Header Ads

Aksi Bela Islam

Kenapa Harus Pakaian Syar’i?


Kenapa sih harus pake rok mbak? Kenapa pake jilbabbnya mesti didobelin? Kenapa jilbabnya harus gedhe kayak gitu? Dan kenapa juga harus pake deker dan kaos kaki? Bukankah pakai celana juga gapapa, yang penting ndak ketat, yang penting kan pake jilbab dan sederetan pertanyaan lain yang bernada protes.

Bahkan ibu saya sendiri awalnya sempat protes ketika saya ke depan rumah saja pakai jilbab dan kaos kaki. Ibu hampir malu setiap bepergian sama saya lantaran saya mengenakan kaos kaki. “Kayak orang bubulen aja ke mana-mana pake kaos kaki” kata beliau saat kami hendak berkunjung ke rumah nenek yang agak jauh dari rumah.

Itu belum komentar tetangga saya. Pernah suatu saat saya nyapu halaman rumah. Di depan rumah tetangga saya kebetulan ada dua ibu-ibu yang sedang ngobrol. Sayup-sayup terdengar sebuah perkataan yang membuat tangan saya berhenti untuk menyapu. “Itu tuh lihat mbaknya Emil. Bajunya gedhe-gedhe kayak orang hamil aja” kata salah seorang diantaranya sambil melihat ke arah saya.

Akhwati fillah… mungkin berpakaian seperti kita masih menjadi hal yang “aneh” bagi lingkungan sekitar. Berjilbab rapi, berpakaian longgar, rok, deker dan kaos kaki. Namun semua pertanyaan di atas adalah ujian bagi kita apakah kita akan tetap berpegang teguh pada prinsip berpakaian kita yang kita anggap sudah sesuai syariat ataukah sebaliknya. Dan pernyataan tersebut juga sebagai bentuk ujian dari Allah apakah kita mampu bertahan dianggap asing di negeri sendiri.

Dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 Allah berfirman yan artinya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Kalau dalam cerpen Ketika Mas Gagah Pergi mbak Nadia seorang akhwat yang mulai mengenakan jilbab saat kuliah di Amerika mengungkapkan 8 alasan mengapa dia mengenakan jilbab, maka saya di sini juga ingin mengungkapkan beberapa alasan, mengapa kita mengenakan pakaian seperti sekarang ini.

Yang pertama, berpakaian secara syariat adalah perintah Allah. Sedangkan secara umum syarat pakaian yang sesuai syariat adalah longgar, tidak membentuk lekak-lekuk tubuh, tidak tembus pandang/nerawang, tidak menyerupai laki-laki, menutup seluruh anggota tubuh, dan tidak memakai minyak wangi yang berlebihan sehingga dapat mengundang fitnah bagi mereka yang memakainya.

Yang kedua, kenapa jilbab saya didobelin? Atau kenapa jilbabnya gedhe atau lebih tepatnya menutup dada? Seperti yang saya sebutkan di atas syarat pakaian yang syar’i salah satunya adalah tidak nerawang. Biasanya jilbab yang dijual sekarang ini bahan kainnya tipis, terutama jilbab paris sehingga jika tidak didobelin maka rambut masih akan kelihatan.

Dari Abdullah bin Umar ra, dia menceritakan, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Pada akhir umatku nanti akan ada orang laki-laki yang menaiki pelana, mereka singgah dipintu masjid, yang wanita-wanita mereka berpakaian tetapi (seperti) telanjang, di atas kepala mereka terdapat sesuatu seperti punuk unta yang mirng. Laknat mereka, karena mereka semua terlaknat.” (HR. ibnu Hibban). Dalam hadits tersebut sudah jelas Allah melaknat wanita yang berpakaian tapi telanjang. Karena pakaiannya atau jilbabnya tipis sehingga rambut, atau bentuk tubuhnya masih kelihatan.

Pernah suatu saat saya berdebat dengan salah seorang teman KKN saya, kurang lebih seperti ini,

“Kenapa sih jilbab kamu mesti didobelin bude?”tanyanya saat melihat saya memakai jilbab rangkap dua.
“Biar auratnya ga kelihatan tante” jawab saya.
“Tapi kan jilbab kamu itu ga begitu nerawang bud?”
“Masih kelihatan kok tante. Coba deh tan, kamu amatin jilbab kamu” kata saya sambil memintanya mengamati jilbabnya sendiri. Ia lalu mengamati jilbabnya sendiri di depan kaca.
“Iya juga sih, tapi gapapa kok bud. Ga begitu”
“Jangan gitu tan, sehelai rambutpun yang kelihatan bisa mengundang syahwat laki-laki. Mereka akan membayangkan bagaimana bentuk rambut kita” kata saya memperjelas. Teman saya itu hanya diam. Setelah itu dia hampir tidak pernah protes mengenai jilbab saya lagi.

Selain itu kenapa jilbabnya mesti gedhe atau lebih tepatnya menutup dada? Akhwati fillah, di dalam Qur’an surat An-Nur ayat 31 yang artinya “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya...” dalam ayat tersebut sudah jelas bahwa kita diperintahkan untuk menjulurkan jilbab hingga menutup dada.

Kalau ada yang tanya “apa ndak panas?”. Ya panas itu jelas, apalagi kalau di daerah Gresik dan sekitarnya. Tapi api neraka itu apa ndak lebih panas lagi? Apakah kita ndak takut gara-gara rambut atau bentuk tubuh kita kelihatan, lantas kita mencicipi panasnya api neraka yang panasnya 70 kali lipat dari panasnya api dunia?

Yang ketiga, kenapa mesti pakai rok? Karena syarat berpakaian yang syar’i adalah tidak menyerupai laki-laki. Rasululullah bersabda melalui Ibnu Abbas: Beliau melaknat seorang laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhari). Sedangkan memakai celana, meskipun ndak ketat alias longgar, tetap saja menyerupai laki-laki. Selain itu dengan memakai rok atau gamis akan memperjelas identitas kita sebagai perempuan.

Dan yang terakhir kenapa pake deker dan kaos kaki, karena seperti halnya shalat, aurat seorang wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Asma binti Abu Bakar telah menemui Rasulullah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasulullah “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka memakai deker di lengan adalah sebagai antisipasi baju kita yang longgar kadang tanpa sengaja terbuka ke atas, atau ketika kita banyak aktifitas sehingga memungkinkan tersingkapnya lengan baju kita.

Dan mengapa mengenakan kaos kaki? Karena kaki juga termasuk aurot kita yang harus ditutupi. Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca yahoo.com bahwa salah satu anggota tubuh yang menarik laki-laki adalah kaki. Hayoo, tentu kita ngga mau kalau ada seorang yang bukan muhrim lihat-lihat kaki kita kan? Selain itu dengan adanya kaos kaki, kaki kita akan terlindungi dari sinar matahari dan kotoran. Ingat kaki merupakan salah satu anggota tubuh yang berhubungan langsung dengan tanah. Dengan memakai kaos kaki, maka kita menjaga kesehatan kaki kita. Waallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

5 comments:

  1. Setuju dengan tulisan ukhti....tapi bukankan pakaian laki2 arab (gamis) juga seperti perempuan? Hanya bedanya kalo laki tidak berhijab...jadi yang membedakan pakaiannya atau hijabnya?

    ReplyDelete
  2. iya bener bgt pertanyan2nya pas bgt dengan apa yang saya alaminn..

    ReplyDelete
  3. Gamis seperti yang dipakai laki-laki arab adalah pakaian laki-laki. Panjangnya hanya setengah betis (diatas mata kaki), warnanya putih yang merupakan warna pakaian laki-laki. Tidak selebar pakaian wanita.

    ReplyDelete
  4. Syukron ukhti, Insya Allah saya akan istiqomah..
    Mohon do'a nya

    ReplyDelete
  5. semoga Istri sy diberi taufik hidayah mendapatkan pemahaman mengenai pakaian syar'i dan diberikan kekuatan untuk melaksanakannya seperti anda

    ReplyDelete

Powered by Blogger.