Header Ads

Aksi Bela Islam

Aku Ingin Menikah, Betulkah..?

Pikiranku tergelitik untuk memerintahkan tangan mengetik sesuatu yang seringkali menjadi bahan obrolan tiap zaman dan selalu diminati, cinta. Tetapi bukan itu, cinta terlalu luas definisi dan cangkupannya. Dalam kesempatan kali ini saya hanya akan melihat dari perspektif pribadi dalam mempersiapkan pernikahan. Lebih tepatnya sebagai bahan muhasabah untuk memperbaiki diri.^_^

Mungkin pernah terbetik dalam hati bahwa pemecah segala persoalan adalah menikah. Ketika tersandung masalah menginginkan partner untuk berbagi secara tulus, ketika bahagia ingin tertawa bersama dengan seseorang yang berarti, ketika dalam kondisi 'jobless' ingin lari dari realita dengan menjadikan pernikahan sebagai kunci keselamatan, ketika melihat teman-teman yang mulai satu persatu berkeluarga menjadikan tertarik pula karena merasa sepi, ketika umur sudah semakin menua berhasil memecut untuk asal menikah, dll. Tentu masih banyak alasan lainnya yang lebih baik dari apa yang dipaparkan.

Apapun alasan atau yang melatarbelakangi hasrat ingin menikah selayaknyalah adalah karena Allah semata. Keinginan beribadah padaNya, mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mulia dan sebagai ikhtiar dalam membangun peradaban Islam. Jangan sampai keinginan kita untuk menikah lebih besar didasari karena ingin mengisi kesepian ataupun melarikan diri dari realita kehidupan (menghindari tantangan).

Jika menikah karena ingin mengisi kesepian maka tak jadi persoalan menikah dengan siapapun. Tak ada lagi penyeleksian calon pasangan, asalkan ada yang tertarik maka disepakati. Bukankah kita dianjurkan untuk memilih dengan mengutamakan keimanan dan akhlak? Kalaupun ada kriteria lainnya silahkan semoga tidak menyusahkan diri sendiri dengan ketinggian kriteria. Bukannya tidak boleh kita menginginkan calon pasangan yang menarik, bangsawan dan sebagainya tetapi agama dan akhlak haruslah sebagai pijakan dasar. Namun tidak pula memberatkan dengan syarat yang dipaksakan ada seperti harus satu suku, pekerjaan mestilah PNS, dsb.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS.49:13)

Akan sangat indah apabila perbedaan yang ada dirajut penuh makna sebagai khazanah kehidupan ini. Kenapa mestilah satu suku dipilih sebagai salah satu syarat menerima calon pasangan padahal tak ada pula jaminan itulah yang terbaik? Bersama Islam, kita dimuliakan dengan ketaqwaan.

Demikian pula, saya sempat tertawa lucu sekaligus prihatin mendengar ada yang menjadikan PNS sebagai syarat dalam menerima calon pasangan. Apakah bumi Allah ini begitu sempit sehingga rezeki yang ditebarkannya hanya berkutat dalam lingkaran pemerintahan? Apakah kita lupa akan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mengatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki itu dari perniagaan (bisnis)? Tanpa maksud hati menyepelekan PNS itu sendiri. Jadi tak perlulah kita membuat kesusahan dengan memberatkan diri sendiri.

Mari kita simak kembali hadits Rasulullah SAW mengenai pemilihan calon pasangan:
“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya dan pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dari shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta/tahtanya mungkin saja harta/tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).

Sama halnya dengan laki-laki, sudah sepatutnya kita muslimah pun memilih karena agama. Kekayaan yang ada padanya tidak menjamin kebahagiaan. Ada banyak yang kaya tetapi tidak bahagia, selalu menggerutu dan nelangsa merasa paling menderita, karena bahagia itu dihati. Hati yang lapang dan meraca berkecukupan. Bukan berarti pula menolak nikmat Allah. Kecantikan akan pudar dengan bertambahnya usia, kita semua akan semakin senja.. Kedudukan hanyalah sementara, hari ini berkuasa besok bisa jadi hilang arah. Segalanya akan fana, tetapi akan sangat berarti apabila kita menjadikan sebabnya adalah Dzat tidak akan fana, Allah ta'ala. Pilihlah Allah sebagai alasan kita saling mencinta agar kelak kembali dipertemukan kembali di taman FirdausNya bersama Rasulullah SAW tercinta..

Oleh karena itu, mari kembali kita koreksi hati agar pernikahan yang ingin diraih menjadikan diri makin dekat pada cinta Illahi. Terus memperbaiki diri tak kenal henti, karena kita mahluk pembelajar dan tak pernah suci.

Jangan biarkan godaan dan hawa nafsu menguasai hati dan pikiran dengan perkara-perkara sepele, teruslah berjuang. Bersabar dalam ketaatan padaNya agar kita pun dipasangkan dengan dia yang Allah jaga dan beri nikmat dalam ketaatannya karena apa yang mendasari itu pula yang akan mempertemukan kita. Semangat!

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (Qs.24: 26)

Wallahua'lam bi shawab...[]


Penulis : Agatha Rizky
Sekretaris PD Salimah OKU Sumsel

No comments

Powered by Blogger.