Header Ads

Aksi Bela Islam

Ingin Saya Dakwahkan Quran Ini Hingga ke Pelosok-Pelosok

Demonstran Pro Mursi baca Qur'an (foto Viva)
Inilah mungkin alasan para ulama menempatkan hadits niat sebagai salah satu hadits pokok dalam amal kaum muslimin. Seringkali mereka menempatkan hadits ini di awal-awal kitab mereka. Karena niatlah yang mendasari amal setiap muslim. Dan niatlah yang menentukan diterima tidaknya sebuah amal, atau dibalas seperti apa nantinya. Inilah kekuatan utama kita dalam memulai kehidupan. Inilah kunci sebenarnya.

Berawal dari niatlah saya menemukan “dunia” saya. Hingga dalam suatu hari saya mulai menyibukkan diri dengan mesjid. Maka benarlah Rasulullah saw. mengabarkan pada kita tentang sunanal huda di mesjid. Saya mulai menemukan jati diri saya. Saya mulai menyenangi dunia ke-Islam-an. Yang biasanya terbiasa dengan lembaran-lembaran kuning Safinah, Fathul Qarib, dan Sullam Taufiq, kini saya mulai membuka mind saya dengan buku-buku Pergerakan Islam, tokoh-tokoh Islam, Tarikh Islam, Fiqh perbandingan, Tafsir, dan sebagainya, hingga saya benar-benar mencintai dua bidang; yakni Ilmu dan Dakwah.

Saya memang dibesarkan dalam keluarga santri NU, tapi sedari kecil saya dibiasakan dengan pendidikan Muhammadiyah. Karena kecintaan saya pada ilmu, di Bandung, kaki saya mulai melangkah ke majelis-majelis Ilmu Persis, sampai akhirnya saya menemukan Tarbiyah di 2003 dengan wasilah teman saya yang telah lebih dulu bersama tarbiyah.

Di Tarbiyah-lah saya menemukan konsep Halaqah/Liqa’at/Usrah. Di Tarbiyah-lah saya menemukan hulu dakwah itu, yakni Al-Quran. Di sinilah saya menemukan medan. Dengan Quran-lah saya menemukan keakraban. Di bidang inilah saya mulai memiliki kontribusi dalam dakwah. Tahun 2004 merupakan awal yang manis dengan Al-Quran. Berawal dari menemukan sebuah liflet Lembaga Tahfidzh, saya mulai membuka babak baru dalam dakwah bil Quran. Saya datangi Lembaga itu dan bergabung karena lulus test beasiswa yang diadakan. Saya sangat bersyukur akan hal itu. Saya digenjot dengan Tahsin, Tahfidzh, dan Tadabbur Quran yang sangat lezat. Tiga kali dalam sepekan saya menyetorkan hafalan pada Musyrif; sepulang sekolah, dengan jarak jauh, uang pas-pasan, dan bermandi keringat, pulang ke rumah tanpa alas kaki (karena ada yang ghashab di salah satu mesjid), ditegur guru di sekolah (karena asyik me-muraja’ah hafalan di bangku belakang), tapi semuanya terasa menyenangkan dan tak tergantikan.

Bersama kawan-kawan, saya membangun ROHIS di sekolah. Berbagai kegiatan dakwah kami adakan secara rutin termasuk membentuk KATALIS (Komunitas Tahsin Analis). Di program inilah saya berperan. Saya dipercaya mengajar Tahsin untuk satu sekolah. Ramadhan menjadi titik tolak kemajuan ke-Quran-an di sekolah kami. Tilawah Quran menjadi kebanggaan, bahkan rutinitas sebelum belajar bagi setiap siswa di kelas-kelas. Kami sangat bersyukur, dakwah bil Quran memang masuk ke semua lapisan. Jika setiap siswa ber-tilawah qabla belajar, anak ROHIS lebih dahsyat lagi. Mereka (Anak-Anak ROHIS) terutama yang tergabung dengan KOPI ANALIS (Komunitas Pengajian Pagi Analis) mewajibkan mereka sendiri dengan menghadiri Tilawah Jama’i dan kajian pagi sebelum bel masuk kelas berbunyi, di mesjid sekolah.

Kecintaan saya pada Quran dan dakwah semakin besar. Saya terus menambah hafalan setiap hari, ratusan buku Islami telah dilahap, majelis-majelis dikunjungi, dan membina halaqah-halaqah dan kelas Quran terus dijalani. Meski saya telah berkeluarga di usia dini, semangat ber-Quran terus bergelora, saya masih terus menyetorkan hafalan ke Musyrif dan membina halaqah-halaqah Quran. Semoga Allah membersihkan hati saya.

Akhirnya saya pun terjun ke masyarakat dengan Quran. Kelas-kelas Quran telah terbentuk dengan beranggotakan karyawan Pabrik, santri pesantren, anak-anak sekolah dan mahasiswa. Meski bertempatkan sudut-sudut mesjid, ruang-ruang kecil sewaan, atau aula sekolah yang selalu riuh dengan teriakan, Quran tetap jalan. Begitu ringannya membawa Quran, meski sejatinya ia adalah urusan yang berat dan menyibukkan langit. Quran masuk ke semua kalangan muslim tanpa kecuali, karena kita faham betul, “Kitaabunaa waahid! Ya’ni Al-Quraan Al-Kariim”. Untuk menajamkan kafa’ah, saya kuliah di fakultas Tarbiyah di salah satu perguruan tinggi dan memperdalam Bahasa Arab di salah satu Ma’had milik Uni Emirat Arab di Bandung. Tujuannya satu, li fahmil Quraan wa tathbiquhu.

Dan kini, setelah pengembaraan Quran di Bandung, Serang, Merak, Indramayu, Cirebon, yang begitu lezat, saya memutuskan untuk membangun Lembaga Quran di kampung halaman sendiri, Majalengka. Alhamdulillah, telah beranggotakan puluhan santri yang bersemangat dengan Quran. Semoga Allah selalu menjaga hati saya. Akhir kalam, Ingin Saya Dakwahkan Quran ini hingga ke pelosok-pelosok! Allaahummaj’alil Quraana lanaa fi Ad-Dunya qariinaa, wa fi Al-Qiyaamati syafii’aa. Amin.

Penulis : Mochamad Teguh Azhar
Majalengka, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

1 comment:

Powered by Blogger.