Header Ads

Aksi Bela Islam

Ekonomi Kita-kita

Ekonomi Kita-kita
Judul : Ekonomi Kita-kita
Penulis : Muhaimin Iqbal
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : I ; Mei 2013
Tebal : 115 Halaman
ISBN : 978-602-7820-06-7

Semangat kaum muslimin dalam beribadah –sebagai manifestasi penghambaan kepada Allah- selayaknya tidak berhenti pada ibadah ritual semata. Apalagi ketika menilik lebih jauh tentang tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Bahwa memakmurkan bumi dengan amal shalih untuk kepentingan seluruh umat manusia adalah bagian tak terpisahkan dari proses penghambaan diri itu.

Oleh karena tugas memakmurkan bumi itu, maka salah satu lahan dakwah yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh penguasaannya adalah masalah ekonomi. Hal ini teramat penting, mengingat ekonomi kita saat ini, tidak dikuasai oleh kaum muslimin. Padahal, jumlah kaum muslimin, baik di negeri ini maupun di dunia secara umum, adalah mayoritas.

Kita mungkin saja ingat, ketika Rasulullah pertama kali pergi hijrah ke Madinah, hal pertama yang Rasul dirikan setelah masjid adalah pasar. Jika mendirikan masjid dianggap sebagai sunnah dan banyak diteladani oleh kaum muslimin dimanapun mereka berada, tidak demikian dengan mendirikan pasar. Bahkan, bagi sebagian kaum muslimin, pasar masih menjadi barang tabu yang tidak layak didatangi oleh ‘orang-orang suci’ yang sibuk di masjid. Padahal, jika melihat sejarah awal hijrah, ketika mendirikan masjid menjadi sunnah nabi, maka mendirikan pasar juga berkedudukan demikian. Tentu, pasar harus didirikan, dikelola dan dikembangkan dengan semangat kenabian pula.

Dalam tahap ini, perlu adanya kajian mendalam tentang konsep Pasar Madinah yang didirikan Rasulullah dan semangat pantang menyerah untuk mendirikannya di negeri kaum muslimin dimanapun mereka berada. Sehingga, perlu diadakan penyadaran kepada kaum muslimin, bahwa pasar –dalam hal tertentu- tak beda dengan masjid. Harus dimasuki oleh kaum muslimin agar nilai-nilai Islam terejawantah di sana dengan baik.

Lantas, apakah ketika kaum muslimin sudah mendirikan pasar sesuai dengan konsep Pasar Madinah, maka masalah ekonomi umat Islam sudah terselesaikan? Ternyata mendirikan pasar, hanya langkah pertama untuk mewujudkan ekonomi berkeadilan berdasarkan semangat meneladani sang Nabi junjungan.

Setelah kaum muslimin memiliki pasar sendiri, masalah berikutnya ada pada ketersediaan komoditi yang akan dijual di pasar tersebut. Sudah menjadi lumrah, hampir semua komoditi, baik yang alami maupun buatan, semuanya belum dikuasai oleh kaum muslimin. Bahkan, sebagai negara agraris, kita dibuat miris dengan melambung tingginya komoditi pertanian, impor membabi-buta hingga belum sejahteranya petani-petani kita. Ini semcam tamsil, jika diibaratkan tikus, maka rakyat Indonesia mati di dalam lumbung padi. Beginilah adanya.

Sehingga, tahap berikutnya, kaum Muslimin harus terjun ke dalam sektor riil perekonomian. Mulai dari pertanian, peternakan, pertambangan dan seterusnya. Proses ini harus berlaku secara berkelanjutan agar ketahanan pangan kaum Muslimin dan dunia menjadi sesuatu nyata yang sangat mungkin untuk kita nikmati hingga anak cucu.

Proses ini, bukan isapan jempol, bukan pula kerja instan. Proses dan prosedur panjang harus dilalui. Mulai dari ketersediaan lahan, tenaga professional, konsep yang matang, modal yang tidak sedikit, dan banyak hal lainnya.

Sebelum itu semua, niat yang benar harus ditanamkan. Karena bukan sekedar penguasaan ekonomi yang diniatkan. Tetapi lebih dari itu, semua dikerjakan dengan niat beribadah kepada Allah.

Benarnya niat ini yang akan berujung pada penyandaran diri yang sangat kuat kepada Allah. Sehingga, ketika misalnya kaum Muslimin belum punya lahan, maka dia akan berdoa kepada Allah. Bukankah Allah penguasa semua lahan di dunia ini? Jika kemudian terkendala dengan modal, mereka akan meminta modal kepada Sang Pencipta. Bukankah Allah Maha Kaya? Bukankah Dia bisa memberikan sebanyak-banyaknya modal kepada seseorang jika Dia berkehendak?

Semangat inilah yang membuat kaum Muslimin selalu optimis. Meski sumber daya mereka terbatas. Tapi karena mereka merasa memiliki Allah Yang Tiada Batas, maka mereka terus bergerak dan belajar menyempurnakan diri dan karya.

Akhirnya, kaum muslimin dituntut untuk mengatasi kemiskinan yang setidaknya memiliki berbagai macam bahaya. Meliputi: kekufuran, buruknya karakter (mudah berbohong ketika mereka berhutang ), eksploitasi pemikirian oleh si kaya terhadap si miskin, dan mudahnya orang miskin terprovokasi isu negatif. Guna mengatasi kemiskinan tersebut, kaum muslimin dibekali dengan tujuh senjata. Yaitu, bekerja, tanggung jawab terhadap kerabat dekat, zakat, tanggung jawab para pemimpin, pemenuhan tanggung jawab tertentu (terhadap orang miskin, yatim, dan lain-lain), pelaksanaan ibadah tertentu (Qurban, Fidyah, dll.) dan sedekah. (hal 105-112). []


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Tertarik beli buku Ekonomi Kita-kita ini?
silahkan hubungi 085773291640

No comments

Powered by Blogger.