Header Ads

Aksi Bela Islam

Tarbiyah Sepanjang Masa


Masih ingat di benak saya, waktu itu dalam sebuah syuro setelah awal perekrutan yang dilakukan oleh sebuah organisasi ekstra kampus yang saya ikuti. Sekitar akhir 2008 lalu. Seorang ikhwan mengatakan “Mbak-mbak yang masih pake celana dan yang jilbabnya masih kecil, tolong ya, besuk lagi diubah,” katanya dengan nada agak sinis.

Sontak orang seperti saya langsung kaget. Waktu itu awal saya berproses, dari makhluk aneh yang suka pake celana menjadi manusia yang lebih baik. "Emang mengubah penampilan gampang apa mas bro? Yah kita kan mesti nabung dulu buat beli rok, beli jilbab gedhe, buat kaos kaki, dan deker". celetuk saya pelan. Maklum mahasiswa pas-pasan kayak saya memang kudu ngirit. Ndak ada jatah buat beli pakaian kalau ndak dibeliin sama ibu. He he..

Sejak saat itu, beberapa teman saya langsung pada kabur. Sampai tersisa 20 orang dari jumlah 80 orang. Dan Alhamdulillah saya tidak termasuk yang 60 itu. Saya masih mencoba bertahan walau kadang sindiran datang melayang.

Aah apalah artinya sebuah sindiran yang penting saya nyaman sama mereka. Malaikat tak bersayap itu sebutan saya waktu itu buat mereka para ajege (akhwat jilbab gedhe). Sampai akhirnya saya benar-benar berhijrah dan Allah “menjebloskan” saya ke dalam sebuah pesantren mahasiswa yang d dalamnya para akitivis semua.

Dari situ saya dapat memaknai banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana cara berdakwah.

Ikhwati fillah… dalam hadits Rasulullah memerintahkan dan menganjurkan kita agar senantiasa berlaku lemah lembut. Seperti yang tertera dalam hadits beliau yang artinya: “Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734 dari Anas bin Malik. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 1732 dari Abu Musa dengan lafaz yang artinya: ”Berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari. Mudahkanlah dan janganlah kalian persulit”.

Ikhwati fillah... tarbiyah adalah sebuah proses panjang yang tiada akhir. Kalau dalam bahasanya ustadz Sholihun “tarbiyah sepanjang masa”. Tarbiyah bukan mie instan yang siap saji dalam beberapa menit. Oleh karenanya bersikap lemah lembut dan bersabar terhadap saudara kita kita yang sedang berproses adalah sebuah keniscayaan bagi kita.

Kalau dalam hadits di atas, Rasulullah menitahkan untuk memudahkan. Artinya memudahkan saudara kita untuk berproses menjadi lebih baik. Kalau dia kesulitan dalam belajar (agama) kita bantu menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami. Kalau dia butuh jilbab maka kita bantu dengan semampu kita (minimal mencarikan bantuan kepada teman, hehe). Bukan mempersulit dengan memberikan kata-kata “tegas” yang ujungnya membuat saudara kita lari dari kebaikan dan malah menjauh dari dakwah.

Kita berikan pendekatan kepadanya dengan menjelaskan keutamaan-keutamaan memakai jilbab, bahaya-bahaya jikalau aurat kita sampai terlihat lantaran jilbabnya tipis, dan bagaimana Allah mengangkat derajat wanita dengan memerintahkan memakai jilbab dan pakaian yang sudah disyariatkannya. Dan yang tak kalah penting adalah kita buat dia senyaman mungkin dalam jalan dakwah ini dengan memberikan pendekatan yang halus, lembut, dan kehangatan ukhuwah.

Dengan begini insya Allah dia akan merasa nyaman dengan dakwah kita. Dan perlahan perubahan itu akan terjadi. Nggak peduli, mungkin sekarang dia masih suka pakai jeans, jilbab gaul. Insya Allah perlahan dia akan berubah seiring dengan kematangan pemahaman tarbiyahnya.

Wallahu a'lam bish-shawab. [Ukhtu Emil]

1 comment:

  1. subhanaallah
    cara untuk berdakwahnya sangat menyentuh...insaalah bisa di praktekan....

    ReplyDelete

Powered by Blogger.