Penentuan 1 Ramadhan, NU – Muhammadiyah Berjuang Agar Serentak


Umat Islam terus mendambakan kebersamaan memulai puasa Ramadhan. Penentuan 1 Ramadhan yang serentak antara ormas-ormas Islam menjadi hal yang sangat diharapkan. Menanggapi hal itu, dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah terus berupaya mencapai kompromi agar penentuan awal bulan Islam, termasuk 1 Ramadhan, menjadi kesepakatan bersama.

"Kita berjuang keras agar tercapai kompromi (dengan NU)", Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Syamsul Anwar.

Kendala belum adanya sistem waktu Islam, menurut Syamsul, menjadikan kesepakatan penentuan awal bulan masih belum berhasil.

"Tapi persoalannya bukan hanya kompromi. Persoalannya adalah umat Islamtidak mempunyai sistem waktu Islam sehingga Hari Raya tidak bisa dirayakan secara serentak," lanjut Syamsul.

NU juga mengharapkan hal yang sama agar kebersamaan seluruh umat Islam di Indonesia dalam memulai Ramadhan bisa tercapai.

Sekretaris Lajnah Falakiyah NU Nahari Muhlis menjelaskan bahwa NU juga memiliki kesamaan dengan Muhammadiyah, yakni menggunakan hisab (perhitungan). Hanya saja, NU memverifikasi benar tidaknya hitungan itu dengan cara melihat (rukyat).

"Kami juga melakukan hisab (perhitungan) dulu, lalu kita verifikasi benar tidaknya hitungan itu dengan cara melihat (rukyat). Kalau belum terlihat betul, kami belum menjatuhkan tanggal," kata Nahari dikutip dari Republika, Kamis (16/5).

Ia berpendapat, metode yang digunakan Muhammadiyah berhenti di wujudul hilal. Wujudul hilal adalah posisi bulan berada di atas 0 derajat.

Sedangkan berdasarkan kesepakatan di kawasan Asia, tinggi hilal adalah 2 derajat. Maka, kemungkinan bulan sudah bisa terlihat. Perbedaan kriteria inilah yang menyebabkan perbedaan penentuan awal Ramadhan atau Idul Fitri.

"Jika angka hilal itu dinaikkan menjadi 2 derajat, mungkin bisa terjadi kompromi," imbuh Nahari. [IK/Rpb/bsb]
Powered by Blogger.