Header Ads

Aksi Bela Islam

Berdakwah Ala Walisongo

Walisongo - ilustrasi
Aku akui ustadzku yang satu ini berbeda dengan yang lainnya. Semangat dakwahnya luar biasa meskipun bukan keturunan seorang ulama. Bukan hanya mimbar dan majlis taklim yang menjadi obyeknya dalam berdakwah, namun lebih dari pada itu. Warung kopi juga menjadi salah satu incarannya. Ustadz Rohmat memanfaatkan warung kopi sebagai media dakwah sebab di situ banyak orang-orang berkumpul untuk menghabiskan waktunya hanya dengan ngobrol-ngobrol yang tidak ada manfaatnya dalam Islam. Ia menyelipkan ajaran Islam di warung kopi kepada teman-temannya tanpa harus menyinggung perasaannya. Ia mengenalkan Islam kepada khalayak tidak hanya dengan normative approach (pendekatan normatif), namun juga dengan dialectical approach (pendekatan dialektis) sehingga akan lebih mengena sasaran.

Sasaran dakwah Ustadz Rohmat bukan hanya orang kaya dan yang mempunyai pangkat, namun orang miskin juga menjadi perhatiannya. Bahkan mendapatkan prioritas lebih. Suatu ketika, ada pengemis yang mengemis di rumahnya. Pengemis ini pakaiannya bau dan kumuh. Oleh Ustadz Rohmat, pengemis itu diberinya pakaian yang layak. Sedangkan pakaiannya yang tadi, Ustadz Rohmat menyuruh istrinya untuk menyucikannya hingga bersih dan disetrikakan dengan rapi. Pengemis itu merasa bahagia ternyata masih ada orang di dunia ini yang perhatian dengannya.

Ustadz Rohmat gemar sekali membantu fakir-miskin meskipun dirinya sendiri adalah orang yang miskin sebab ia tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Ketika mengajar ia tidak mau menerima bayaran. Kalau dipaksa untuk menerima bayaran, ia mengancam tidak mau mengajar di tempat tersebut. Ia berusaha untuk ikhlas mengajarkan ilmu Allah. Baginya, masalah rezeki adalah urusan Allah. Selagi hamba Allah mau menolong agama_Nya, maka urusan rezekinya akan dijamin oleh-Nya.

Ada cerita menarik yang membuat orang di daerahku kagum dengan Ustadz Rohmat. Yaitu, adat masalah menyumbang jika ada orang sedang mempunyai hajatan acara mantenan (pernikahan) atau sunatan (khitanan). Jika yang mempunyai acara adalah orang yang kaya, maka Ustadz Rohmat menyumbangnya biasa-biasa saja. Sedangkan jika yang mempunyai hajat adalah orang yang miskin, maka Ustadz Rohmat menyumbangkannya bisa dikatakan melebihi orang yang kaya. Padahal tradisi yang berlaku di daerahku itu sebaliknya. Orang miskin kurang mendapat perhatian dari orang yang kaya ketika mereka mempunyai acara hajatan.

Ustadz Rohmat sangat memperhatikan tetangganya yang tidak punya. Terlebih janda-janda yang sudah lanjut usia. Sering sekali ia menyuruh istrinya untuk mengurangi jatah uang belanjanya sebab ada tetangganya yang kurang mampu. Ia berbagi dengan penuh keikhlasan. Ia juga sering menyuruh istrinya menyapukan halaman janda-janda lanjut usia tersebut sebab mereka sudah tidak sekuat seperti ketika masih muda.

Melihat metode dakwah Ustadz Rohmat ini, aku teringat dengan dakwah Walisongo yang pernah menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Mereka mampu merangkul semua lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial. Antara fiqh legal formal (fiqhul ahkam) dan guidance and counseling (fiqhul dakwah) diimplementasikan sesuai dengan obyeknya. Dengan penyampaiannya yang al-Mau’idatul hasanati, yakni ungkapan-ungkapan yang mengandung bimbingan, pengasuhan, pendidikan dan keteladan, penduduk pribumi dengan mudah menerima ajaran Islam tanpa adanya unsur paksaan. Sehingga, dengan jasanya Walisongo, agama Islam menjadi mayoritas di nusantara.

Semoga Allah memberi panjang umur kepada Ustadz Rohmat untuk kemanfaatan umat Islam, terlebih yang ada di daerah Pati, Jawa Tengah. Amiin.[]

Penulis : Amirul Ulum
Pati, Jawa Tengah

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.