Header Ads

Aksi Bela Islam

Penasaran yang Berujung Cinta…

Akhwat cinta - desainkawanimut
Aku memang bukan berasal dari keluarga yang ahli ibadah, orang tuaku hanya mencontohkan ibadah yang wajibnya saja sedangkan yang sunnah tidak, mungkin karena itulah mereka menyekolahkanku di Madrasah Tsanawiyah.

Sejujurnya, tidak ada perubahan yang signifikan selama aku bersekolah di sana hingga pada akhirnya aku lulus dan tidak mau bersekolah di Madrasah lagi, aku melanjutkan ke sekolah umum kejuruan lebih tepatnya sekolah teknik yang jumlah siswinya lebih sedikit dibandingkan siswanya.

Awalnya niatku untuk melanjutkan sekolah di sana karena aku tidak mau pergi ke sekolah menggunakan jilbab lagi dan supaya lebih terlihat tomboy, tapi Allah berkehendak lain dan pada akhirnya aku tidak melepas jilbabku dan sisi kewanitaanku tidak hilang.

Di sekolah itu ada namanya DSL (Dakwah Sistem Langsung). Setiap murid baru wajib mengikuti itu baik ikhwan maupun akhwat, karena kalau tidak mengikuti nilai agamanya jadi terancam. Maka ikutlah aku kegiatan itu walaupun awalnya terpaksa.

Ternyata gambaranku tentang sekolah teknik siswinya pada tomboy berbanding terbalik dengan kenyataannya, siswinya berkerudung panjang-panjang seperti sekolah di pesantren dan selalu mengucap salam apabila bertemu. Aku tahu kakak kelas mengincarku untuk menjadi penerus selanjutya karena mereka mengnggap aku lebih paham tentang agama daripada yang lain, tetapi entah mengapa aku belum tertarik dengan hal seperti itu, aku bahkan sering kabur jika diajak untuk DSL rutin.

Berhubung program sekolahku 4 tahun, 3 tahun pendidikan formal dan 1 tahun pendidikan sistem ganda alias magang diindustri, selama 3 tahun bersekolah aku sangat tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan dakwah karena aku tahu pasti mereka tugasnya selalu menasihati dan menasihati walaupun orang yang dinasihati sudah bosan. Dakwah memang menyebalkan sampai bikin orang jenuh. Tetapi entah mengapa hal itu berubah ketika aku sudah di kelas 4.

Aku magang di salah satu perusahaan swasta di Jakarta dan aku ditempatkan di bagian program dan menjadi programmer. Sejujurnya aku sangat tidak suka ditempatkan di bagian itu karena latar belakang aku jurusan elektronika dan harus bekerja seperti itu yang kebanyakan latar belakangnya komputer jaringan. Aku berusaha menjalankannya dengan ikhlas tetapi aku merasa kerjaanku ini sangat monoton sekali dan aku berusaha mencari hal yang tidak membuatku bosan, awalnya aku buka media sosial untuk menghilangkan kejenuhan aku, sampai pada akhirnya aku membaca salah satu status temanku dan tidak sedikit yang berkomentar di statusnya. Statusnya tentang agama dan berisi nasihat untuk kaum muda. Entah kenapa akupun penasaran dan langsung mencari informasi kebenaran tentang status yang dibuatnya itu. Setelah aku mencari, memang jawabannya tepat sesuai dengan isi status itu, tetapi rasa ingin tahuku lebih besar dan merambat ingin tahu informasi lain sesuai dengan tuntutan agama yang benar.

Aku selalu mencari dan mencari informasi yang aku inginkan yang sesuai syariat agama tetapi menurutku ini masih sebagian kecil dan belum seberapa, aku butuh orang yang benar-benar mengerti tentang ilmu agama dan menjelaskannya kepadaku. Ternyata Allah mendengar kegelisahanku dan tak lama kemudian akupun bertemu seseorang yang menurutku benar-benar mengetahui ilmu agama lebih jauh daripada diriku.

Jika Allah sudah berkehendak, tidak akan ada yang bisa melawan kehendak-Nya. Itulah yang terjadi pada diriku. Orang itu memang tidak tahu kalau awalnya aku sangat menyepelekan dakwah, orang itupun tidak mengguruiku walaupun dia ilmunya lebih banyak daripada dariku, dia hanya mencontohkan setiap aktivitas yang dia lakukan sesuai dengan syariat seperti minum tidak pernah sambil berdiri, selalu melaksanakan kewajiban shalat di manapun dan kapanpun dan dalam keadaan apapun. Ada perasaan kagum terhadap dirinya dan ketika aku mengikuti apa yang dia kerjakan maka perasaanku menjadi lebih tenang walaupun sedang banyak masalah. Begitu banyak artikel yang aku baca tetapi terasa sulit untuk mengerjakan syariat sesuai Al Qur’an dan hadits, tetapi seketika rasa sulit itu memudar ketika bertemu dengan orang itu. Aku merasa malu pada diriku sendiri dan aku juga yakin aku bisa seperti dia yang selalu menjalankan syariat Islam sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan. Semoga Allah senantiasa merahmatinya.

Rencana Allah itu sungguh indah, jika Allah sudah memberi hidayah-Nya maka sungguh beruntung orang yang sudah mendapatkan hidayah-Nya. Dakwah yang selama ini aku kira menyebalkan dan membosankan ternyata indah sekali. Aku bahkan menyesal waktu itu kabur-kaburan saat diajak untuk DSL, dan untuk saat ini aku sedang giat mendakwahkan keluargaku sebelum mendakwahkan orang lain, memang sulit tetapi yakinlah Allah akan membantu. Islam itu indah dan keindahan itulah yang membuat aku sangat cinta kepada Islam. []

Penulis : Andinny Pratiwi Suhendar
Bekasi, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.