Header Ads

Aksi Bela Islam

Apresiasi Kejujuran Agus Chaerudin, PKS Hadiahi Umrah Sekeluarga


Agus Chaerudin tak pernah menyangka, keinginannya untuk berangkat ke Tanah Suci akhirnya bisa segera terwujud. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menghadiahi Agus Umroh bersama keluarga sebagai apresiasi atas kejujurannya, yang telah mengembalikan uang Rp 100 juta yang ditemukannya di tempat sampah kantor.

Bertempat di kantor DPP PKS Jalan TB Simatupang Jakarta Selatan, Selasa (1/1), Presiden PKS Lufhti Hasan Ishaaq memberikan hadiah umrah kepada Agus Chaerudin dan istrinya.

"Saudara Agus dan isterinya akan kita berangkatkan untuk naik Haji kecil dulu (Umroh) sebagai penghargaan kami atas kejujurannya," kata Lufhti.

Agus menyampaikan terima kasih menerima hadiah yang tak disangka-sangka itu. Ia menjelaskan, kejujuran yang dimilikinya merupakan wujud dari pendidikan dan arahan yang selalu diterima dari orangtuanya.

"Kalau pulang ke Garut, saya selalu mencuci kaki orangtua. Saya katakan, saya belum bisa memenuhi harapan orangtua karena bertahun-tahun hanya menjadi OB," kata Agus.

Mendengar penuturan Agus, Presiden PKS pun tersentuh untuk menambah jatah Umroh bagi keluarga Agus. Ia terlebih dahulu memberikan tawaran kepada Agus untuk mengajak ayah, ibu, atau isterinya ke Tanah Suci. Agus pun memilih mengajak ayahnya. Namun, jawaban yang diberikan Presiden PKS di luar dugaan Agus dan isterinya.

"Kita berangkatkan dua-duanya. Jadi, Agus, isteri, dan kedua orangtuanya kita berangkatkan Umroh," ujar Luthfi.

Agus dan isterinya, Nur Jamilah, langsung mengucapkan syukur. Nur ingin hadiah tersebut menjadi kejutan buat mertuanya.

"Biar mereka lihat dan dengar sendiri dari televisi, biar ada kejutan juga buat mereka," kata Nur.

Selain memberikan hadiah umrah sekeluarga, Presiden PKS juga menobatkan Agus sebagai ikon kejujuran dan melamarnya menjadi calon anggota legislatif (caleg).

"Kejujuran ini bisa menjadi icon warga yang berkarakter," tegas Luthfi.

Agus Chaerudin adalah office boy Bank Syariah Mandiri (BSM) Bekasi. Pada bulan Ramadan, 4 Agustus 2012 lalu, ia menemukan uang pecahan Rp 100 ribu dalam 10 bundel, saat membersihkan tempat sampah di kantornya. Tak berani menyentuh uang itu, Agus kemudian memanggil satpam yang akhirnya melapor staf bank.

Setelah dihitung, uang di tempat sampah itu berjumlah Rp 100 juta. Uang tersebut bukan milik nasabah, tetapi milik bank yang tercecer karena ketidakhati-hatian seorang teller. [IK/Kmp/Dtk/bsb]

No comments

Powered by Blogger.