Header Ads

Aksi Bela Islam

Bukti Cintaku

Kelas lenggang. Guru pelajaran kimia saat itu tidak masuk. Anak-anak ribut. Kontak, aku sebagai ketua kelas berusaha mengendalikan kelas. Sulit, tapi aku yakin bisa. Aku berdiri di depan kelas mencoba menenangkan mereka. Kuberikan penjelasan, betapa kita harus memanfaatkan waktu yang ada. Saat guru tidak ada, bukan berarti tidak belajar. Namun, saatnya belajar mandiri bersama teman-teman yang lainnya.

Waktu begitu berharga. Sedetik berlalu, ia takkan pernah kembali lagi. Aku harus pandai memanfaatkan waktu di setiap detiknya. Keributan mulai reda. Anak-anak terlihat membuat kelompok-kelompok, diantara mereka ada yang belajar, ada juga yang malah ngerumpi. Ah, setidaknya lebih baik daripada suasana kelas sebelumnya.

Jujur saja, saat aku mengikuti kajian keislaman, aku mulai mengerti tentang arti kehidupan ini. Aku pun tahu tujuan penciptaan diriku. Tidak lain dan tidak bukan, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Semenjak itu, aku berusaha untuk bertakwa kepadaNya. Hingga aku mengetahui kewajiban berdakwah bagi setiap individu muslim.

Sadarku, hari ini begitu banyak remaja yang terjerembab dalam pacaran. Tak terkecuali anak-anak yang ada di kelasku. Aku adalah ketua kelas, jika aku tak mengingatkan mereka, aku pasti akan dimintai pertanggung jawaban. Di samping itu, akupun seorang muslim. Maka dakwah wajib aku tunaikan.

Sandi namanya. Sejak SMP aku sudah mengenalnya. Tadi pagi aku mendapatinya sedang pacaran dengan Syifa. Kami sekelas. Geram aku dibuatnya.

Ya Allah mudahkanlah aku untuk bisa mengingatkan mereka. Bukakanlah pintu hidayahMu, ya Allah. Sungguh, aku berserah diri kepadaMu. Doaku dalam hati. Berharap Allah kan membuka pintu hidayah untuk mereka.

Waktu lenggang ini kumanfaatkan untuk berdiskusi dengannya. Tidak harus langsung menghukumi tentang pacaran. Aku mengajaknya ngobrol tentang sepak bola. Aku tahu, ia sangat menyukai olah raga. Dan sepak bola adalah salah satu yang disukainya. Aku hanya ingin ia mempercayaiku menjadi teman yang asyik untuk diajak ngobrol terlebih dahulu. Jika langsung tentang pacaran, mungkin bisa berabe.
***

“San, saya heran, kok mau-maunya ya orang pacaran?” setelah pendekatan sukses kulakukan, akupun beraksi.
“Lho kenapa? Kan menjalin kasih sayang?” tanyanya keheranan.

Dari sini semuanya berawal, aku jelaskan dengan bahasa yang santai dan tidak seperti mengajari. Aku coba mengajaknya berpikir. Aku berikan gambaran tentang semua kebohongan yang ada didalam pacaran, hingga ia benci dengan aktivitas pacaran. Aku katakan, ketika belum menikah, jika tersandung batu, pasti dimanja. Tapi jika sudah menikah? Akan terlihat watak aslinya. Bukan dimanja, Tapi dimarahi!

Jika belum menikah, “Aduh sayang hati-hati, sini aku bantu berdiri,” sesudah menikah, “Kamu ini, mata disimpan di mana? Kalau jalan pake mata dong!”

Sandi tersinggung, kerap kali ia melakukan pembelaan dan membenarkan pacaran.

Tapi, semakin sering ia melakukan pembelaan, justru ia semakin tahu kerusakan-kerusakan pacaran. Ia bilang, dengan pacaran, kita bisa mengenali calon istri kita. Lalu aku katakan, itu pun jika jadi, jika tidak? Hanya sebatas eksperimen saja. Dug! Mungkin hatinya terkena.

Atas izin Allah yang Maha Kuasa. Ketika pintu hati seorang hamba terbuka dan pemiliknya menyambut dengan suka cita, tampaklah jalan lurus yang indah nan memesona. Sandi menundukkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkannya. Aku hanya berharap, ia bisa melihat jalan lurus yang indah nan memesona itu dan mengarunginya bersamaku.

“Kenapa sih kamu terus menerus mengingatkanku?” pandangannya tajam.
“Kamu tahu? Aku mencitaimu karena Allah. Kau adalah saudaraku. Inilah bukti cintaku, cinta yang sesungguhnya. Aku tak ingin kau terus menerus dalam kemaksiyatan. Aku ingin kita selamat bersama,” Jelasku yakin.

Sandi memelukku erat. Sangat erat. Dan aku tidak menyangka ia akan mengucapkan, “Aku akan segera memutuskan pacarku dan ikut mengkaji Islam bersamamu.” []

Penulis : Aif Saiful Ma’ruf
Bandung, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

4 comments:

  1. Subhanallah, luar biasa kang! :)

    ReplyDelete
  2. Benar sekali. Bukti cinta yang sesungguhnya adalah saling mengingatkan dalam kebaikan. Mantap ceritanya :) ini memotivasi saya untuk terus berdakwah dan membuktikan cinta saya kepada teman-teman yang lain. syukron :D

    ReplyDelete
  3. Baca cerita ini pagi-pagi, mantep banget! I like it :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.