Header Ads

Aksi Bela Islam

Akhlak Qur’ani

Ilustrasi masjid Mesir (foto blogkmp.net)
Suatu sore, seorang pemuda Indonesia yang tengah berlibur dari aktifitas kuliahnya bergegas menuju sebuah masjid. Ia tak ingin tertinggal shalat jama’ah. Selepas shalat, ia berbincang ringan dengan pengurus masjid itu, diungkapkan keinginannya untuk bisa mengisi waktu luang dengan menuntut ilmu ke-Islam-an yang kelak akan menjadi bekalnya berdakwah di tanah air. Pengurus masjid itu kemudian memperkenalkannya dengan seseorang yang juga adalah aktifis dakwah. Usai perkenalan, mereka sepakat untuk datang ke sebuah desa yang insyaAllah kondusif untuk belajar.

Dalam perjalanan dengan mobil mereka berhenti untuk sekedar membeli minum dan beberapa ikan ukuran besar yang nanti akan dimasak untuk makan malam. Pemuda Indonesia itu mengangsurkan beberapa lembar uang pada penjualnya, tapi sang penjual menggeleng, tersenyum sambil memandang sang aktifis “Biarkan kami memuliakan tamu yang hendak datang untuk menunut ilmu.” Pemuda itu tersenyum, ia masih sungkan menerima begitu banyak belanjaan tanpa membayarnya sepeser pun.

Perjalanan kembali berlanjut, ia masih heran tapi diliputi kekaguman. Sampai di desa yang dimaksud, sang aktifis memperlihatkan beberapa tempat usaha penduduk sekitar; pabrik tenun, bengkel, industri makanan dan lainnya, kemudian mereka beristirahat di sebuah rumah. Seseorang dengan segera memberinya pakaian bersih, dan ia kemudian membawa pergi pakaian kotor milik sang pemuda.

Tak berapa lama makan malam telah siap, pemuda Indonesia itu keluar kamar dan mendapati belasan orang telah duduk melingkar menyambutnya. Ia kemudian duduk. Di hadapannya sebuah piring dengan potongan ikan telah tersaji. Ia meraih piring itu dan seseorang di sebelahnya dengan cepat mengambil priringnya, menggantinya dengan piring lain berisi potongan ikan yang telah dibersihkan duri-durinya, kemudian beberapa orang mendekatinya, mereka hendak menyuapi pemuda itu, ia canggung sekali sampai kemudian mereka berkata “Kami melakukan ini untuk memuliakan tamu kami.”. MaasyaAllaah...

Subuh datang, pakaian kotornya telah bersih dan wangi, terlipat rapi di sebelah ranjangnya, rasa herannya kian bertumpuk. Ia bersiap dan kemudian menuju masjid yang telah penuh sesak oleh para laki-laki yang hendak shalat dan mengikuti kajian hingga Isya’ nanti .

Kajian pertama hingga jelang dzuhur itu penuh kebahagiaan, sang ustadz dengan sangat piawai menceritakan segala keindahan surga, sangat detail sehingga jama’ah seakan bisa melihat dan merasakannya, lengkung-lengkung senyum tergambar jelas, semangat mereka terpancar dihiasi optimisme untuk meraihnya.

Setelah shalat, kajian itu berlanjut, haru, banyak tangis tersedu hingga yang mengguncang bahu, hingga isaknya terdengar sangat memilukan, dari kejauhan mereka seakan kawanan lebah yang terganggu, berdengung menakutkan, kali itu, neraka dengan segala azabnya digambarkan begitu nyata, membuat mereka seakan tengah digiring masuk kedalamnya. Hari itu berakhir dengan uraian air mata yang tak kering hingga menjelang Subuh, para lelaki melanjutkan ‘itikaf sambil membaca Al-Quran.

Esok paginya, 22 pemuda terbagi menjadi dua kelompok, mereka akan berolah raga sambil bermain bola. Pemuda Indonesia pun turut serta. Beberapa menit permainan dimulai, pemuda Indonesia itu berhasil membobol gawang lawan, ekspresi kemenangannya urung ia perlihatkan karena sedetik kemudian setelah ia mencetak gol, lawan-lawannya berhamburan, memeluk tiap anggota tim pemenang sambil meneriakkan takbir berkali-kali. Mereka bahagia sekali ‘saudaranya’ unggul. Berkali-kali saat bola masuk gawang mereka melakukan hal yang sama : memeluk para pemenang dan meneriakkan takbir dengan senyum yang bahagia. Aneh.

Hingga masa liburnya berakhir, tak ada lagi tumpukan rasa heran, yang ada hanyalah kekaguman atas akhlak yang luar biasa indah dari penduduk desa yang menerimanya sebagai thalib al-ilmi, pelajaran amat berharga yang jauh lebih menghujam dibanding sekedar teori.

Pemuda Indonesia itu kini tahu, bahwa selama ini dia berada di desa yang memiliki budaya mengamalkan Al-Quran yang mayoritas penduduknya adalah hafidz, bahkan pabrik-pabrik dan bengkel yang kemarin ia lihat ternyata dinamai dari kosakata Al-Quran. Subhanallaah...

~Mengenang ukhuwah ayah di Negeri Kinanah~

Penulis : Lilih Ilmia
Bandung, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

1 comment:

  1. ndak ngerti maksud cerita diatas apa ya?

    ReplyDelete

Powered by Blogger.