Header Ads

Aksi Bela Islam

Ramadhan, Bulan Kesabaran dan Solidaritas

Diantara sebutan bulan Ramadhan adalah Syahr Ash-Shabr dan Syahr Al-Muwasah. Syahrul shabr bermakna bulan penempaan kesabaran atau melaksanakan perintah ibadah puasa itu sendiri adalah bukti kesabaran, karena menurut ulama ruang lingkup kesabaran itu beragam. Diantaranya; sabar dalam menjalankan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga ajal menjemput, sabar dalam menghadapi musibah atau situasi yang tidak diharapkan dan lain-lain.

Menjelang bulan kesabaran ini pemerintah membuat sebuah kebijakan yang tidak diharapkan rakyat -setidaknya begitu menurut hasil survei- yakni menaikkan harga BBM dari Rp 4.500/liter menjadi Rp6.500/liter. Akibatnya, harga kebutuhan pokok merangkak naik, biaya transportasi juga demikian, daya beli masyarakat jadi terpukul, singkatnya biaya hidup semakin mahal, apalagi bagi mereka yang masih sulit meningkatkan pendapatannya. Semestinya kenaikkan harga BBM bukanlah solusi kalau pemerintah mampu meningkatkan kinerja. Seperti disampaikan para pakar, kinerja pemerintah di sektor migas sangat lemah, 85 % aset migas dikuasai swasta baik swasta asing maupun dalam negeri. Tapi ya.. sudahlah bersabar saja, karena bersabar dalam kondisi pahit itu bisa menjadi obat sambil juga berupaya berbuat untuk melahirkan pemerintah yang lebih baik. Kuatkan kesabaran dengan syahru shabr ini, karena sabar inti pertahanan hidup.

Selanjutnya Syahr Al-Musawah, bermakna bulan solidaritas. Di bulan Ramadhan sangat kental dengan nilai kebersamaan ditandai dengan puasa dimulai diawal yang sama yaitu terbit fajar, dan diakhiri saat yang sama pula yaitu saat terbenamnya matahari. Ditambah lagi di bulan ini juga diwajibkan membayar zakat firah. Artinya kebersamaan atau solidaritas juga ditunjukkan dengan kepedulian nyata utuk berbagi dengan sesama. Ini jugalah yang semestinya menjelma dalam seluruh denyut kehidupan sosial. Efek kenaikkan BBM akan menyisakan mereka yang “pas-pasan” saat bersahur atau bahkan sulit sama sekali, begitu juga saat berbuka karena harga-harga tak terjangkau.Dalam konsep solidaritas/ukhwah Islamiyah diajarkan kepada setiap muslim agar memastikan jangan sampai saat ia kekenyangan sementara tetangganya kelaparan.

Maka dapat dipahami, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merekomendasikan salah satu amal utama di bulan solidaritas ini adalah memberi makan untuk mereka yang berbuka puasa.

“Siapa memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa, ia mendapat pahala seperti pahalanya, tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu”, demikian titah Baginda yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Cinta Rasul? Mari Amalkan! Wallahu’alam []


Penulis : Tamarudin, S.Pd.I
Ketua PD. IKatan Dai Indonesia (Ikadi) Kabupaten Kampar

No comments

Powered by Blogger.