Header Ads

Aksi Bela Islam

Pertemuan Pertama Begitu Menggoda

Akhwat-akhwat (desain kawanimut)
Menegakkan amal ma’ruf nahi munkar adalah tujuan utama kenapa kita di ciptakan. Hal ini dapat di lihat dari ayat Allah yang tertulis dalam surat Az-zariyat ayat 56 “dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Pentingnya dan wajibnya dakwah ini tergambar dalam surat Ali imran ayat 110 “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah, sekiranya ahli kitab beriman, tentulah ia lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Mukmin yang menjadikan iman dan dakwah sebagai sumber amalan di dalam kehidupannya maka Ia akan termaksud kepada orang yang menjaga agamanya, akal, keturunan, harta dan jiwa.

Kenapa orang yang berdakwah di katakan orang yang menjaga agamanya? Karena agama akan diketahui bila manusia yang berada dalam agama itu sendiri saling menyeru kepada amal ma’ruf dan nahi munkar, bukan berarti dengan tidak adanya pendakwah maka agama ini akan runtuh karena sesungguhnya Allahlah yang menjaga agama namun untuk apa kita? Sesungguhnya tanpa kita beramar-ma’ruf nahi munkar maka tidak ada yang menjamin keabadian untuk kita di akhirat.

Kenapa orang yang berdakwah di katakan orang yang menjaga akalnya? Karena dengan berdakwah orang akan terus memenuhi fikiran positif kepada Allah dan selalu berusaha untuk mengisi akalnya dengan hal-hal yang positif.

Kenapa orang yang berdakwah di katakan orang yang menjaga keturunanya? Karena orang yang berdakwah selalu menyerukan kebaikan kepada keturunanna terlebih dahulu sebelum kepada orang lain.

Kenapa orang yang berdakwah di katakan orang yang menjaga harta dan jiwanya? Karena saat seseorang berdakwah dan Ia merelakan hartanya pada bagi kelancaran dakwah maka Ia telah mengekalkan sebagian hartanya. Contohnya orang yang bersedekah akan di ganti sepuluh kali lipat oleh Allah. Tidakkan sahabat-sahabat mendengar kisah Ali radhiyallahu ‘anhu yang pergi membeli apel untuk Fatimah, istrinya tercinta namun di tengah jalan ia bertemu orang yang kelaparan dan ia memberikan apel tersebut pada pengemis itu. Ketika tiba di rumah, seorang pesuruh datang mengantarkan sekeranjang apel. “Kenapa apelnya sembilan buah?” Pesuruh itu keheranan. “Bagaimana engkau tahu ya Ali?” Ali dengan penuh percaya diri menjawab ”Ssesungguhnya saya percaya bahwa Allah akan melipat gandakan sedekahku dan setiap lipat ganda itu bernilai 10 bukan 9” Pesuruh itu berkata ”sesungguhnya apel sisanya di sakuku, kukira engkau tidak tahu.” Tahukah bagaimana Allah membalas orang-orang yang berdakwah? Dengan cara yang sangat indah dan tidak di fikir oleh manusia.

Dalam sebuah hadist, Abu Hurairah dari Rasulullah menyatakan bahwa “ akan ada suatu masa dimana suatu kebenaran dianggap kebatilan dan kebatilan dianggap sebuah kebenaran”. Saudara seiman, hal ini tentu sudah nampak di masa kita saat ini dimana orang dapat membeli hukum, dapat memutar balikkan fakta dan lain-lain.

Sebenarnya kejayaan di masa lalu agama Islam terletak kepada umat yang selalu menegakkan syariat yang di tempuh dengan cara berdakwah tanpa pamrih. Dan kejayaan hari ini dapat di raih dengan beramar-ma’ruf nahi munkar. Makanya dari itu dakwah sangat di perlukan dan wajib bagi setiap muslim yang ada di dunia ini di sudut dunia manapun Ia berada.

Hanya pesan itu yang saya catat dari perkenalan pertama dengan dunia dakwah yang awalnya saya tidak tahu apa-apa dengan dunia itu. Malam itu Sabtu kira-kira pukul 20.00 Wib, saya baru saja tinggal di Fatih Billigual School Putri Banda Aceh. Malam itu saya dan beberapa orang sahabat diperkenalkan dengan seorang murabbi yang biasanya dipanggil “Kakay Abla”. Beliau sudah bersuami dan berasal dari kota Wali. Saat itulah Saya mendapat pengajaran tentang dakwah ini alias didakwahi dari hal ini saya mengerti bahwa hidup sangat tidak berarti apa-apa tanpa dakwah. Ketika itu saya juga mengenal seorang ulama spiritual Turki bernama Fethullah Gullen dengan bukunya “Dakwah: bagaimana kita menyikapi Hidup” dan sekarang setiap minggu di Fatih ada beberapa kali pengajian dilakukan untuk membahas masalah dakwah ini. Hingga hari ini selalu saya ingat bahwa kejayaan manusia di masa lalu bisa terwujud kembali dengan dakwah, saya berfiikir saya akan mencobanya semampu yang saya bisa. Perkenalan pertama dengan dakwah itu amatlah menggoda, selanjutnya terserah Anda, jalan menuju surga memang mudah adanya namun jalan menuju neraka lebih banyak pula. []

Penulis : Nita Juniarti
Banda Aceh

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.