru beberapa minggu, mereka pindah kerja ke tempat lain meskipun bayarannya cukup memadai. Hal ini karena lapangan kerja di Malaysia terbilang melimpah. Dalam mengelola karyawan, ia mempunyai prinsip untuk menyegerakan membayar upah pekerja. “Jangan menunggu keringat orang kering.” Ungkapnya.

H. Sabarudin adalah anak ke-9 dari sepuluh bersaudara yang dilahirkan pada tahun 1966, di Mandailing, Sumatera Utara. Kisahnya berawal saat ia tamat sekolah menengah atas di Medan. Selepas tamat SMA, ia merantau ke Batam pada tahun 1985, kemudian ke Singapura, hingga akhirnya ke Malaysia. Meskipun jauh di rantau, ia selalu menjalankan pesan kedua orangtuanya, agar selalu menjaga solat lima waktu. Sebelum menjadi pengusaha sukses seperti sekarang ini, ia merintis karir mulai dari penjaga parkir, pengemudi taksi, hingga buruh bangunan. Ia menuturkan kenangan yang berkesan baginya, ikut andil dalam pembangunan ikon Malaysia yang sangat masyhur, Menara Kembar Petronas meskipun hanya sebagai juru las. Di awal tahun 2000, ia banting setir, berjualan dari pasar malam satu ke pasar malam lain. Di tahun 2007, usahanya mengalami kebangkrutan, kondisi ekonomi keluarga pun terpuruk. Awal kesuksesanya bermula di tahun 2008, saat ia mulai merintis bisnis busana muslim dengan menyewa gerai di kompleks pertokoan masjid india seharga RM 3.000 per bulan. Berkat kerja kerasnya, sekarang, ia menjadi salah satu pemborong/ grosir terbesar busana muslim di Kompleks Pusat Perbelanjaan Kawasan Masjid India, Kuala Lumpur. Di samping sebagai supplier, perusahaannya juga menjual eceran (ritel).

Sukses dengan Banyak Bersedekah dan Silaturahim
Kaya atau miskin, semua berawal dari mental. Menurut ayah dari tiga puteri tersebut, menjadi kaya harus dimulai dari diri sendiri dulu, yaitu menjadikan diri bermental kaya untuk menjadi kaya sebenarnya. Caranya yaitu dengan melatih diri untuk senantiasa bersyukur dan banyak memberi. Biasakan agar selalu fokus kepada apa yang kita punya, kepada nikmat-nikmat yang kita miliki. Dengan demikian, orang yang bermental kaya akan senantiasa berbagi, baik dengan bersedekah atau banyak membantu kesusahan orang lain. Bersedekah kepada orang yang membutuhkan adalah kunci pembuka pintu rejeki. Waktunya bisa diatur melalui sedekah harian, bulanan, bahkan tahunan. Karena itulah, selama berwirausaha, ia selalu menyisihkan sebagian keuntungannya untuk dibelanjakan sebagai zakat, sedekah, santunan, dan amal lainnya. Dalam kondisinya sesulit apapun, selalu berusaha untuk membiasakan tangan di atas. Meskipun demikian, ia kembali mengingatkan bahwa niat sedekah, memberi, harus ikhlas, jangan karena mengharapkan imbalan harta balik. Tetap harus diniatkan untuk mencari pahala atau keridoanNya.

“Zakat dan sedekah itu ibarat pelumas bagi mesin.” Lanjutnya. Agar usaha berjalan mulus, kita membutuhkan pelumas, yaitu dengan sedekah dan zakat. Semakin baik pelumasnya, semakin baik pula mesin berjalan. Sehingga, semakin lancar zakat dan sedekahnya, semakin lancar pulalah perniagaan berjalan.

Sebaliknya, orang yang bermental miskin akan selalu merasa miskin dan berkekurangan. Sehingga, ia akan menjadi kikir, tidak pernah merasa sejahtera. Berbuat demikian akan mengundang kondisi berkekurangan. Dengan prinsip yang ia pegang, ia tidak pernah meminta kepada manusia, kecuali kepada Tuhan. Lanjutnya, kepada manusia, biasakanlah untuk selalu menjadi tangan di atas (memberi) meskipun dalam keadaan susah. Kondisi sebaliknya, dalam pandangan umum, manusia selalu merasa miskin. Sehingga, kecenderungan untuk selalu tangan di bawah. Dengan gaji besar pun, menusia tetap tidak akan pernah cukup.

Ia menekankan bahwa berbisnis/ berwirausaha bukan semata-mata mencari keuntungan. Niatkanlah bahwa disamping mencari rejeki yang halal dan diridhoi Tuhan, berniaga sebagai salah satu jalan untuk menjalin silaturahim dan memperbanyak sahabat. Di samping itu, jadikan pula sebagai sarana untuk membantu sesama, paparnya.

Kunci Sukses Berniaga Busana
Ketika ditanya mengenai tips sukses berbisnis busana di Malaysia, ia memaparkan bahwa yang utama adalah faktor pemilihan lokasi usaha. Menurutnya, mencari tempat menjadi sangat penting, dengan pertimbangan antara tingkat keramaian lalu lintas dan lalu lalang pengunjung dengan pertimbangan modal yang tersedia. Hal ini mengingat semakin ramai dan strategis lokasi suatu tempat, semakin mahal pula harganya. Sebelumnya, gerainya menempati lokasi yang tidak terlalu strategis mengingat keterbatasan dana. Seiring pertambahan pendapatan, ia mencari tempat yang lebih strategis sehingga gerainya bisa menempati salah satu ruas jalan utama yang padat pengunjung, yaitu Jalan Tuanku Abdul Rahman. Sebagai gambaran saja, ia menyebutkan bahwa satu bangunan di kawasan masjid india, tiga tingkat, dengan luas 10 x 12 kaki, bisa mencapai harga Rp. 30 milyar. Namun, dengan menyewa, modal tempat bisa ditekan menjadi Rp. 55 juta perbulan. Dengan modal ini, ia bisa menyewa gerai berukuran 10 x 12 kaki sebanyak dua ruangan.

H. Sabarudin mengungkapkan bahwa dalam berwirausaha, tidak ada istilah lebih pintar. Untuk mencapai kesuksesan dalam bisnis, yang paling penting adalah strategi dan keuletan dalam berusaha. Dari segi harga, ia mengambil jalan tengah, tidak terlalu rendah namun tidak juga tidak terlalu tinggi sehingga target konsumen yang dibidik berasal dari kalangan kelas menengah. Meskipun demikian, baginya, menjaga kualitas merupakan harga mati dalam menjalankan bisnis. Menjaga kualitas merupakan bagian dari menjaga amanah, tuturnya. Banyak sekali pebisnis yang pada awalnya bagus, tapi setelah naik daun, ia mulai lupa diri dengan melupakan kualitas. Padahal, itu justru cara menjatuhkan diri sendiri.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa pemasaran melalui website/ internet terbukti ampuh. Dengan memajang katalog produk di internet, banyak pesanan dari konsumen berdatangan. Promosi ini ditunjang dengan adanya sistem keagenan produk yang tersebar di dalam negeri Malaysia (di negeri bagian) dan di luar negeri, mulai dari Brunai Darussalam hingga Singapura. Dengan menerapkan sistem keagenan, terbuka kesempatan untuk menjadi agen bagi yang tertarik bisnis busanan muslim. Keagenan terbukti melipatgandakan kuantitas penjualan barang. Saat ditanya mengenai keuntungan yang diperoleh, ia mengatakan bahwa dalam satu bulan, ia mampu meraup omzet antara 600 juta hingga 1 milyar rupiah. Dengan perhitungan keuntungan sekitar 30 % dari omzet, setiap bulannya ia bisa mengantongi untung sebesar 180 juta hingga 300 juta rupiah.

Strategi yang tak kalah penting, Kesuksesan bisnisnya tak terlepas dari motif dan desain kerudung yang selalu diperbarui. Dalam hal desain dan motif, ia bekerja sama dengan pabrik garmen dan pabrik tersebut membuat sesuai pesanan yang diminta. Bahan kain ia pesan dari Korea. Namun, produksi dilakukan di dalam negeri (Malaysia). Setelah itu, pemasaran secara offline dilakukan di gerai milik pribadi dan agen-agen di seluruh negeri.

Ia menutup perbincangannya dengan memberi semangat kepada pembaca, peluang membuka bisnis busana di Malaysia masih terbuka lebar. Bahkan, di sini (di Malaysia), busana dari Indonesia cukup diminati, misalnya saja mukena (dalam Bahasa Malaysia telekung) pakaian-pakaian bordir dari Tasikmalaya, banyak dijual dengan harga cukup mahal. Pusat-pusat grosir seperti Pasar Tanah Abang Jakarta dan Pasar Baru, Bandung cukup punya nama di kalangan konsumen di Malaysia.[]


Penulis : Noerhidajat
Mahasiswa Master Universiti Putra Malaysia (UPM), Jurusan Teknik Lingkungan
Wartawan Majalah Infovet, Trubus, dan Penulis sejumlah buku

No comments

Powered by Blogger.