Header Ads

Aksi Bela Islam

Aku dan Tinta Elektronik yang Mendunia

Pena (foto indhie.com)
Aku adalah seorang laki-laki yang terlahir dengan nama Windi Nugraha Fadillah. Teman-temanku sering memanggilku Windi.Badanku kurus dan rambutku lurus, mirip seperti rambut ibuku. Aku tidak mempunyai background Rohis seperti beberapa temanku ketika semasa SMK. Ketika masih mengenakan seragam putih abu, darah mudaku seakan mulai memanas seperti setrika listrik yang semakin lama semakin naik tingkat derajat suhunya.

Gejolak darah muda yang masih belum bisa dikendalikan membuatku menjadi orang yang pernah terjebak dengan dunia “pacaran”, meski aku membatasi diri dengannya.Ketika semasa sekolah, aku bukanlah seorang muslim yang baik, pemikiran hedonisme masih memengaruhi pikiran bawah sadarku. Seperti mikroprosesor yang sudah terprogram sehingga mengendalikan pikiran hedonisme secara otomatis di dalam diriku. Aku mempunyai prinsip, “lebih baik disakiti daripada membuat sakit hati orang lain”. Kata-kata itu masih kupegang sampai sekarang. Singkat cerita aku menjalin kedekatan dengan seorang perempuan. Aku jarang menyakiti perempuan. Namun kali ini, karena kebodohanku, aku menyakiti seorang perempuan yang sangat baik padaku. Sifat melankolisku membuat aku menjadi seperti orang yang paling berdosa di dunia ini. Entah mengapa kali itu aku merasa bahwa aku ini begitu bodoh, jahat, egois dan kejam terhadap perempuan.

Hampir setiap hari aku menangis, bersedih, dan merenungi kesalahanku. Pikiranku kacau, nafsu makanku berkurang, dadaku sesak, bahkan semangat untuk menjalani kehidupan hampir tidak ada. Hal ini berjalan beberapa pekan lamanya. Memang terlihat lebay jika diceritakan, tapi ini adalah hal yang kurasakan saat itu. Ketika itu juga, aku segera meminta maaf kepada orang-orang yang pernah dekat denganku, terutama perempuan yang kusakiti itu.

Kalimat-kalimat istighfar sering kulantunkan di kala aku teringat kesalahanku itu; menyakiti orang lain yang sangat baik padaku. Aku berada di dalam kesedihan yang cukup lama dan mendalam.Relung hatiku mengetuk dan berkata kepadaku, “saatnya kamu kembali kepada Tuhanmu”. Ketika aku tersadar, aku mengazamkan diri untuk menghindar dari perempuan dan tidak akan kembali lagi kepada dunia “pacaran” yang telah kulakukan dahulu.Aku takut kesalahan yang sama terulang kembali. Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah karena Dia telah memberiku jalan untuk kembali kepada-Nya.

Aku mulai mencari Allah, mencari siapa aku sebenarnya dan apa tujuan aku untuk hidup di dunia ini. Aku mulai memperbaiki amalanku, berharap dosa-dosaku akan terhapus dengan kebaikan yang aku lakukan. Ketika aku menjadi mahasiswa, Allah mempermudah diriku untuk mencari-Nya. Aku mulai sering membaca buku tentang-Nya dan agama-Nya, juga menghadiri kajian-kajian keislaman sehingga aku merasa dekat dengan-Nya, meski diriku penuh dengan debu-debu dosa di masa lalu. Beberapa lama kemudian, aku merasa apa yang aku dapat dari pemahaman Islam ini harus disampaikan dengan harapan orang lain akan tercerahkan seperti diriku. Aku mengazamkan diri untuk menjadi “aktor” pergerakan Islam karenanya.

Singkat cerita, aku mengikuti bimbingan kader dakwah di kampus. Aku membutuhkannya, aku membutuhkan pemahaman Islam yang benar dari sana. Dari bimbingan ini, aku masuk ke organisasi keislaman, berharap bisa berdakwah melalui organisasi ini. Namun, dalam berdakwah aku kurang mahir dalam menyampaikan secara lisan. Akhirnya, aku putuskan untuk berdakwah melalui tulisan. Dari keputusan itu, maka lahirlah blog dakwah UmatMuhammad.com sebagai mediaku untuk menegakkan kalimat-kalimat Allah. Aku memilih menulis di dunia maya agar tulisan dakwah yang aku sampaikan dibaca oleh orang banyak dari seluruh penjuru dunia dengan sekali klik.

Fadil Ibnu Ahmad menjadi nama penaku ketika aku mulai menjadi penulis di dunia maya. Aku suka nama “Fadil” yang merupakan bagian dari nama belakangku; Fadillah. Ahmad adalah nama ayahku. Nama pena Bahasa Arab ini kurang lebih artinya “Fadil anak Ahmad”. Kurasa, Fadil Ibnu Ahmad adalah nama pena yang bagus dan aku suka.

Pada awalnya, memang berat untuk menulis untuk dakwah. Aku mendapat cacian dari orang yang mungkin tidak suka dengan tulisanku dakwahku. Dari cacian itu, semangatku mulai menurun. Akan tetapi, ada kakak tingkatku yang memberiku nasihat sehingga semangatku kembali membara lagi. Aku berazam untuk menulis dakwah setiap pekan satu kali, dan dengan rahmat Allah dakwah yang kulakukan ini cukup efektif. Setelah kebiasaan menulis dakwah ini kulakukan, aku menjadi menyukainya, bahkan mencintainya.

Mabuk. Ya, aku dimabuk cinta oleh dakwah. Karena dakwah adalah cinta. Mengajak kembali ke jalan Allah dengan cinta. Menulis dengan cinta, berharap mendapatkan cinta-Nya yang unlimited. Menulis dengan cinta, berharap orang-orang tersentuh hatinya dan kembali kepada-Nya dengan cinta pula. Tidak terasa telah dua puluh dua bulan aku bergelut dengan dunia menulis dakwah.Tayangan blog dakwahku semakin bertambah setiap harinya. Aku senang mengetahuinya karena tulisan dakwahku dibaca banyak orang. Aku harap, semakin banyak yang membaca, semakin banyak orang yang tercerahkan.

Aku dan tinta elektronik yang mendunia. Meski tidak berada di dunia nyata, tetapi efeknya luar biasa. Aku senang berada di jalan dakwah ini. Meski berat dan banyak rintangan, tapi hasil akhrinya akan manis. Rintangan inilah yang menjadi pemanis di jalan dakwah ini. Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkanku ke jalan dakwah ini. Jika bukan karena rahmat-Nya, tentu aku menjadi orang yang merugi.[]

Penulis : Windi Nugraha Fadillah
Bandung, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

4 comments:

Powered by Blogger.