Header Ads

MUI dan Muhammadiyah Masih Punya 5 Video Lagi


Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Musthofa B. Nahrawardaya mengatakan, bisa saja polisi membantah sebuah video yang dimiliki MUI dan Muhammadiyah sebagai bukti kekerasan oknum Densus 88. Namun, MUI dan Muhammadiyah masih memiliki 5 video lain yang bisa dijadikan sebagai alat bukti.

“Biar saja, MUI dan Muhammadiyah masih punya 5 video lain yang bisa dibuka sewaktu-waktu, yang jika dibuka masyarakat bisa terkaget-kaget," kata pemerhati kontra terorisme itu, Kamis (7/3) di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya Jakarta.

Seperti dilansir hidayatullah.com, Musthofa yang juga pengurus Majelis Pustaka & Informasi PP Muhammadiyah hadir dalam pertemuan ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Silaturrahim Ormas Lembaga Islam (SOLI). Ia bersama ormas di SOLI berharap pemerintah dan Polri ada i'tikad baik atas dugaan pelanggaran HAM berat ini.

Ormas-ormas yang tergabung dalam SOLI antara lain Muhammadiyah, Muslimat NU, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Syarikat Islam, PP Matla’ul Anwar, Wanita Islam, Baitul Muslimin Indonesia, Hidayatullah, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia, Ikata Dai Indonesia (IKADI), dan Majelis Dakwah Islamiyah, PP Parmusi, Tabiyah, MIUMI, MUI, Al Irsyad, Dewan Masjid dan BKRMI.

SOLI mendesak pemerintah melakukan evaluasi atau bila perlu membubarkan Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88 atas dugaan pelanggaran Hak Asasi Kemanusian (HAM) berat.

“Tindakan Densus 88 yang dalam banyak kasus telah terbukti melampaui kepatutan, kepantasan, dan batas perikemanusiaan berupa penangkapan, penculikan, penyiksaan, intimidasi, dan pembunuhan, yang sebagian terekam dalam video yang beredar, dan yang telah memakan banyak korban dan menimbulkan kesedihan, luka dan trauma. Demikian telah terjadi pelanggaran berat,” demikian salah satu pernyataan sikap yang dibacakan Dr Marwah Daud Ibrahim, Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesa (ICMI), di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Kamis (7/3) siang.

Dalam pertemuan itu ormas-ormas Islam sempat memutar sebuah tayangan video kekerasan yang diduga dilakukan oknum Densus dan Brimob. Dalam salah satu tayangan, terlihat aparat keamanan meminta korban beristighfar sebelum ditembak mati. Beberapa saat kemudian terdengar serentetan tembakan mengenai beberapa korban.

Sebelumnya, pihak kepolisian membantah sebuah video yang dimiliki MUI dan Muhammadiyah sebagai bukti kekerasan oknum Densus 88. Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Sutarman mengatakan, video tersebut merupakan gabungan video tahun 2007 dan 2012. [IK/Hdy/bsb]
Powered by Blogger.