Header Ads

Aksi Bela Islam

Sebuah Hikmah Di Dalam Musibah

Ilustrasi doa (princesharah.blogspot.com)
Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) merupakan salah satu perguruan tinggi kedinasan dari sekian banyak perguruan tinggi di Indonesia. Sama seperti perguruan tinggi lain, di awal ajaran barunya STIS juga mengadakan Masa Integrasi Kampus (Magradika) atau OSPEK pada umumnya yang sering kita dengar. September dua bulan lalu, 500 mahasiswa baru STIS dari seluruh penjuru Indonesia memasuki kampus ini untuk pertama kalinya dan diharuskan mengikuti Magradika dulu diawalnya.
***

Kala itu masih dalam suasana Magradika,

“Mas, Laptop dan handphone anak-anak hilang. Rumah kami barusan kemalingan.” bunyi sebuah pesan yang masuk ke hp ku di tengah gulitanya malam yang banyak membuat orang malas untuk bangun karena terkadang panggilan lembutnya bantal akan terasa jauh lebih nikmat.
“Kok bisa? Gimana ceritanya?” balasku dengan nada penuh kekhawatiran.
“Kami tadi ketiduran, kecapekan habis ngerjain tugas Magradika Jendela rumah kami dibobol.” Sebuah balasan pesan kembali muncul di handphone ku.

Tanpa basa-basi langsung kulangkahkan kaki menuju ke rumah mereka. Dengan penuh kekhawatiran kuayunkan kaki lebih cepat dari biasanya aku berjalan. Kekhawatiranku kali ini bukan tanpa alasan dan juga bukan suatu hal yang berlebihan. Mungkin kemalingan di Jakarta dianggap sudah menjadi hal wajar bagi sebagian besar masyarakat Jakarta. Tapi kali ini berbeda, mereka ini 6 orang Mahasiswa baru STIS yang baru saja aku bawa dari kampung mereka di Jawa Timur dan baru lima hari ini mereka menghuni rumah itu bersama. Aku mempunyai tanggung jawab lebih terhadap mereka karena orang tua mereka telah menitipkan mereka semua kepadaku waktu pemberangkatan ke Jakarta kemarin. Mereka sendiri juga sudah menganggapku seperti kakak yang akan menggantikan keberadaan orang tua mereka selama berada di Jakarta ini. Mungkin itu juga alasan yang membuat mereka menjadikanku orang pertama yang mereka hubungi ketika terjadi musibah ini.

“Assalamu’alaikum, Innalillah… jadi semua penghuni rumah ini kehilangan?” suaraku yang seketika itu memecahkan kesedihan yang sudah mereka buat dari tadi.
“Wa’alaikumsalam, iya mas.. 6 laptop dan 5 Handphone kami hilang. Ini tinggal 1 handphone yang tadi kami pakai buat menghubungi sampean disisain sama malingnya.”
“Masih pengertian juga ya malingnya?” gumamku dalam hati. “ yang sabar ya dek… Insya Allah dibalik kesusahan itu pasti akanada kemudahan”.
“ Iya mas. Tapi gimana dengan tugas-tugas Magradika kami? Kami perlu banget dengan laptopnya buat ngerjain tugas. Gimana kita bisa komunikasi dengan anggota kelompok kita? Handphone kami juga hilang tak berbekas.” Wajah mereka tampak memelas.
“Iya, insya allah nanti kakak bantu buat ngomong ke ketua Magradika tentang musibah ini. Nanti kakak juga coba bantu carikan pinjaman laptop sama handphone. Mungkin juga nanti kakak-kakak dari ROHIS bisa bantu memberi dana. yang sabar ya… Sungguh Allah tidak akan menguji suatu kaum melainkan sesuai dengan kemampuannya.
“Iya mas. Mohon bantuannya.” Balas mereka mengiba.

Kulihat wajah polos mereka berlumuran air mata yang dibalut dengan muka merah meradang karena tangisan. Kutatap tajam mata mereka seolah aku ingin meyakinkan mereka bahwa aku akan berusaha sebaik mungkin membantu mereka. Dan tetap dengan kepolosan wajah mereka, mereka membalas tatapanku seolah mereka ingin juga mengatakan tolonglah kami keluar dari musibah ini.

Hari demi hari telah terlewati, kudapatkan begitu banyak simpati dari kakak tingkat yang ada di ROHIS. Dengan ikhlas mereka meminjamkan laptop dan handphonenya, terlebih lagi, malah ada yang memberi mereka bantuan uang. Kukuatkan moral mereka dalam setiap kesempatan pembinaan rohani mahasiswa di dalam rangkaian kegiatan Magradika. Selalu kuselipkan materi kesabaran dan janji pertolongan Allah kepada hambaNya yang bersabar. Ya memang pembinaan rohani ini adalah cikal bakal dari pembentukan kelompok halaqah kedepannya. Alhamdulillah, melalui pembinaan itu juga hati kita semakin kuat untuk ingin selalu bertemu dalam lingkaran penuh cinta karena Allah ini.

Di penghujung akhir Magradika, Alhamdulillah, pertolongan itu benar-benar Allah tampakkan kepada hambaNya yang bersabar. Ketua RT setempat telah menemukan pelaku pencurian. Barang mereka juga ditemukan dan masih utuh semua. Allahu akbar, syukur berkali-kali terucap dari lisan kami. Dan dari peristiwa semua ini semakin menguatkan hati mereka untuk terus bersama dakwah. Dan syukur Alhamdulillah mereka juga ingin terus istiqamah berada dalam lingkaran halaqah dengan 7 orang lainnya dengan aku sebagai kakak mentornya (murabbi). Sepucuk surat cinta pun tertulis dari tangan-tangan kecil mereka tertuju padaku,

Assalamu’alaikum… mas, terima kasih banyak atas pertolongannya selama ini. Mulai dari pemberangkatan dari kampung sampai hari-hari sulit yang sudah kita lalui bersama. Tapi semua itu telah terasa indah diakhirnya. Terima kasih atas kesabaran dalam membimbing kami sehingga dalam waktu yang singkat ini kami bisa merasakan begitu indahnya islam. Kami ingin selama perjalanan kami mengarungi perkuliahan di kampus ini mas selalu membersamai kami. Daurah pembentukan kelompok halaqah besok insya allah kami semua ikut. Akhirnya tiada kata yang bisa kami ucapkan selain “Mas Jabir, Kami mencintaimu karena Allah.” Wassalamu’alaikum.

Allahuakbar, sungguh indah skenario Allah mempertemukan kami dalam satu lingkaran cinta dalam dakwah ini. Tidaklah Allah mencintakan musibah itu sia-sia. Dakwah bukan hanya sekedar kata-kata tapi juga harus bisa memberikan aksi nyata berupa perhatian terbaik kepada objek dakwah kita. []

Penulis : Emirka Abu Yusuf
Jakarta Timur

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.