Header Ads

Aksi Bela Islam

Indahnya Dakwah Membersamai Hidayah

Dua akhwat (foto pkspiyungan)
Skenario Allah itu memang luar biasa. Setiap takdir yang dipilihkan-Nya selalu tersirat makna yang penuh hikmah. Melalui jalan inilah, Allah mempertemukanku pada jalan dakwah. Sebuah jalan yang tak mudah, jalannya para pejuang kebenaran. Sebuah jalan para penegak kebaikan, jalannya para mukmin yang ketika mendapat nikmat ia bersyukur dan ketika mendapat kesusahan ia bersabar. Insya Allah…

Tentang dakwah, maka ceritaku ini bermula dari sebuah percakapan ringan dengan salah seorang teman saat perjalanan pulang dari kegiatan buka bersama dengan rekan-rekan di bulan Ramadhan tahun ini. Tentang percakapan mengenai batasan aurat wanita yang akhirnya mempertemukannya pada sebuah hidayah. Hidayah indah yang menemukannya pada jalan cahaya hingga berproses untuk berhijab sesuai tuntunan syariat.

Sebut saja muslimah tersebut Fulanah. Percakapan ringan dengannya seperti mendengar keluh kesah seorang perempuan yang ingin sekali berhijab namun ditemui jutaan tantangan yang beliau rasakan. Sudah menjadi fitrah, bahwasanya manusia selalu punya kecenderungan untuk mendekati kebaikan, namun di balik itu ada godaan dunia yang bertubi-tubi menyerang sisi malaikat kita. “Saya itu pengen banget pake rok mbak. Tapi ya itu, sekali pake rok saja…. Anak-anak asramaku pada cerewet bilang gini lah, bilang gitulah….sebel jadinya…” Ujar Fulanah sambil kosentrasi mengendalikan sepeda motornya.

Sambil mencerna tiap perkataannya, saya hanya bisa tersenyum dan terus mendengar isi hatinya. Saat dia berhenti bicara dan mulai membuka diskusi, akupun menanggapi “Ya itulah mbak lika-liku manusia yang ingin berbuat kebaikan. Allah menguji kita, seberapa kuat niat kita untuk berbuat baik. Untuk bisa baik itu memang butuh proses mbak, butuh proses untuk biasa pakai rok, kalau sudah biasa pakai rok, pasti enak kok dan kebal dengan perkataan orang-orang” Fulanah tadi terdiam, mungkin masih meresapi perkataanku. Dalam hatiku do’a terlantun lembut mengikuti halusnya semilir angin di bulan ramadhan yang menyejukkan, “Semoga beliau segera diberi hidayah…”.

Setelah lama pembicaraan tentang hijab tak disinggung bersama Fulanah, proses pun berjalan hingga pada suatu ketika, Allah mengirimkan satu kejadian. Kejadian itu bermula dari salah seorang akhwat yang kehilangan kaos kaki pada saat syuro kegiatan relawan salah satu lembaga amil zakat. Akhwat tersebut pun pusing tujuh keliling mencari kaos kaki ke sana ke mari sebelum ada ikhwan yang datang dari sholat maghrib di masjid, kami pun ikut mencari termasuk Fulanah tadi. “Eh kan cuma kaos kaki doank yang hilang, kenapa sih kok ribet banget??” celetuk Fulanah menanggapi peristiwa itu. “Kan buat nutup aurat mbak, kaki kita juga aurat lho.. hehehe. Kalau gak ada kaos kaki, kaki kita kelihatan donk. Hehehe” Ucapku sambil tersenyum pada Fulanah. Dia pun terdiam dan berpikir.

Pada kesempatan lain, Fulanah kembali terketuk hatinya tanpa sengaja. Kala itu Fulanah tengah ke sebuah tempat bersama akhwat tadi. Tempat tersebut ada kaca yang lebar dan cocok jika ingin melihat tubuh kita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ketika Fulanah tak sengaja mengaca, tiba-tiba pandangannya membandingkan dengan pakaian akhwat yang ikut bersamanya saat itu. Perasaanya pun terenyuh melihat tubuhnya yang seakan-akan tak berpakaian, karena di waktu itu pula ia sedang memakai celana jeans dan baju yang sengaja ia balut dengan jaket. Matanya sesekali melihat tampilan tubuhnya yang ada di kaca dan kembali melihat tubuh akhwat yang dengan indah terhijabi lewat rok dan kaos kaki.

Semenjak itu, Fulanah sering memikirkan masalah hijab dan tantangan untuk berhijrah. Semua perkataan dan semua kejadian ia kumpulkan dalam satu memori yang akhirnya menjadikan Fulanah berubah pada satu kegiatan di relawan. Ahad itu pun seakan menjadi titik balik beliau yang dengan anggun memakai rok, kerudung langsungan yang menutupi dada meski tak terlalu panjang dan sepasang kaos kaki. Hati ini terasa sejuk melihat saudaraku satu ini akhirnya bisa mewujudkan keinginannya. “Memang aku sudah rencana mbak, setelah idul fitri ini pengen pakai rok. Kemarin juga aku beli rok mbak sama Ibu di mall pas mudik, hehehe” Curhatnya lantas tertawa bahagia.

Subhanalloh, inilah indahnya dakwah dan sebuah hidayah. Terkadang seseorang itu bisa tergerak bukan dari taujih kita yang terkesan berat dan berbobot, namun kerap pula hati-hati baik mereka akhirnya berubah haluan karena dari omongan ringan kita, komentar sederhana kita, nasehat ahsan kita, bahkan kejadian kecil yang tak terduga. Itulah jalan hidayah dalam dakwah ini, bahwa kebaikan bisa ditebar dan lantas ditangkap oleh hati-hati yang merindukan telaga surga dengan suatu hal yang sepela namun mengena. Dan, hanya Allah-lah yang mempunyai dan menguasai hati-hati ini. Kita berada dalam genggamannya. Kehendak dan daya di alam semesta ini ada pada kendalinya, kita sebagai manusia hanya bisa ikhtiar untuk terus memperbaiki setiap niat dan langkah kita serta berdo’a agar selalu dalam rahmat dan keberkahan-Nya.

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan mereka.” (Q.S. Muhammad : 17)[]

Penulis: Wahyu Widayati
Surabaya


Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

6 comments:

  1. suhanallah,,, kereennn ;)
    anggun skali fulanah itu,, PASTI!! :*

    ReplyDelete
  2. Subhanallah terharu :')

    ReplyDelete
  3. cari kajian susah mba..udah tanya teman2 yg sudah ngaji ga ada kabar... :'( lama2 takut terkikis keinginan untuk belajar agama..mhn info ntuk wilayah ciputat... saya butuh lingkungan yg mengajarkan islam...maklum masih awam hehehehe :)

    ReplyDelete
  4. Subhanalloh. smoga menginspirasi, :-)

    ReplyDelete
  5. Subhanallah... memang hidayah itu tdk untuk ditunggu, tapi dijemput dan diraih..
    Semoga istiqomah.. Amiin ^^

    ReplyDelete

Powered by Blogger.