Header Ads

Aksi Bela Islam

Tolak Sumpah Pemuda, Mahasiswa Hizbut Tahrir Diserbu Massa

GPI usir Gema Pembebasan (foto Tribunnews)
Sejumlah organisasi dari berbagai lembaga di Kota Palangkaraya yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Indonesia (GPI) menggelar demonstrasi menolak aksi mahasiswa Hizbut Tahrir, Kamis (31/10). Selain berorasi di jalan raya, mereka juga bergerak ke Kampus Unpar dan menyerbu sekretariat Gema Pembebasan.

Di sekretariat gerakan mahasiswa yang berafiliasi kepada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu, beberapa demonstran mengeluarkan sejumlah barang dari rumah yang diduga ditinggalkan penghuni sebelum aksi tersebut.

Mereka juga memasang palang pada bagian pintu. Aksi sempat memanas ketika ada yang berteriak akan membakar rumah kontrakan itu.

GPI mengklaim aksi mereka adalah aksi balasan. Sebelumnya, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Gema Pembebasan menggelar aksi menolak Sumpah Pemuda dan nasionalisme di Indonesia, Sabtu (26/10).

"Kami terpanggil untuk menggelar aksi ini karena tergugah dengan adanya sikap segelintir anak bangsa yang menyatakan menolak sumpah pemuda dan nasionalisme di Indonesia," ujar Yusuf Roni satu perwakilan mahasiswa dalam orasinya, seperti dikutip Tribunnews. [AM/Trb/bsb]


8 comments:

  1. mahasiswa edan ga punya rasa patriotisme n nasionalisme..

    ReplyDelete
  2. sebagai seorang muslim, wajib melihat apa2 yang ia yakini bersumber dr Islam sdgkan nasionalisme bukan bagian dr Islam. Nasionalisme itu ashobiyah.

    Kata nasional dalam nasionalisme, berasal dari kata “nation” atau bangsa, yakni kumpulan manusia yang terikat oleh kesamaan budaya, wilayah, dan sejarah. Istilah lain yang memiliki makna sama, adalah suku. Hanya saja, kata “suku” seringkali digunakan untuk merepresentasikan bangsa dengan ukuran yang lebih kecil.

    ReplyDelete
  3. Nasionalisme/sukuisme juga merupakan ikatan yang berasal dari keturunan/kekeluargaan. Contoh: karena lahir dari ayah-ibu Madura, walaupun sekian puluh tahun hidup di Sampit, tetap dianggap sebagai suku Madura (yang akhirnya dibantai). Contoh lain: karena menikah dengan orang Amerika, maka berhak menjadi warga negara Amerika dan bebas mencari nafkah di Amerika (tanpa kuatir dikejar-kejar pihak Imigrasi).

    ReplyDelete
  4. Rasulullah SAW. memberikan contoh dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dari Mekkah dengan kaum Anshar dari Madinah. Islam juga menghapus status kesukuan Aus dan Kharaj dalam kesatuan iman. Dari manapun asalnya, bagaimana warna kulitnya, dari keturunan apa, selama dia tunduk dalam Islam, maka hak dan kewajibannya menjadi sama. Bilal yang hitam, Salman yang dari tanah Persia, maupun Fatimah binti Rasulullah Saw., memiliki hak dan kewajiban yang sama; wajib untuk sholat 5 waktu sehari, wajib puasa di bulan Ramadhan, dan wajib dipotong tangannya apabila terbukti mencuri, sebagaimana disebutkan dalam salah satu sabda Rasulullah Saw., “… walaupun Fatimah binti Muhammad yang mencuri, maka aku sendiri lah yang akan memotong tangannya.”

    ReplyDelete
  5. Secara tegas, Islam melarang adanya ikatan yang menyatukan manusia selain atas ikatan keimanan. Hadits-hadits yang menyebutkan hal ini antara lain:

    “Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ashobiyah (kelompok-isme, nasionalisme, sukuisme), orang yang berperang karena ashobiyah, dan orang yang mati karena ashobiyah.”
    [HR. Abu Dawud]

    “Dan siapa saja yang berperang di bawah panji kejahilan, ia marah karena ashobiyah, atau ikut menolong (membantu) demi ashobiyah, kemudian ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyah.”
    [HR. Muslim]

    “Sungguh, Allah telah menghilangkan dari dirimu kebanggaan dan kesombongan pada masa jahiliyyah dan pemujaan terhadap nenek moyang. Saat ini ada dua macam manusia, yakni orang-orang yang percaya yang selalu menyadari dirinya, dan orang-orang yang melanggar yang senantiasa berbuat kesalahan. Kamu semua adalah anak cucu Adam dan Adam terbuat dari tanah. Manusia harus meninggalkan kebanggaan terhadap bangsa mereka karena hal itu adalah bahan bakar api neraka. Jika mereka tidak menghentikan semua itu, maka Allah akan menganggap mereka lebih rendah daripada cacing tanah yang menyusupkan dirinya sendiri ke dalam limbah kotoran.”
    [HR. Abu Dawud dan Thabarani]

    “Orang-orang beriman seperti satu tubuh; jika matanya sakit maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit pula.”
    [HR. Muslim]

    Oleh karena itu, kedatangan Islam menyatukan bangsa-bangsa, menepis segala ikatan kekeluargaan, dan menghapus batas-batas wilayah. Aqidah Islam mengajarkan kesamaan hak dan kewajiban antara seluruh kaum muslimin, sementara pasukan jihad Islam menyatukan perbedaan wilayah hingga setiap muslim, baik hidup di Mekkah, Yaman, Palestina, Mesir, maupun Persia (Iran) memiliki hak dan kewajiban yang benar-benar sama dan memiliki pemimpin yang sama. Ketika khalifah menyerukan jihad untuk kaum muslimin, maka di manapun dia, selama tidak ada halangan yang dibenarkan secara syar’i memiliki kewajiban untuk menyambut seruan tersebut. Karenanya tak mengherankan, bagaimana Khalifah al-Mu’tashim di Baghdad memerintahkan pasukan muslim menaklukkan pasukan Romawi, hanya disebabkan seorang muslimah yang hidup di ujung tanah Mesir diganggu kehormatannya.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah,
    argumen yg sangat baik.

    ReplyDelete
  7. Nasionalisme bukan dari Islam (nation state / negara berdasarkan bangsa adalah faham jahiliyah / ta'ashub / sukuisme / ikatan yg rendah)
    Sedangkan islam adalah seluruh umat islam bersodara yg sejatinya hrs satu akidah, satu sodara, satu bendera dan satu negara yakni daulah Islam ... kenapa mau dipecah belah dg faham kufur nasionalisme ... dasar o'on.

    ReplyDelete
  8. Ashobiyah itu semisal HT yang menyerang organisasi islam lainya

    ReplyDelete

Powered by Blogger.