Header Ads

Aksi Bela Islam

Bukti Cinta

Bukti Cinta (ilustrasi dainusantara.com)
Perjalanan dakwah mungkin berbelok-belok, bahkan kadang sangat terjang, tapi saya siap! Saya telah menyiapkan banyak bekal, amunisi yang matang meskipun takkan pernah cukup. Sepenggal kalimat yang saya ucapkan sebelum benar-benar saya jalani medan dakwah yang sebenar-benarnya.

Dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta segalanya darimu, dakwah adalah bukti cinta yang wajib direalisasikan, begitulah motivasi yang selalu saya dengar.

Sampai pada akhirnya medan itu kini benar-benar kujalani. 6 tahun di pesantren ternyata belum cukup untuk menyiapkan bekal perjalanan cinta ini. Dunia baru kini kutemui, kehidupan dengan segudang perbedaan. Di pesantren, tak pernah kutemui perbedaan. Tentu karena kita diwadahi dalam satu lembaga dengan satu sistem yang sama sehingga perjalanan dakwah terasa lurus-lurus saja. Diutus dakwah keluar adalah hal yang paling dinanti-nanti. Menyampaikan dan mempraktikkan ilmu-ilmu adalah suatu hal yang memuaskan. Tak ada yang menentang. Sekali lagi, tentu saja karena kita dikirim pada daerah dengan masyarakat awam dan terpencil.

Melihat para mustami’ anstusias berlomba-lomba bertanya merupakan hal yang sangat membahagiakan, “Allah, karuniakan ilmuMu kepadaku” sepenggal kalimat yang sering tiba-tiba menjadi harapan yang menggelora di hati.

Sampai pada suatu hari tibalah saatnya, saya harus menghadapi medan yang mulai berliku. Bekal yang kupersiapkan tidak ada apa-apanya. Ijazah kelulusan, sertifikat hafidz yang harus saya pertanggung jawabkan bukan sesuatu yang pantas dibanggakan. Allah... hamba terlalu kerdil untuk mengemban amanah mulia ini. Medan dakwah terus kujalani, perbedaan, pertentangan kuambil sebagai pelajaran dan kukaji kembali, hal tersebut merupakan karunia yang membuka mata dan wawasanku luas dan semakin luas. Kulajutkan studi di tengah lingkungan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Hal ini yang menjadi tantangan berat bagaimana bersosial yang baik dan tidak melanggar atauran syari’ah, meski sekecil apapun.

Sayangnya aku terhanyut dalam pembuktian cintaku pada sesamaku di sekitar lingkungan. Mengisi pengajian bagi ibu-ibu, mengajar dan berbagi ilmu tiba-tiba menjadi profesi bukan karena cinta dan keikhlasan, bahkan sibuk bergabung mengembangkan forum lembaga dakwah di mana-dimana, dan menyita banyak waktu yang seharusnya kumaksimalkan untuk ibadahku.

Tiba-tiba aku dapat kabar dari keluarga di seberang pulau nun jauh di sana. Abang digerebek polisi, kepergok sedang memakai shabu-shabu di kosan temannya dan ditemukan barang bukti di rumahnya tiga ginting ganja.

Allah... tiba-tiba semuanya terasa gelap. Air mata menetes tak tertahankan, saya tahu tentang firmanMu, bahkan sering kali kusampaikan pada mustami’ di majelis-majelis ilmu.
“Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At Tahrim : 21)
Dirimu dan keluargamu!!!

Kabar ini menjadi hantaman keras bagiku. Ibu jatuh sakit. Untunglah ayah mengambil langkah bijak, abang harus diproses hukum dan direhab, menguatkan ibu dan menuntun abang kembali, merangkul dan menunjukkan kasih sayang yang lebih buat abang.

Menata diri dan mengakrabkan diri dengan keluarga, memohon ampunanNya, semoga tidak termasuk dalam golongan munafiqun. Peristiwa besar ini menjadi pelajaran paling berharga sepanjang perjalanan ini. Kutunjukkan bukti cintaku dengan perhatian sebagai langkah awal dakwah.

Subhanallah, maha suci Allah, abang pulang dengan perubahan yang luar biasa. Teman duduknya kini Al-Qur’an. Sunnah Nabi menjadi sesuatu yang dibiasakan dalam hari-harinya. Kami saling menuntun, melangkah bersama, dan aktifitas dakwah, belajar mengajar tetap kulanjutkan tentunya dengan niat lillahita’ala, sebagai bukti cinta.

Uhibbukuna fillah
Semoga menjadi pelajaran bagi yang mau mengambil pelajaran, sibuk menyampaikan dakwah bukanlah hal yang membuat kita lupa diri dan keluarga. []

Penulis : A.Musyarrafah Vetriyani
Depok, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.