Header Ads

Aksi Bela Islam

Perjalanan ke Dunia Hikmah

Menikah (desainkawanimut)
Pagi itu hari Selasa. Seperti biasa, aku bersama dua rekanku menembus keramaian kota Jogja demi menghadiri kelas bahasa Arab. Seperti biasa pula, guru kami menyelipkan berbagai macam kisah di sela-sela pelajaran. Kisahnya selalu mengandung pelajaran hidup. Kegemarannya dalam bercerita mungkin karena ia terbiasa mengisi pengajian ibu-ibu dan muslimah. Hal itu mungkin juga didukung oleh statusnya sebagai mahasiswa S2 dan ibu 2 orang anak, sehingga wawasannya menjadi luas.

“Kemarin saya chatting sama teman di facebook,” katanya tiba-tiba. Kami sedang mencatat. Diam. Lalu tersenyum. Kisahnya akan segera dimulai.

“Saya mendapat cerita luar biasa darinya. Pelajaran buat kalian, kelak kalau mencari pasangan hidup jangan sekedar berpatokan fisik dan hartanya.” Kami menyimak penuturannya sambil melanjutkan kegiatan mencatat kosakata bahasa Arab yang tertulis di papan tulis.

Konon, datang seorang pemuda ke rumah orang tua kekasihnya. Ia hendak melamar gadis pujaannya. Seperti kebanyakan orang tua, ayah gadis itu sangat memperhatikan bibit, bebet, dan bobot calon menantunya. Malang, pemuda itu pulang membawa kekalahan karena tidak lolos kriteria menantu idaman. Ia bukan berasal dari keluarga kaya dan belum mapan secara finansial.

Sekian tahun berlalu. Matahari terbit dan tenggelam setiap hari. Pemuda itu tetap melanjutkan hidupnya. Ia bekerja. Ia berhubungan dengan banyak orang. Singkatnya, ia menjadi orang yang sukses. Ia memiliki kebun kelapa sawit yang sangat luas di luar tanah Jawa. Dan yang paling penting, ia telah menikah dan memiliki dua orang anak. Ia hidup dengan bahagia.

Namun, musibah datang kepadanya suatu hari. Istrinya meninggal karena digerogoti penyakit. Saat itu anaknya seusia anak-anak SD dan SMP. Pada awalnya, ia berusaha mengatasi urusan rumah tangga dengan tangannya sendiri. Akan tetapi, ia kewalahan. Setelah berdialog dengan kedua anaknya, ia pun memutuskan untuk mencari ibu baru bagi anak-anaknya.

Suatu hari, seorang rekannya di jejaring sosial merekomendasikan wanita perawan yang sudah berumur 40 tahun. Wanita itu telah mengalami perjodohan berulang kali, tetapi tidak satupun yang berhasil. Kadang pihak pria mantap mempersuntingnya, tetapi wanita itu menolak. Kadang wanita itu bersedia dinikahi, tetapi pihak pria tidak berniat melanjutkannya ke pelaminan. Selalu seperti itu selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, ayah dua anak itu tidak keberatan dengan kondisi si wanita. Tidak butuh waktu lama, akhirnya ia terhubung dengan wanita itu dan keduanya memutuskan untuk bertemu. Ia terbang ke pulau Jawa secepat yang ia bisa.

Betapa terkejutnya pria itu ketika tiba di depan rumah si wanita. Pemandangan di depannya tidak asing. Pagar rumah itu. Pohon di depan rumah itu. Bahkan cat rumah itu, sangat akrab dengan matanya. Hatinya berdegup kencang. Pikirannya sibuk berprasangka. Sejak awal, ia merasa tidak asing dengan alamat rumah yang diberikan wanita itu. Tetapi ia menepis dugaannya. Mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya.

Ketika pintu rumah itu terbuka, seorang wanita muncul dari balik pintu. Pandangan mata kedua orang itu bertemu. Mendadak waktu berhenti. Mendadak semua cahaya padam. Hanya ada mereka berdua. Bertahun-tahun yang lalu, pria itu datang ke rumah itu. Sekarang, dengan maksud yang sama, pria itu kembali ke rumah itu. Bedanya, ia bukan lagi pemuda miskin yang merindukan bulan.

Heran dengan kelakuan anaknya yang terdiam di depan pintu, ayah wanita itu mendekatinya. Betapa terkejutnya ia menyaksikan pria yang berdiri di halaman rumah. Langkahnya tertatih menghampiri pria itu. Ia hendak memastikan penglihatannya tidak salah. Bahwa pria itu adalah pemuda miskin yang melamar anaknya bertahun-tahun yang lalu.

Pria itu juga berjalan mendekati si ayah. Matanya berkaca-kaca. Ketika keduanya berada pada jarak sejengkal, pria itu berkata, “Ini saya, Pak. Anda tidak salah lihat. Maafkan atas kebebalan saya. Saya datang lagi kemari hendak melamar putri Bapak lagi,” suaranya bergetar, lalu pria itu menunjuk mobil yang ia parkir di luar pagar rumah. Ia bermaksud mengatakan bahwa mobil itu miliknya, tetapi ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Pertahanan si ayah runtuh. Tangisnya tidak mampu ia bendung lagi. Ia peluk pria itu erat-erat. Ia tepuk bahu pria itu keras-keras. “Maafkan Bapak, Nak. Maafkan Bapak,” katanya sesenggukan. Di belakang mereka, si wanita sudah bercucuran air matanya.

Air mata haru juga mengisi sudut-sudut mataku. Dari sekian banyak kisah yang diceritakan guru kami, inilah kisah paling indah yang pernah kudengar. Pada akhirnya, kedua orang itu menikah dengan restu semua anggota keluarga. Mungkin takdir berkata bahwa mereka memang jodoh. Mungkin Allah menegur ayah wanita itu yang terpukau dengan indahnya dunia. Hari itu, aku belajar mencintai akhirat dari kisah sepasang kekasih itu. Memahami bahwa kehidupan dunia itu semu. Kejayaan senantiasa dipergilirkan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Supaya manusia berpikir dan mengambil hikmahnya. []

Penulis : Henny Nur Alifah
Sleman, Yogyakarta

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

1 comment:

Powered by Blogger.