Header Ads

Aksi Bela Islam

Resonansi Cinta Ibu

“Ana heran” ucap si sahabat tiba- tiba, kala Gadis bercerita tentang kisah cintanya. “Ana bertanya-tanya apa yang membuat anti jatuh hati dengan lelaki itu…? Sebab sejauh yang ana tahu tak banyak kriteria impian anti yang melekat pada lelaki itu.. ” lanjut si sahabat lebih jauh.
“Ibunya…” jawab Gadis tanpa ragu. “Sosok penyayang itulah yang membuatku jatuh hati pada anaknya… sebab aku ingin merasakan kasih yang sama dari beliau…” lanjut Gadis mengurai harapan.

Ibu. Sosok yang hampir selalu dilukiskan indah oleh sejarah. Tak terhitung banyaknya kisah yang menceritakan tentang istimewanya seorang ibu. Sosok ibu sering digambarkan sebagai pecinta sejati. Cintanya abadi sepanjang waktu. Sejak sang anak belum berbentuk dan terlihat rupa wajahnya, ibu sudah menyambutnya dengan bahagia. Beliau mengelus mesra perutnya dan mengajak si bayi bercengkrama. Begitupun saat si kecil terlahir ke dunia beliau merawat dan membesarkan dengan penuh cinta. Menggendong si anak berjam-jam, sering terbangun di tengah malam, dan mata yang jarang bisa terpejam saat si kecil rewel dan sakit adalah rutinitas yang hampir semua ibu pernah mengalaminya.

Begitu waktu berlalu. Si kecil pun tumbuh dan beranjak dewasa. Dan cinta ibu tetap tak berubah. Beliau masih memiliki kasih yang melimpah. Saat buah hati dirundung masalah bisa jadi beliau tempat curhat yang pertama. Tak pandang apapun masalahnya. Masalah kuliah, ketidaknyamanan di tempat kerja atau pun yang lainnya. Bahkan mungkin saat sang anak mulai merasa menemukan jodohnya. Beliau seringkali menghadirkan solusi di sela-sela nasihat bijaknya. Tak jarang dalam bentuk omelan panjangnya atau unwanted-phonecall saat sang anak tak kunjung pulang sedang hari sudah menjelang malam, itu semua gambaran kasih sayang beliau. Yang mungkin tak selalu berbalas tanggapan yang sama indahnya dari sang anak. Tak sedikit anak yang menganggapnya “ gangguan “. Tapi percayalah… suatu saat itu akan jadi gangguan yang begitu dirindukan.

Atas semua jasa dan limpahan cintanya, benarlah jika Sang Nabi mengajarkan pada kita, bahwa beliaulah seutama-utama wanita yang mesti kita dahulukan urusannya.

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam “Suaminya.”
”Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, “Ibunya.”

Begitupun dalam Riwayat yang lain dikisahkan

Abu Hurairah radhiallahu 'anh berkata: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik-baiknya?” Rasulullah menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ayahmu.” (Shahih Bukhari – hadis no: 5971)

Begitupun Allah memerintahkan dalam Firman Nya

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Kulah kembalimu.“ (QS. Luqman: 14)

Beruntunglah jika sampai saat ini masih bisa merasakan hangat kasih sayang seorang ibu. Beruntunglah jika masih mendapati omelan-omelan cinta saat terlambat pulang, terlambat makan, atau terlambat bangun di waktu Subuh. Sekali lagi percayalah… itu sebuah keberuntungan. Sebab tak semua anak seberuntung itu. Sebab tak sedikit anak yang merindukan omelan-omelan dan gangguan- gangguan itu. Bisa jadi banyak sebabnya. Tak ber-Ibu semenjak kecil atau terpisah dari ibu dikarenakan musibah, perceraian, adopsi atau bahkan sebab terenggut maut. Bagi anak- anak dengan kondisi seperti itu omelan cinta dan gangguan itu adalah hadiah yang begitu ditunggu dan dirindu.

Maka syukur Alhamdulillah jika saat ini Allah masih menganugrahkan pada kita waktu bersama beliau. Nikmati waktu yang ada dengan benar- benar berbakti dan berbuat baik pada beliau. Sebuah kesempatan berbuah syurga jika bisa merawat dan mendampingi beliau dengan penuh kesabaran hingga akhir hayatnya. Sebab, bisa jadi “ keindahan jiwa” beliaulah yang telah mengundang dan menerbitkan cinta seseorang yang “akan” atau yang “telah” menjadi pasangan hidup kita. Sebagaimana kisah Gadis di atas… itu fakta bukan fiksi. Beruntunglah… yang masih merasakan cinta Ibu… hingga kini. Berbahagialah… dan berbaktilah…[Kembang Pelangi]
*) Dan aku pun beruntung memilikinya… dengan bangga kusebut ia Murabbiyahku… dan… itulah… Ibuku

No comments

Powered by Blogger.