Header Ads

Aksi Bela Islam

Dakwah Kampusku Tidak Melulu di Masjid

ADK (ilustrasi Dakwatuna)
Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Awalnya aku mengira ini adalah kampus yang notabene mahasiswanya hanya memiliki kemampuan dalam bidang statistik saja. Hal pertama yang terbayang ketika berniat mendaftar adalah nanti di kampus ini aku akan bertemu dengan pemuda pemudi yang ‘bermuka matematika’ dan dari wajahnya hanya terpancar rangkaian rumus-rumus penghitungan. Keseharian kampus hanya akan ramai ketika ada waktu kuliah kemudian setelah itu kampus sepi karena mahasiswanya fokus untuk mempertajam kemampuan berpikir dan analisis statistik saja.


Ternyata hipotesaku bahwa kampus STIS akan sepi selain waktu kuliah tidak terbukti kebenarannya. Tahun pertama menjadi bagian dari mahasiswa STIS saja sudah tampak ada satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang dalam setiap minggunya menyajikan kegiatan di luar waktu kuliah. UKM ROHISSTIS nama UKM itu. Kamis sore adalah waktu rutin UKM ROHISSTIS mengadakan kajian Islam di masjid kampus yang terbuka untuk diikuti siapa saja. Kajian demi kajian kuikuti setiap pekannya. Kuperhatikan dengan seksama, ada tidak kurang dari 3 kakak tingkat yang sering berpartisipasi sebagai ‘seksi repot’ dari penyelenggaraan kajian tersebut merupakan kakak tingkat yang ikut menjadi panitia magradika (semacam kegiatan ospek kampus bagi para mahasiswa baru). Kepanitiaan magradika saat itu terbentuk tidak terlepas dari kontribusi para aktivis Senat Mahasiswa (Sema). Oleh karena itu, di tahun kedua aku niatkan untuk bergabung ke dalam Sema dengan berharap dapat menjawab kesangsianku bagaimana bisa mereka profesional dalam magradika namun tetap berkontribusi aktif dalam kajian islam rutin.

Alhamdulillah, keinginanku untuk bergabung dalam kepengurusan Senat Mahasiswa di tahun kedua terpenuhi. Selama menjalani masa bakti kepengurusan, aku dapat banyak sekali teguran yang aku anggap sebagai pelajaran dari ketua Sema ketika itu. Teguran-teguran itulah yang cukup membuat kesangsianku saat tahun pertama kuliah lalu tentang mereka terjawab. Ketua Sema saat itu juga sering sekali kulihat hadir dalam kajian rutin dan aktif di UKM ROHISSTIS ketika tahun pertama lalu. Satu teguran yang aku ingat di antara banyak teguran beliau kurang lebih seperti ini
“Akhi, berdakwah itu tidak terbatas dilakukan di sekitar masjid saja. Berdakwah tidak harus menjadi pengurus UKM ROHISSTIS saja. Tapi di manapun, kapanpun dan apapun organisasi yang antum ikuti, kita harus bisa mewarnai setiap kegiatannya dengan nilai-nilai dakwah. Simpel saja, dakwah itu mengajak orang di sekitar kita kepada hal yang baik sesuai ajaran Islam. Namun kesibukan diluar UKM ROHISSTIS sebisa mungkin tidak mengurangi kontribusi kita dalam aktivitas syiar kampus yang dihidupkan melalui UKM ROHISSTIS tersebut. Hal paling minimal yang bisa antum lakukan adalah ajak teman-teman untuk ikut hadir dalam kajian islam yang setiap kamis rutin diadakan di masjid kampus. InsyaAllah dengan melakukan hal itu selain kita dapat siraman rohani di tengah kesibukan kita, kita juga bisa dapat pahala karena telah mengajak teman-teman turut hadir dan bersama-sama memperbaiki diri kepada hal yang lebih baik sesuai ajaran Islam.”

Subhanallah, aku bisa bertemu dengan sosok ketua Sema yang luar biasa seperti beliau. Benar saja potongan teguran beliau “…di manapun, kapanpun dan apapun organisasi yang antum ikuti, kita harus bisa mewarnai setiap kegiatannya dengan nilai-nilai dakwah …”. Ketika magradika untuk mahasiswa baru di tahun berikutnya, aku dan ketua Sema menjadi bagian dari kepanitiaan tersebut. Selama masa perencanaan hingga pelaksanaan banyak sekali aktifitas dakwah yang bisa dilakukan antara lain, ketika di tengah-tengah rapat panitia sudah masuk waktu sholat maka kita inisiatif untuk meminta pemimpin rapat menunda rapat tersebut supaya memberi kesempatan panitia sholat di awal waktu. Selain itu ketika perumusan rancangan acara selama magradika, kita bisa berpartisipasi dalam ‘mempercantik’ konsep acara sehingga kontennya tidak bersifat hedonis, tidak memberatkan mahasiswa baru dan mengurangi kegiatan yang besar peluangnya terjadi aktivitas campur baur antara mahasiswa baru dengan mahasiswi baru maupun antara panitia dengan peserta magradika yang berlawanan jenis.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Aku harus sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari mahasiswa muslim STIS termasuk pernah menjadi bagian dari kepengurusan Senat Mahasiswa dan kepanitiaan magradika sehingga di dalamnya aku belajar bahwa berdakwah itu tidak harus selalu di masjid karena dakwah tidak mengenal di mana, kapan dan apapun kita. Kurang lebih seperti itulah inti dari seruan singkat yang kini kukenal dengan “Nahnu du’at qobla kulli syai’in” bahwa kita adalah penyeru sebelum segala sesuatu kita alami.

Penulis : Aditya Sangaji
Depok, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

1 comment:

Powered by Blogger.