Header Ads

Aksi Bela Islam

Ketika Allah Menunjukkanku pada Jalan Penuh Cinta

Ilustrasi akhwat Rohis (desainkawanimut)
Aku sedang duduk di pelataran sebuah taman, di tengah hembusan angin sejuk yang menerpa jilbabku. Dengan mushaf berwarna cream yang terletak ditanganku. Aku termenung. Teringat masa-masa silam, beberapa tahun yang lalu, aku gadis tomboy yang sangat membenci jilbab akhirnya menjadi pembela gerakan Islam. Bagaimana mungkin? Siapa yang dapat menduga? Desahku suatu hari. Hidayah. Anugerah ternikmat yang diberikan oleh Allah kepada yang dipilihNya. Hingga, pandanganku terlempar kepada sosok gadis-gadis berseragam SMP yang sedang berjalan sepulang sekolah. Lalu, ingatanku melayang ke 7 tahun silam. Aku adalah gadis tomboy yang sangat hoby main futsal dan basket, pakaian harianku adalah kaos dan celana longgar panjang, dan sandal. Aku mengikuti sebuah kegiatan rutinan -yang saat SMA- aku kenal mentoring di dekat rumah. Hingga suatu hari di saat aku hendak bertanding futsal di lapangan dengan teman-teman sebaya, kakak dan ibuku berkata seperti ini “Alsya, kamu sudah besar, sudah saatnya kamu pakai jilbab, lalu kapan mau mulai pakai jilbab?”

Aku hanya tertawa sinis dan berkata “Ahahaha, pake jilbab, jilbabin hati dulu deh. Liat aja banyak tuh perempuan pakai jilbab tapi boncengan, pegang-pegangan sama cowok, keganjenan, dkk lah, malah bikin malu orang Islam. Mendingan juga aku, dibonceng juga ga pernah, pegang-pegangan juga ogah apalagi gaya kayak orang keganjenan.”

Mamahku hanya menambahkan “kalau pakai kerudung kan enggak diapa-apain di jalan.”

“Makanya Alsya enggak pernah mau naik ojek, mendingan jalan deh, atau enggak Alysa kan udah biasa bawa motor sendiri. Kalau ada yang apa-apa Alsya juga bisa Karate” tukasku.

“Hati-hati loh sya, jangan terlalu membenci sesuatu, siapa tau suatu saat kamu malah jadi pendukung di barisan itu,” ujar kakakku menutup percakapan.

“Hahahaha.. Enggak akan. Kita lihat saja nanti,” sergahku.

Tahun demi tahun aku tumbuh dalam nuansa pilihanku sendiri, tersibukkan dalam dunia organisasi, dan sangat cuek dengan kehidupan pribadi, apalagi ruhani. Mengikuti agenda mentoring sesempatnya, sekalipun yang membinaku saat itu adalah seorang ustadzah (kupanggil dia ummi) yang cukup dikenal di wilayah. Hingga saat aku lulus dari SMPN 5 Bekasi, aku meneruskan di SMAN 2 Bekasi dan bergabung dengan kelas khusus.

Di SMA ternyata sifatku tidak berubah, tetap keukeuh bahwa yang penting adalah jilbabin hati. Titik. Bahkan temanku yang berasal dari pesantren Al Kahfi bertanya penuh keheranan. “Sya, lu kalo pake kerudung ketutup banget, pake training lah, manset lah, kerudung ketutup lah, tapi pas ga pake kerudung udah kayak cowok.” Dan seperti biasa jawabanku adalah “Jilbabin hati dulu masbro, orang make kerudung itu dari hati, jangan dipaksa.” Dan jawaban yang mencengangkan dari nya waktu itu ialah “Elu lebih milih dipaksa masuk surga atau dibiarin masuk neraka?” dan jleb. Saya terdiam dengan muka merah padam, meninggalkan tempat itu.

Memang kuakui, saat memakai kerudung semua sifat dan perilakuku berubah. Pakaian pun boleh dikatakan akhwat, karena pandangan saya berkerudung itu seperti kakak saya yang memang sudah lama aktif dalam kegiatan Islam sekolah, ya masa pakai kerudung enggak pakai kaos kaki, pakai kerudung tipis, itu namanya setengah-setengah.

Suatu siang, beberapa hari setelah berdebat, aku dihampiri oleh kakak kelas teman kakakku, sebut saja namanya Kak Dini. Seorang akhwat lembut yang pernah menginap di rumahku dan memberiku cokelat. Sebagai bentuk promosi Rohis, katanya. Hari ini ia datang ke masjid di sela-sela aku menanti kakakku. Aku sama sekali tidak ditanya kenapa tidak pakai kerudung dan sebagainya, malah beliau menganggapku lebih dari saudara, seakan-akan aku adalah adik kandungnya.

Akhirnya setelah melakukan pemantauan secara diam-diam, aku dihadapkan pada kenyataan pahit, yang membuka mataku; ternyata seperti ini kelakuan anak Rohis. Mereka menganggap temannya adalah saudarinya, teman seperjuangannya, yang tak hanya ada di saat senang, bahkan di saat tersedih sekalipun, dan aku mengalaminya. Mereka mendakwahiku dengan cara terhalus, dengan cara yang dilakukan Rasulullah; yaitu keteladanan akhlak. Akhirnya aku menyadari satu hal: Aku Jatuh Cinta. Segera itu aku pulang kerumah, aku menunaikan shalat taubat, dan berbicara kepada mamah, bahwa aku hendak memakai jilbab. Alhamdulillah mamah sangat senang, dan memberikan apa saja yang kubutuhkan. Semua celana jeans longgar akhirnya disumbangkan, diganti dengan rok yang semakin membuat aku terlihat anggun (katanya begitu), dan lama-kelamaan setelah meminta pendapat ummi, akhirnya aku mantap untuk bergabung dengan ROHIS.

Walaupun pada awal-awalnya aku cukup canggung, akhirnya aku menjadi terbiasa, bahkan aku tetap menjadi diriku yang idealis, tegas, ramai dan ceria. Bahkan kini punya banyak keluarga yang mendukung dan menguatkan dalam kesederhanaan, dalam keterbagian kebahagiaan dan kesedihan.

“Sya, sudah selesai tilawahnya? Ayo pulang, kita belanja masakan anak-anak besuk.” Senyum saudariku Azkia menyadarkan lamunanku. Azkia saudariku yang juga memiliki cita-cita yang sama sepertiku saat memasuki di rumah Tahfidz. Menjadi Hafidzah Qur’an. Insya Allah.

“Oke, jangan lupa makanan untuk ustad juga. Besok ustad datang ngecek mutaba’ah.” Sahutku.

Dan kini, aku sadari satu hal. Aku mencintai dunia dakwah karena Allah. Uhibbukunna fillah. Terima kasih ya Rabb, inilah jalan cinta yang penuh barakah. []

Penulis : Niken Kusuma Wardani
Bekasi, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

2 comments:

  1. Mbak Niken ini Bunda Lahfy pemilik blog Lovely Little Garden ya? Waaa, ada teman blogger juga yang ikutan (^,^)/

    ReplyDelete
  2. subhanalah..
    karya tulisnya bagus...
    tiap kalimat mudah di pahami dan sukses the buat mbak niken....

    ReplyDelete

Powered by Blogger.