Header Ads

Aksi Bela Islam

Cintailah Jalanmu

Jalan juang (ilustrasi foto pikirreview)
Terik matahari memanggang tubuhnya. Di atas pasir dengan mata yang silau menatap langit. Setumpuk batu menindih dadanya membuatnya sulit bernafas lega. “ahad.. ahad..” itulah yang dia katakan. Kedamaian hati meneguh langkah. Tiada bergeming ia atas fisik yang terus disiksa.

Lain pula yang lain. Kekayaan, harta yang melimpah, pakaian yang mahal harganya. Terkenal pula dengan parfumnya. Sedemikan singkat waktu hingga semua menjadi sirna. Pakaian yang lusuh, tidak ada lagi parfum. Hingga Rasulullah menetes air matanya menatapnya. Sebuah konsekuensi pilihannya. Ia bahagia dalam resah pandangan orang lain.

Ada yang terus bergelimang emas permata. Semua orang menghormatinya. Ialah tokoh yang dermawan. Saat tiba waktunya maka semua hartanya ia keluarkan. Maka Sang Junjungan pun bertanya perihal simpanannya untuk keluarganya, ia hanya menjawab “Cukup Allah saja bagiku..”

Pernah juga terdengar. Posisinya paling tinggi dalam “kasta” sosial. Semua masyarakat tunduk padanya. Semua pasukan taat mendengarkannya. Namun naas, Ia mati dalam usia muda kepemimpinannya. Terdapatlah kisah, di balik posisi kehormatannya, seorang rakyat pernah batal meminta jatah zakatnya karena baginya “orang terhormat” inilah yang lebih pantas menerima zakatnya. Khidmatnya atas rakyat, menyiksa dirinya. Ya, mati muda!

Ah, mereka terlalu jauh dalam pusaran masa lalu waktu.

Tapi masih kujumpai mereka yang baru belajar, kini. Yang meniti jalannya.

***

Sejenak kita membayangkan begitu bahagianya menjadi orang biasa saja. Biasa dalam segala hal yang mayoritas. Saat sela waktu kita bersenang-senang, bersendau gurau. Saat tiba akhir pekan kita berlibur, menikmati indahnya dunia juga seperti yang lain.

Jatah waktu tidur bukan lagi seperti mereka yang “patuh” dengan dokter; sebagian. Yang mengatakan bahwa tidur minimal delapan jam sehari agar kondisi tubuh tetap fit.

Atau mungkin kita juga ingin tidak direpotkan dengan ikut memikirkan orang lain berlebihan. Toh, mengurusi diri sendiri saja belum beres.

Dan bisa jadi, tidak perlu menghemat jatah makan “enak” hanya demi biaya-biaya yang seharusnya tidak perlu kita tanggung. mengeluarkan biaya yang sepertinya tidak layak untuk disebut menyisihkan.

Itulah manusiawinya. Merdeka secara naluri. Berjalan bahkan berlari kapan dan dimana saja kita mau. Hingga akhirnya tiba pada satu titik yang seolah menjadi “penjara” bagi dunia kita yang terlalu luas. Setidaknya itu yang orang di sekelilingmu berikan tanggapan. “hidupmu freak!” “terlalu kaku!” “kuno” atau mungkin “jumud”

Engkau terpaksa mengorbankan dirimu. Siksaan-siksaan batin lewat ke-aku-an yang terbelenggu oleh “bagaimana memang seharusnya diri”. Engkau ingin berteriak, rasanya semakin berat.

Saat tanggungan bersama menumpuk. Lagi-lagi yang lain satu per satu menepi. Tingggallah engkau beberapa saja. Terus berjalan, sedikit melambat sepertinya. Engkau tahan amarahmu, menyesakkan perasaanmu.

Lagi-lagi itulah konsekuensi. Itulah takdir kepahlawanan. Di saat semua berjalan-berlari terus mengejar haknya. Maka sebagian orang harus rela menanggung kewajibannya. Banyak yang meminta cahaya, tapi hanya sedikit yang ingin menjadi lampu.

Kelelahan, kejenuhan, berat menanggung beban. Tidak perlu dipoles karena memang begitulah adanya. Luka pada tubuh tidak perlu ditanyakan karena ia pasti perih.

Lantas ke mana ini semua berujung? Cukuplah janji-Nya yang menenangkan, cukuplah ketaatan yang menentramkan. Engkau yakini ini untuk-Nya, berbahagialah atasnya. Setiap keluh kesah himpitan sesak “siksaan” inilah ujian cinta yang sebenarnya. Seperti itulah Bilal bin Rabah, Mus’ab bin Umair, Abu Bakar, dan Umar bin Abdul Aziz.

“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan mempekerjakan/menggunakannya”, beliau ditanya, “Bagaimana Allah akan mempekerjakannya, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal”.

Karenanya. Cintailah jalanmu karena Allah sedang menuntunmu berjalan kepada-Nya. []

Penulis: Fardan
CEO Badan Mentoring IT Telkom, Bandung
Facebook - Twitter - Wordpress

1 comment:

Powered by Blogger.