Header Ads

Aksi Bela Islam

Refleksi Dzulhijjah, Resolusi Muharram: Taat Tanpa Tapi

Selamat Tahun Baru Hijriyah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Apa Kabar, Sahabat BersamaDakwah? Semoga sahabat sekalian dalam keadaan terbaik. Diliputi kegembiraan dan keberkahan dari Allah yang sama-sama kita cintai. Karena dengan gembira dan berkah yang kita rasakan keberadaannya itulah, kita bisa melanjutkan pertarungan kehidupan yang semakin penuh dengan makar dan tipudaya ini.

Sahabat, mungkin ketika membaca tulisan ini, kita masih berada di akhir bulan Dzulhijjah. Mungkin juga, ada sahabat kita yang lain, baru mendapati Inspirasi Redaksi ini, di awal Muharram 1435, atau, bisa jadi, ada sahabat lain yang baru bisa menikmati tulisan ini, jauh setelah kedua bulan ini.

Maka, kapanpun sahabat menikmati tulisan ini, kami berharap, semoga tulisan sederhana ini tetap memberikan inspirasi kepada sahabat semuanya. Sehingga kita senantiasa bersemangat untuk melanjutkan amanah yang Allah berikan, untuk memakmurkan bumi yang kita cintai ini, aamiin.

Sahabat, jika kita mau untuk sedikit berpikir, maka sejatinya, semua yang Allah berikan itu, sangatlah bermanfaat dan memberikan banyak pelajaran. Sebut saja, bulan Dzulhijjah yang akan meninggalkan kita dalam hitungan jam ini.

Dzulhijjah masuk ke dalam jajaran bulan haram. Dimana kaum muslimin dilarang untuk berperang di bulan itu. Ia disamakan dengan Dzulqo’dah, Muharram dan Rajab. Dalam sebuah hadits disebutkan, jika kita berpuasa sehari saja ( termasuk di dalamnya puasa sehari di bulan-bulan haram dan juga bulan lain -red), karena Allah, maka Allah akan membebaskan kita dari api neraka.

Khusus di bulan Dzulhijjah ini, dimana ia menduduki peringkat terakhir dalam kalender hijriyah, ada jutaan keberkahan dan pelipatgandaan pahala yang Allah berikan. Bermula dari keutamaan 10 awal Dzulhijjah, dimana sebagian ulama’ ada yang mengatakan bahwa 10 awal Dzulhijjah itu setara dengan keutamaan 10 akhir Ramadhan. Berlanjut kepada pelaksanaan Puasa Sunnah Arofah- sebagian kita ada yang mengamalkan Puasa Sunnah Tarwiyah juga- , ibadah Qurban dan juga Haji bagi mereka yang telah Allah mampukan. Baik secara fisik, finansial maupun kesadaran.

Jika membincang Dzulhijjah, maka tak mungkinlah kita melewatkan sosok Ibrahim ‘Alaihissalam. Hampir, semua ibadah yang kita lakukan di bulan mulia ini, contoh pertama yang Allah jadikan inspirasi atas semua amal itu, adalah sosok Ibarhim ‘Alaihissalam.

Mari, sedikit membicarakan Kakek Aqidah kita ini. Sedikit saja. Agar otak kita tak terlalu penuh dengan teori, namun anggota tubuh kita enggan bergerak untuk mencontohnya. Maka yang sedikit tema perbincangan kita kali ini, semoga memberikan inspirasi untuk bergerak dan melanjutkan amalan memakmurkan bumi ini.

Kita akan memulai dari prosesi Ibrahim mencari Allah sebagai Tuhannya. Dalam al-Qur’an, kita disuguhi dengan pemandangan Ibrahim Muda yang ‘mengira’ bahwa Bintang, Bulan kemudian Matahari adalah Tuhannya. Dalam masing-masing pencarian terhadap ketiga objek yang dikira Tuhan itu, di akhir kisah, Ibrahim selalu berkata, “Ini bukan Tuhan. Kalau Tuhan, pasti tidak begini. Kalau Tuhan, pasti tidak begitu. Kalau Tuhan, pasti begini.”

Jika kita memulai pencarian akan Tuhan sekalipun, mungkin kita termasuk orang yang beruntung lantaran tidak pernah mengira bahwa ketiga objek itu sebagai Tuhan. Tapi, disamping sebagai sebuah keuntungan, hal itu bisa juga menjadi salah satu kelemahan iman kita. Bahwa ia tak terlalu kuat dan menghujam dalam dada, lantaran kita menerimanya sebagai ‘warisan’ orang tua kita. Dan kita, enggan mencarinya sendiri setelah menerima ‘warisan’ itu untuk semakin menguatkan keimanan kita. Dalan hal ini, dan banyak lagi hal lainnya, dalam keuntungan terletak juga kerugian yang harus kita hadapi.

Selanjutnya, dakwah Ibrahim terhadap masyarakat, orang tua dan rajanya kala itu, begitu menyejarah dan seringkali menjadi tema kajian kita, dalam banyak aspek. Pertama, Ibrahim berhadapan dengan dirinya sendiri. Ia yakinkan dirinya akan siapa Tuhannya yang sebenar-benarnya. Kedua, Ibrahim harus mendakwahi ayahnya. Ini dilema. Bukan saja karena sulitnya mendakwahi orang tua secera umum, tapi lebih dari itu, orang tua Ibrahim adalah salah satu gembong kemusyrikan masayarakat kala itu. Tak tanggung-tanggung, Ayah Ibrahim adalah ‘Pembuat’ Tuhan yang selanjutnya menjadi sesembahan masyarakat kala itu.

Ketiga, Ibrahim mendakwahi Rajanya. Jika kewajiban dakwah Ibrahim itu hendak kita teladani secara ‘ekstrem’ dan sesuai dengan kisah sebenar-benarnya, berarti masing-masing kita, dimanapun kita berada, disamping dakwah kita terhadap keluarga dan masyarakat, maka kita harus pula mendakwahi Presiden atau Pemimpin-pemimpin Negara dimana kita bertempat tinggal.

Proses dakwah terakhir inilah yang memberikan dampak bahaya teramat besar. Jika mendakwahi orang tua kita, sebejat apapun, orang tua tak mungkin membunuh kita karena rasa sayangnya terhadap buah hatinya. Apalagi, dengan cara membakar hidup-hidup. Tapi Ibrahim yang mendakwahi Namrud, dihadapkan dengan kesimpulan pahit : dibakar. Sejarahpun mencatat baik-baik hal ini, Ibrahim dibebaskan oleh Allah dari api yang melilit dan mengerubunginya. ‘Hanya’ dengan bekal tawakkal yang penuh, Allah kemudian memerintahkan kepada api, agar ia menjadi sejuk, khusus untuk Ibrahim kala itu. Subhanalah, Wal Hamdulillah, Allahu Akbar.

Maka pelajaran kedua yang perlu kita catat tebal-tebal dalam otak dan nurani kita terkait dakwah Ibrahim ini adalah : Ketaatan kita kepada Allah, akan menghasilkan ribuan keajaiban yang merupakan ejawantah dari Pertolongan Allah. Ini, selaras dengan firmanNya, Barangsiapa yang menolong Agama Allah, maka Allah pasti menolongnya.

Setelah Ibrahim ‘selesai’ dengan musuh-musuh dakwah, Ibrahim menjadi prototipe dalam ibadah-ibadah kita saat ini. Mulai dari Khitan, Qurban dan Haji. Dalam ketiga ibadah ini, kita mendapati satu hal yang tak terelakkan dari Ibrahim. Yakni ketaatan total atas apa yang Allah perintahkan kepadaNya. Dalam semua perintah itu, ia selalu taat. Tanpa tapi.

Sebut saja dalam sunnah Khitan. Tak satupun riwayat yang kita temukan, dimana Ibrahim mengatakan, “Ya Allah, mengapa kau perintahkan aku untuk berkhitan? Padahal aku sudah sangat tua? Padahal, tak ada alat canggih dan tajam untuk melakukan khitan itu?” Dan aneka kalimat protes lainnya. Taat Ibrahim, dalam hal ini, tanpa tapi.

Berikutnya, dalam syari’ah Qurban. Ibrahim yang sudah lama mendambakan hadirnya seorang anak untuk melanjutkan estafet dakwahnya itu, ketika sang anak, dihadirkan oleh Allah untuk meramaiakan dan semakin mendamaikan keadaan keluarga -juga melanjutkan dakwahnya-, ketika sang anak sholih itu (Ismail) beranjak dewasa dan bisa dibanggakan, Allah memerintahkan agar anak tersebut disembelih.

Bukankah itu perintah yang sangat mustahil? Mending kalau ada SK bermaterai sehingga mempunyai kekuatan hukum? Perintah penyembelihan itu, hanya disampaikan lewat mimpi. Sekali lagi, hanya lewat mimpi. Mending jika mimpi itu berlangsung dalam tempo 30 malam berturut-turut atau lebih, sementara mimpi Ibrahim ini hanya terjadi dalam 3 hari berturut-turut. Dalam hal ini, ada pelajaran yang harus kita gali terkait angka 3. Apa? Mari belajar lebih dalam lagi, tapi bukan di forum ini penjelasannya.

Masih tentang perintah penyembelihan Ismail tercinta. Penyembelihan yang memilukan. Ah, jaman sekarang saja, penyembelihan terhadap seorang anak oleh ayah kandungnya, belum banyak kita dapati. Jikapun ada kasus pembunuhan, maka bentuknya bukan penyembelihan, tapi bentuk lain.

Lantas, apakah Ibrahim melakukan demo mengajak keluarganya untuk menentang perintah Allah ini? Lalu, apakah Ismail juga menolak perintah penyembelihan itu? Dikarenakan perintah ini terkesan ‘aneh dan mengada-ada’? Sekali lagi, sunnah Qurban ini, selayaknya membuat kita berdecak kagum. Bahwa Ibrahim, Ismail dan keluarganya, menaati Allah. Sekali lagi, tanpa tapi.

Ketika Ibrahim berkata, “Anakku, aku melihatmu dalam mimpi, bahwa Allah memerintahkanku untuk menyembelihmu. Apakah pendapatmu?” Sahabat, mari berhenti sejenak, mengapa Ibrahim meminta pendapat Ismail? Padahal, hal itu termasuk perintah yang sangat aneh jika dicerna dengan logika? Bukankah Ibrahim bisa langsung membius Ismail, mengikat kaki dan tangannya ketika ia sedang tidur, lalu menyembelihnya begitu saja? Dalam banyak hal, apalagi terkait perintah Allah, banyak bertanya bisa berujung pada pengingkaran dan kesesatan atas KeMahaBenaran PerintahNya.

Yang menjadi lebih aneh lagi, ketika Ismail menyetujui permintaan Ibrahim dalam rangka menaati Allah itu. Ismail yang sholih, ikhlas, tampan dan gagah itu berkata penuh taat, “Jika itu perintah Rabb Kita, maka lakukanlah apa-apa yang Ayah lihat dalam mimpi Ayah itu.”

Allahu Akbar Walillahil hamd. Sang Ayah diperintah menyembelih anak kesayangannya, Ia taat tanpa tapi. Sang Anak diperintah untuk disembelih oleh Ayah terbaiknya, Anak yang sholih itu, taat tanpa tapi.

Jika kita mau menarik sebuah kesimpulan besar dalam hal ini, khususnya terkait ditaatinya semua perintah Ibrahim oleh anaknya, tanpa tapi. Salah satunya, karena Ibrahim melakukan semua perintah Allah, tanpa tapi.

Sehingga, jika saat ini, sebagai apapun, perintah kita belum ditaati, bisa jadi, lantaran kita, selama ini, terlalu sering mengingkari perintah Allah. Sehingga pelajaran ketiga yang perlu kita jadikan hikmah Dzulhijjah ini, dan sebagai resolusi Muharram kita tahun ini adalah, taat tanpa tapi terkait semua yang Allah perintahkan. Sehingga kelak, kita dimasukkan ke Surga dan dipertemukan denganNya, tanpa tapi pula.

Selamat menapaki semangat Hijrah, semoga kita semakin disayang Allah. Aamiin.[]


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

No comments

Powered by Blogger.