Header Ads

Aksi Bela Islam

Cermin Hati dari Bumi Ruai Jurai


Lampung. Mungkin bukan kota yang istimewa bagi sebagian pembaca. Ia sebuah bagian kecil dari luasnya bumi Allah Indonesia. Lalu apa istimewanya... hingga ia menjadi topik tulisan saya kali ini.

Jika bisa saya katakan di awal, kota ini menjadi salah satu bukti kebesaran Allah Rabb ‘alamin atas hikmah dalam firmannya: Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (QS. Al-Hujurat 13)

Mengapa demikian? sebagai jawabannya maka izinkanlah saya berkisah. Bermula dari aktivitas seorang muslimah di sebuah jejaring sosial yang mungkin bisa dikatakan cukup “padat” penghuninya di dunia maya. Sebagaimana kebanyakan orang, muslimah ini menjadikan media jejaring sosial tersebut sebagai sarana baginya untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan dunia yang lebih luas. Lewat media tersebut sang muslimah tersebut turut menyadari bahwa kepekaan satra dan jiwa menulisnya tersalurkan. Meski tak jarang pula sebagai manusia muslimah tersebut turut terinfeksi “virus ” negatif dari jejaring sosial yakni curcol (curhat colongan), sebagai mana jiwa-jiwa labil yang merupakan “penghuni ” strata kelas satu dalam dunia maya. Namun, tak bisa dinafikkan bahwa media jejaring sosial di dunia maya membantu seseorang untuk memperluas jaringan pertemanannya . Entah dengan orang-orang baru yang belum pernah dikenal sebelumnya atau bahkan menyambung dan mempererat kembali tali pertemanan yang sempat terputus sebab alasan apapun . Terlebih karena alasan jarak yang memisahkan .

Begitupun yang terjadi muslimah yang satu ini, lewat media tersebut salah satu fragmen kisah hidupnya dimulai. Pada suatu waktu, ada sebuah permintaan pertemanan dari satu akun dengan nama profil S.W.A ***sensored). Seperti biasa sebelum mengkonfirm pasti ia lihat sekilas profil si pengirim. Sejauh yang ia rasakan tak ada alasan untuk mengacuhkannya.

Tanpa terasa lambat laun waktu berlalu si muslimah sadar status-status yang dibuat temannya yang satu ini menggedor ruang bawah sadarnya jika teman yang satu ini tulisan-tulisannya sangat khas, penuh ide-ide semangat dan kental nuansa sastranya. Tak hanya itu temannya begitu banyak bisa jadi sebab “keramahan” yang sering sang teman tunjukkan dengan mengunjungi dengan me-like dan sesekali memberi komentar positif hampir pada setiap teman-temannya di jejaring sosial tersebut tanpa kecuali.

Sejauh waktu terlewat, semua terasa normal. Setiap rangkaian kata yang ditulisnya membawa pembacanya menghirup aura positif dalam memandang hidup dan yang terpenting dari semua kekhasan tulisannya adalah ia hampir selalu menghadirkan eksistensi Allah dalam kata-katanya. Terdengar klise mungkin, tapi faktanya teman-teman di dunia maya merasa nyaman dan tercerahkan. Sebagaimana yang selalu ia sampaikan mengenai visinya dalam menulis, harus ada dakwahnya dan membawa manfaat bagi semua.

Lalu dari semua itu apa istimewanya? Dan lagi, apa hubungannya dengan apa yang telah saya sampaikan di awal. Tentu saja ada. Bagi si muslimah, teman yang satu ini hampir bisa dikatakan membawa angin segar bagi hidup si muslimah di dunia maya. Pasti semua akan mengira, apa sebab interaksi dan kedekatan yang berlebihan yang sebagai mana yang jamak terjadi di dunia maya. Salah besar jika itu yang pembaca fikirkan. Interaksi mereka wajar saja sebagaimana biasa. Sebab keduanya tahu bahwa ada bingkai syariah yang harus ditaati. Tak wajar dan sukar diterima apabila yang terjadi sebaliknya jika keduanya mengaku sebagai anggota kafilah dakwah pengusung kelanjutan risalah anbiya’.

Waktu berlalu. Dan si muslimah baru menyadari jika tanah kelahiran si kawan ini dari sebuah daerah nun jauh di bagian pulau Sumatera. Di Lampung. Kota Bandar Lampung tepatnya. Seiring waktu satu per satu permintaan pertemanan dari banyak akun menghampiri muslimah tersebut. Dan bisa ditebak hampir semuanya dari daerah yang sama. Lampung. Meski, kota asalnya bervariasi namun muaranya sama yakni Bumi Ruai Jurai (*Lampung Pen.). Kini hampir sepertiga dari jumlah teman si muslimah di jejaring sosial dari Provinsi tersebut. Merasa terhubung dengan sebuah daerah yang tak pernah terfikir dalam benak si muslimah.Tak terasa tiba-tiba terbesit tanya dalam benak si muslimah. Ada apa di balik ini. Apa ini sebuah “kesengajaan dan kebetulan” dari Allah. Apa kisah ini berhenti sampai di situ. Tentu saja tidak.

Bilangan waktu pun terlewati kembali. Tulisan-tulisan si kawan tetap meluncur laksana deras hujan. Tapi kali ini mulai terasa tak biasa. Setiap kali tulisan itu muncul dan terbaca. Tulisan si kawan selayaknya cermin yang memantulkan bayangan yang sama dengan kondisi hati, jiwa dan jasad si muslimah. Apa anehnya, hal yang seperti itu lumrah terjadi di dunia nyata apalagi di dunia maya. Lumrah. Mungkin si muslimah akan setuju pendapat itu jika itu terjadi sekali, dua kali atau bahkan jika terjadi lima kali sekalipun. Tapi lebih dari sekedar lumrah jika terjadi berulang-ulang kali dan itupun tanpa ada saling komunikasi yang terjadi di antara keduanya. Tak berlebihan jika si muslimah makin bertanya-tanya. Muncul pertanyaan yang sama apa ini “kesengajaan dan kebetulan”. Maka setiap kali membaca tulisan-tulisan si kawan si muslimah mendongakkkan kepala berharap Robb nya mengirim sebuah isyarat sebagai jawaban atas pertanyaannya.

Tapi rupanya si muslimah tidak sendiri, si kawan yang di ujung seberang merasakan yang hal sama. Kesejiwaan tanpa bertemu. Keduanya sepakat. Itu mungkin sebabnya. Sebagaimana satu hal klasik yang terjadi di film-film. Tapi sebagai jiwa yang diterangi cahaya iman. Keduanya menemukan, Rasul mulia pernah mengatakan. "Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal diantara mereka akan saling berbeda diantara mereka." (HR. Al Bukhari/no. 3336 dan Muslim/no. 2638)

Begitupun yang penulis ternama Salim A fillah mensarikan hadits di atas bahwa ruh itu seperti tentara. Ada sandi di antara mereka. Jika sandi telah dikenali, tak perlu banyak lagi yang diketahui. Cukup itu saja. Mereka akan bersepakat. Mereka adalah sekawan dan sepihak. Mereka akan bergerak untuk satu tujuan yang diyakini. Jadi apakah yang menjadi sandi di antara para ruh? Iman. Tentu saja. Kadar-kadarnya akan menerbitkan gelombang dalam frekuensi yang sama. Jika tak serupa, jika sandinya tak diterima, ia telah berbeda dan sejak awal tak hendak menyatu.

Pasti semua mengira, kedua berjodoh barangkali. Aaiih.. bakal lebih manis dari itu sepertinya akhir kisah ini. Tabir misteri pertanyaan yang menggelayut di benak si muslimah selama ini mulai terkuak. Benarlah…. sepertinya Allah sengaja mempertemukan dan mempertemukan si muslimah dan si kawan dari Bumi Ruai Jurai ini. Sebab lewat perantara si kawan ini mimpi besar si muslimah akan digenapi. Semoga saja berakhir indah sebab kisah ini memang belum sampai pada ujungnya. Sebagaimana kita yakini dan percayai… takdir Ilahi sepenuhnya adalah misteri.

Berbaik sangka saja padaNya dan mendekat sepenuh hati demi mengharap ridhoNya. Tak perlu menutup pintu kesempatan untuk mengenal siapapun. Baik ataupun buruk setiap insan selayaknya cermin bagi saudaranya yang lain yang lewat cermin tersebut kita bisa belajar tentang kehidupan. Tak jarang mereka menjadi pintu perantara datangnya rizki yang telah Allah siapkan untuk kita. Maka kita tak perlu ragu untuk berinteraksi dengan siapapun dengan tetap terbingkai dalam syariat.

Sebagaimana nasehat si kawan bahwa kita tidak pernah tahu kejutan apa yang Allah siapkan bagi kita, yang atas izin si muslimah, tulisan tersebut saya kutipkan.

“Karena yang jauh bagimu.. adalah dekat bagi Allah.. dan yang tak mungkin untukmu.. juga teramat mudah bagi Allah.. maka lukislah impianmu.. dengan sabar dan mencintai sholat”

“Jangan khawatir saat hidup terasa tak bergerak.. khawatirlah jika kita tak bergerak mendekati Allah.. karena Dialah Pemilik semua perubahan. Tidak akan ada yang hilang dari sisi Allah.. tidak juga doa & harapanmu.. tersimpan utuh.. hingga tiba saatnya turun padamu seperti 'hujan' terindah” [Titin Yusuf]

1 comment:

Powered by Blogger.