Header Ads

Aksi Bela Islam

Kenali Karakter Suami


"Selama dua puluh tahun berumah tangga," kata seorang suami kepada temannya, "aku belum pernah mendapati pada istriku sesuatu yang membuatku marah."

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya si teman, keheranan.

"Sejak malam pertama aku bertemu istriku, aku mendatanginya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata: 'Sabar dulu wahai Abu Umayyah, tunggu sejenak.'
Kemudian ia berkata: 'Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah… sesungguhnya aku adalah wanita yang asing bagi dirimu, aku tidak tahu karaktermu. Jelaskanlah kepadaku apa saja yang engkau sukai sehingga aku bisa melakukannya dan apa saja yang engkau benci sehingga aku dapat meninggalkannya. Aku katakan ini dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.'”

"Demi Allah," lanjut lelaki itu bercerita, disimak serius oleh temannya, "ia memaksa diriku untuk berbicara pada saat itu maka aku pun berkata: 'Segala puji hanya bagi Allah, aku bershalawat dan mengucapkan salam atas nabiNya dan atas keluarga beliau, wa ba’du. Sesungguhnya engkau telah mengucapkan sebuah perkataan jika engkau teguh memegangnya maka itu akan menjadi keberuntunganmu. Dan bila engkau tinggalkan akan menjadi hujjah yang menghujat dirimu. Sesungguhnya aku suka ini dan ini… dan aku membenci ini dan ini… apabila engkau melihat kebaikan, maka sebarkanlah dan apabila engkau melihat keburukan, maka tutuplah.'

Istriku bertanya: 'Apakah engkau menyukai kunjungan sanak familiku?'
Aku menjawab: 'Aku tidak suka dibuat bosan oleh mertua dan iparku (yakni ia tidak suka mereka sering mengunjunginya)'

'Siapakah tetangga yang engkau suka masuk ke dalam rumahmu sehingga aku memberinya izin dan siapakah yang tidak engkau sukai?'
Aku menjawab: 'Bani Fulan A adalah orang-orang shalih sedangkan bani Fulan B adalah orang-orang yang buruk.'

Maka aku pun melewati malam yang paling nikmat bersamanya. Satu tahun aku hidup bersamanya tidak pernah aku melihat apa-apa yang tidak aku sukai. Sehingga permulaan pada tahun kedua ketika aku pulang dari kerjaku, ternyata aku dapati ibu mertuaku di rumahku.

Ibu mertuaku bertanya kepadaku: 'Bagaimana pandanganmu tentang istrimu?'
Aku menjawab: “Sebaik-baik istri”

Ia berkata: 'Wahai Abu Umayyah, demi Allah, tidaklah seorang lelaki mendapatkan yang lebih buruk dalam rumahnya daripada wanita yang manja. Bimbing dan didiklah ia menurut kehendakmu.'

“Ia hidup bersamaku selama dua puluh tahun dan aku tidak pernah menghardiknya karena masalah apapun kecuali sekali, dan itupun karena aku yang menzaliminya,” kata lelaki itu memungkasi ceritanya.

Sauadaraku… Betapa bahagia hidup seperti itu. Dan saya tidak tahu, ke mana rasa takjub harus diarahkan; takjub kepada si istri dengan kebijaksanaannya? Atau kepada si mertua dengan tarbiyahnya? Atau kepada si suami dengan hikmahnya?
Wallahu a’lam. []


Penulis : Oktarizal Rais
Alumni Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Solo
Mahasiswa Ma’had ‘Aly An-Nu’aimy Jakarta

1 comment:

Powered by Blogger.