Header Ads

Aksi Bela Islam

Da’i Sejati Tidak Takut Dimusuhi

Cover buku Motivasi Dakwah (Wan Ahmad Sanadi)
Terlalu ringan rasanya jika perjuangan para da’i dalam berdakwah berjalan datar-datar saja. Tidak ada halang rintang yang menentang, tak merasakan getirnya bantahan dan garangnya tentangan dari orang-orang yang didakwahi. Apalagi jika sama sekali tak pernah merasakan perihnya hati dicaci maki. Bila demikian, maka perlu dipertanyakan “misi apa yang dibawa dalam dakwahnya sang da’i?”. Karenanya, telah menjadi keniscayaan, seorang da’i seharusnya mengemban visi mengajak umat kepada Allah. Dan setiap ajakan menuju Allah pasti ditentang dan dimusuhi. Ini sudah menjadi tradisi yang diwariskan sejak jaman Nabi dan para Wali.

Seperti yang dialami oleh Ustd. Musthafa (ayah teman penulis). Beliau adalah seorang tokoh pembawa agama di satu perkampungan yang berada kawasan Sumedang Jawa Barat. Tempat di mana ia dan keluarganya tinggal. Satu pemukiman yang awalnya dihuni mayoritas masyarakat awam yang buta agama. Namun sekarang, berkat semangat dan kegigihan serta kesabaran dakwah sang Ustd, daerah tersebut berubah menjadi kampung yang dihuni banyak santri dan para kyai.

Suatu hari ia bercerita tentang sekelumit kisah hidupnya. Begitu mulia cita-citanya, demi mengajak umat agar mau ta’at kepada Allah dan Rasulnya ia lebih memilih hijrah ke daerah yang gersang dari agama daripada menetap di tempat kelahirannya yang banyak ditinggali para ‘alim ’ulama. Seketika Ia pun teringat nasihatnya sang guru: “Apabila engkau ingin menjadi manusia yang bermanfaat, maka hijrahlah ke tempat yang banyak dihuni orang-orang buta (buta agama) lalu tebarkanlah tongkat (ilmu) di sana”.

Kemudian beliau pun menceritakan kisah perjuangan dakwahnya di sana. Dari pertama singgah hingga sekarang telah 20 tahun lamanya. Dengan santun ayah dari 10 orang anak itu membuka cerita. Ia berkata: “Tak ada hadiah yang lebih indah dan membahagiakan bagi seorang pendakwah selain dapat menyaksikan mereka yang didakwahi menjadi golongan orang-orang yang ta’at beribadah. Karena tujuan sebenarnya dakwah bukanlah agar sang da’i mendapati banyak jema’ah. Melainkan supaya semakin banyak orang menjadi ta’at pada perintah Allah dan RasulNya”

Dalam perjalanan mewujudkan cita-cita mulianya tentu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Mengolah warga kampung sehingga menjadi orang-orang yang ta’at beribadah, mau menegakkan shalat, membayar zakat, menjalankan puasa serta mau mengerjakan ibadah-ibadah lainnya seperti sekarang ini bukanlah pekerjaan yang enteng. Ia harus menempuh berbagai macam terpa ujian. Ilmuannya diuji, kesabarannya diuji, komitmennya diuji, Semangatnya diuji, segalanya serba diuji. Ia pun dihina dan dicaci maki. Diusir, diancam, ditantang berkelahi bahkan sampai dilempari kotoran sapi. Demikianlah beliau menuturkan sederet pengalaman pahitnya menjadi seorang da’i.

Panjang lebar sang Ustadz yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji ini berbagi cerita dan pengalaman. Namun dari segudang pengalaman juangnya itu, satu hal yang saya garis bawahi dan ini dapat menjadi bekal bagi generasi para d’ai. Bahwa untuk dapat menjadi da’i sejati ia harus mempersiapkan keilmuan yang mencukupi, semangat juang yang tinggi, serta tingkat kesabaran yang ekstra. Dan yang lebih penting lagi adalah niat yang lurus. Berdakwah hanya untuk Allah semata.

Akhirnya saya teringatkan sirahnya para Nabi. Sungguh tak akan terbalas jasa mereka. Berjuang mengeluarkan umat dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Dalam menunaikan titah mulia dari Tuhannya mereka pun ditentang dan dimusuhi. “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS. Al-Furqan : 31).

Seperti itu pula yang dirasakan Ustd. Musthafa, dan mungkin kader-kader dakwah lain di luar sana. Maka tidaklah heran jika seorang da’i dimusuhi, ditentang, dibantah bahkan difitnah. Sekali lagi: karena setiap orang yang mengajak kepada Allah pasti ditentang dan dimusuhi. “Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (kebenaran itu)…” (QS. Al-Anfal : 6). Begitulah konsekuensi dakwah. Begitulah resiko seorang da’i. Seperti halnya para Nabi, perjuangannya tidak mulus dari onak dan duri. “Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu…” (QS. Al-Insan: 24).

Wahai para kader dakwah. Jadilah engkau da’i yang ikhlas, yang berpegang teguh hanya pada hukum Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. Tanpa harus tergoyah harapan akan penghormatan atau sebuah ketenaran, apalagi jika dakwah dijadikan sumber penghasilan. Da’i sejati berdakwah semata-mata hanya mengharap Ridha Illahi.

Wahai para wakil Allah. Bersabarlah atas mereka yang memusuhi, yakinilah itu semua karena ketidaktahuannya. Usah hiraukan halang rintang yang menghadang. Percayalah suatu hari Allah memberikan kemenangan. Bersabarlah, bersabarlah. Bersabarlah dan teruslah berdakwah. Jangan patah sebelum sampai di jannah.

Wahai para warisan Nabi. Jadilah engkau da’i sejati. berdakwahlah dengan hati, ajaklah mereka dengan hikmah dan cinta. Selamatkan umat dari kegelapan. Bawalah mereka berdiri tegap satu barisan dibawah kibaran bendera Rasulullah Saw.

Wahai para da’i sejati, teruslah berdakwah, teruslah berkarya. Allahu Akbar..!
[]

Penulis : Wahid Abdul Wahidin
Sumedang, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.