Header Ads

Aksi Bela Islam

Mutiara Pejuang Qur’an

Mengikuti konferensi Al Quran Dunia di Kuwait 2007 (foto Ratna Sari)
“Sebaik-baik kalian ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”
(HR. Al-Bukhori)

Sebuah hadits yang memiliki kedalaman makna bahwa betapa Allah memuliakan setiap hambaNya yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Inilah salah satu hadits yang menjadi penyemangat bagi seorang Ustad kelahiran Ponorogo, 44 tahun silam yang kini mendedikasikan hidupnya untuk dakwah al-Qur’an.

Sosoknya yang bersahaja, tegas dan disiplin mengantarkan ayah dari tujuh orang anak ini menjadi Koordinator perwakilan dari Indonesia di Badan Tahfizh Internasional. Ustad Efendi Anwar, Lc Al-Hafizh adalah satu dari ratusan bahkan ribuan mutiara yang berjuang melalui dakwah Al-Qur’an, khususnya pada perbaikan kualitas bacaan tajwid yang dikenal dengan istilah tahsin.

Berawal dari kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap pembinaan di masyarakat, berbuah menjadi tekad untuk mewujudkan masyarakat yang dekat dengan Al-Qur’an bahkan mencetak generasi-generasi muda para penghafal Qur’an.

Langkah dakwah di masyarakat, dimulai dari perbaikan tajwid dimana masih sangat banyak kader bahkan imam imam masjid kualitas bacaan Al-Qur’annya masih sangat memprihatinkan. Bersama istri tercinta, Ustazah Mukhlisoh, beliau memberikan pelatihan-pelatihan tahsin di rumah sederhana di bilangan condet, Jakarta Timur.

Perlahan namun pasti, kian hari murid-murid beliau bertambah banyak sehingga kesulitan untuk menampung para peserta didik. Alhamdulillah, salah satu sahabat beliau menawarkan tempat di lantai atas rumahnya yang lebih luas untuk menunjang kegiatan belajar mengajar tahsin yang lokasinya pun mudah di jangkau oleh para peserta didik.

Perjalanan dakwah tak serta merta mulus tanpa rintangan, namun karena niat yang ikhlas dan didukung oleh keluarga serta sahabat-sahabatnya, Ustad Efendi terus melangkah memberikan kontribusi bagi dakwah Al-Quran. Kendala bangunan dan lokasi yang menjadi salah satu penunjang utama adalah suatu hal yang menjadi tantangan tersendiri.

Hingga pada suatu ketika ada salah seorang murid beliau memberikan wakaf tanah di Jalan Sawo, Condet yang hingga kini menjadi lokasi tetap Pesantren Tahfizh Al-Qur’an (PTQ) Al-Utsmani yang masih terus berdiri hingga kini, menjadi salah satu rujukan bagi para calon huffazh untuk mewujudkan impiannya menjadi hafizh dan hafizhah.

Perjalanan masih sangat panjang, butuh waktu untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat di sekitar lingkungan pesantren berada, dari awal berdiri pada tahun 1995 pernah suatu ketika sebagian masyarakat beranggapan bahwa pesantren yang didirikan oleh ustad Efendi membawa ajaran sesat, dikarenakan semakin banyaknya orang yang berdatangan dari luar lingkungan pesantren yang tak lain adalah para peserta didik yang akan menuntut ilmu Al-Qur’an.

Tak patah semangat, beliau terus mengadakan pendekatan kepada masyarakat dengan bersilaturahim khususnya kepada tokoh masyarakat, dan pada momen tertentu mengundang masyarakat untuk menghadiri Baksti Sosial (Baksos) yang di adakan di halaman pesantren.

Saat ini, memasuki usia 18 tahun perjalanan dakwah beliau di PTQ Al-Utsmani, telah menghasilkan ribuan alumni yang berkualitas yang sebagian besar menjadi para pengajar Al-Qur’an yang tersebar di Indonesia. Perbaikan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan dakwah pun masih terus dilakukan, mulai dari pembebasan tanah, merenovasi bangunan hingga pembukaan cabang baru di beberapa wilayah guna memperluas penyebaran dakwah. Adapun dana yang diperoleh berasal dari para donatur yang mewakafkan sebagian hartanya untuk membantu pembangunan pesantren.

Sebuah cita-cita mulai dari sang Murobbi kita Ustad Efendi Anwar, Lc Al-Hafizh yang ingin mewujudkan sebuah lembaga pusat studi Al-Qur’an di Indonesia, melalui kegigihan dan ketekunan yang dimilikinya, beliau terus berupaya menyandarkan kepada masyarakat betapa indahnya mempelajari, membaca, menghafal dan mengamalkan al-Qur’an.

Melalui program One Day One Juz, beliau selalu mengingatkan kepada para muridnya, bahwa sesibuk apapun hendaknya selalu menyempatkan untuk “menyendiri” bersama Al_Qur’an agar target minimal satu hari satu juz dapat tercapai, sehingga setiap diri kita senantiasa dekat dengan Al-Qur’an.

Berjalannya waktu dengan segala dinamika telah berpadu menjadi sebuah harmoni dalam setiap langkah perjuangan. Kisah perjuangan dakwah Ustad Efendi Anwar, Lc, Al-Hafizh semoga dapat menginspirasi para generasi penerus dakwah bagaimana seharusnya kita memuliakan Al-Qur’an, salah satunya dengan menyibukkan lisan kita untuk membaca Al-Quran yang akan menjadi penolong pada hari kiamat kelak. []

Penulis : Ratna Sari
Jakarta Timur

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.