Header Ads

Aksi Bela Islam

Nurhasan

Angkutan kota (foto fadil.us)
Ia tak terlalu tinggi, mungkin sekitar 160 cm. Badannya tegak, berkaca mata dan bersahaja. Sorot matanya nampak tenang tapi berkarakter. Pesona kharismanya muncul bukan kepada orang yang mengenalnya saja namun sudah dapat dirasakan oleh orang yang baru melihatnya. Ia adalah seorang pendidik sekaligus motivator. Kata-kata optimisme salalu menghiasi dalam setiap obrolannya. Rangkaian katanya membakar semangat tapi tak membumi hanguskan harapan, justru mengubah celah kecil menjadi pintu keluar yang lebar. Ia seakan-akan mampu mengubah pohon yang hampir mati menjadi pohon segar yang siap untuk berbuah. Cara bicaranya cepat, terkadang kedua tangannya ikut bergerak, menjadi animasi, menyampaikan makna dan hikmah. Sosok ramah dan santun itu bernama Nurhasan, Ustadz Nurhasan.

Dalam kesehariannya Ustadz Nurhasan sangat bersahaja, meskipun ia adalah seorang kepala sekolah di salah satu SDIT di Jakarta Selatan namun ia selalu menggunakan motor ke mana pun ia pergi, baik itu untuk mengisi seminar maupun ke sekolah tempat ia mengajar. Sampai pada suatu hari ia mengalami kecelakaan. Tak ada luka yang serius memang, namun mengukir trauma dalam dirinya untuk kembali menggunakan motor. Trauma itu muncul manakala ia membayangkan jika saja pada saat ia terjatuh ada sebuah mobil yang melanju kencang dari belakang dan menggilasnya, untung saja hal itu tak terjadi. Setelah kejadian itu sang ibu memberi nasehat kepada anaknya,

“Ya udah San, sekarang naik angkot saja. Itung-itung bagi-bagi rezeki dengan supir anggkot” ujar sang Ibu.

Ia merenungkan nasehat sang ibu dan tentu saja itu adalah nasehat yang bijak. Kemudian ia bertekad bahwa ia tidak hanya ingin sekedar naik angkot saja namun ada kebaikan yang dapat ia berikan untuk siapa saja saat ia menggunakan kendaraan massal itu.

Pagi itu, ia mulai menggunakan angkot kemana saja ia pergi. Ia selalu menggunakan peci dan jaket berwarna hitam ketika berpergian. Hal yang menarik adalah setiap kali ia naik angkot, ia selalu duduk di depan, di samping sang sopir. Di sanalah ia menciptakan suasana yang berbeda, ia mengajak diskusi sopir dengan hal-hal ringan. Tentang semakin padatnya kota Jakarta, tentang setoran sopir yang selalu kurang dan hal lainnya yang disukai sang supir. Ia menjadi seorang pendengar yang baik, berusaha memahami dan memberikan kenyamanan kepada lawan bicaranya yang hampir semua bercerita tentang kesulitan hidup.

Dalam suasana keakraban itu ia tanamkan dan tumbuhkan ajaran-ajaran Islam. Dalam kekawatiran uang setoran yang selalu kurang, sang Ustadz meyakinkan kepada sopir bahwa Allah-lah yang mengatur rezeki,

“Tugas kita hanya meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar Selanjutnya serahkan kepada Allah dan bertawakal” dengan penuh ketenangan dan senyuman tipisnya.

Suntikan motivasi dan kehangat itu ia tebar pada seluruh sopir angkot yang ia naiki. Satu hal lagi yang membuat para sopir merasa senang berpenumpang Ustadz Nurhasan, ia selalu melebihkan ongkos angkotnya. Jika tarifnya empat atau tiga ribu rupiah maka ia sering membayar dengan uang lima ribu rupiah dan menolak uang kembalianya.

“Kita tak akan jatuh miskin dengan melebihkan ongkos” itu jawaban sang Ustadz.

Hingga suatu hari, Ustadz Nurhasan seperti biasa menunggu angkot untuk mengantarnya ke sekolah. Berhentilah sebuah angkot dan seperti biasa sang Ustadz memilih duduk di depan, di samping sopir. Namun ada yang aneh dengan sopir ini, sorot matanya begitu tajam. Memperhatikan penampilan Ustadz Nurhasan dengan sangat detail dari atas hingga ke bawah. Bak seorang petugas keamanan yang memeriksa setiap pengunjung pameran.

“Ada yang salah dengan penampilan saya pak?” Tanya Ustadz Nurhasan penuh keheranan.

“Maaf Pak, begini, sekarang sopir angkot jurusan Pondok Labu sedang rame ngomongin orang. Katanya orang itu baik, ramah. kalo duduk selalu di depan dan ngajak ngobrol sopirnya dan kalo turun, ongkosnya dilebihin. Katanya dandanannya suka pake peci hitam dan jaket hitam, persis kaya Bapak. Mungkin Bapak kali ya? Yang jelas semua sopir sekarang pengen ketemu sama orang itu.” Jawab sang sopir dengan logak asli Betawi.

Ustadz Nurhasan senyum, seraya bertasbih.

Kawan, terkadang kita terlalu meremehkan hal yang sederhana padahal ia bisa menjadi istimewa. Itulah yang dilakukan Wall-e kepada Eve, itulah yang dilakukan Muhammad Ayyas sehingga memikat hati Doktor Anastasia Palazzo dan itulah yang dilakukan Ustadz Nurhasan sehingga sosoknya begitu harum dan dirindukan oleh setiap sopir. Seperti tekad kuat Marlin yang mencari anaknya Nemo hingga ia terkenal di jagad samudera raya. []

Penulis : Syarif Hidayat
Sukabumi, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

3 comments:

  1. penasaran dg kelanjutannya...... (eh, ada sambungannya nggak yah...)

    ReplyDelete
  2. masya Allah, kisah nyata yang begitu mempesona...

    salam untuk ustadz tersebut

    ReplyDelete
  3. Ustadznya luar biasa.. penulisnya jg luar biasa bs menceritakan sosok seorang ustadz yg mungkin orang lain memandang biasa saja .. tp d cerita ini menjadi luar biasa.. :D

    ReplyDelete

Powered by Blogger.