Header Ads

Aksi Bela Islam

KH Muhammad Al Khaththath: Golput Haram

KH Muhammad Al Khaththath
Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) KH Muhammad Al Khaththath mengajak umat Islam yang selama ini golput untuk memperbaiki persepsinya tentang pemilu. Mantan DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ini juga menjelaskan mengapa golput haram.

Dalam tulisannya berjudul "Memperbaiki Persepsi Umat Islam tentang Pemilu" yang dirilis Suara Islam pada Sabtu (21/12), Al Khaththath terlebih dulu menyebutkan bahwa demokrasi haram karena membuat dan menerapkan hukum buatan manusia. "Namun bila DPR mengundangkan syariah Allah Yang Maha Kuasa, maka saya melihat itu bukan demokrasi, justru itu tuntutan tauhid sesuai penjelasan tafsir QS. At Taubah ayat 31," terang Mantan Pemimpin Umum Majalah Al Wa'ie ini.

Al Khaththath juga mengutip ijtima' ulama di Padang Panjang tahun 2009. Komisi A yang diikuti 114 ulama dari seluruh Indonesia yang dipimpin oleh KH. Ma'ruf Amin menghasilkan rumusan ijtima' tentang penggunaan hak pilih dalam pemilihan umum sebagai berikut: (1) Pemilihan umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil rakyat yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa. (2) Memilih pemimpin (nashbul Imam) dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama. (3) Imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat. (4) Memilih pemimpin yang beriman dan bertaqwa, jujur (shiddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunya kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib. (5) Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau sengaja tidak memilih padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Senada dengan hasil ijtima' tersebut, Al Khaththath menjelaskan haramnya golput.

"Perlu juga diingatkan bahwa sikap golput sebagian umat juga telah memberikan tiket gratis kepada kaum tidak beriman menguasai negeri ini. Bukankah ini haram? Oleh karena itu, mari satukan tekad perbaiki persepsi umat tentang pemilu untuk songsong kemenangan Islam" pungkasnya. [AM/Bersamadakwah]

47 comments:

  1. betul... jangan sampai negri ini dikuasai musrikin.... naudzubillah.

    ReplyDelete
  2. Namun Rasulullah tidak pernah mengajarkan sistem demokrasi, Dan kita sbg Muslim hrs mjd muslim yg kaffah, sehingga semua syariat Allah hrs ditegakkan. Smntara yg tjd skrg adalah sistem yg digunakan bkn sistem islam. Semua berjuang pd jln nya sendiri, in shaa Allah syariat Allah akan tegak sesuai janji Allah.

    ReplyDelete
  3. ya kayak ginilah gambaran ulama akir jaman... yang mengajak umat tidak tunduk dengan syariat Alloh... tapi menajak tunduk dengan syariat TANDINGAN ALLOH, yaitu DEMOKRASI.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, 1. .insya qjjl akan nambah lg.

    ReplyDelete
  5. kita kalahkan partai2 SEKULER LIBERALIS SEPRTI DEMOKRAT, PDIP. GOLKAR dl

    ReplyDelete
  6. Giliran untuk urusan Pemilu hukum Islam mau dikanggoin. Sedangkan untuk urusan yg lain, Korupsi, Perjinahan dll hukum Islam dicuekin. Kalo mau Sekuler ya Sekuler sekalian. Kalo mau Islam ya yg Kaffah. Jgn dicampur aduk. Islam terlalu Agung untuk jadi kendaraan Politik di negeri ini yg penuh dg Keculasan.

    ReplyDelete
  7. Ustad Al Khathath ...ada apa dg Antum ??.. Beda banget opini Antum skrg dg beberapa thn yg lalu. Apa Antum sdh Pro " Demokrasi " spt mereka ...

    ReplyDelete
  8. Sakarepmu tot....gag akan ngerubah pilihanku...golput. selamanya golongan putih akan menang melawan golongan hitam

    ReplyDelete
  9. perlu diperjelas mengapa jangan golput:

    "Perlu juga diingatkan bahwa sikap golput sebagian umat juga telah memberikan tiket gratis kepada kaum tidak beriman menguasai negeri ini. Bukankah ini haram? Oleh karena itu, mari satukan tekad perbaiki persepsi umat tentang pemilu untuk songsong kemenangan Islam" pungkasnya.

    ReplyDelete
  10. golput halal !!

    ReplyDelete
  11. jangan seorang ustadt yang hanya mlenceng dari ediologi
    USTAD MURTAD AJA BUANYAAAAKKKKK

    ReplyDelete
  12. golput aja dari pada milih maling semua,

    ReplyDelete
  13. penulis perlu verifikasi kembali tentang al-Khathat,dia itu bukan lagi DPP Hizbut-Tahrir, klw perlu tulisan ini dihapus saja.

    ReplyDelete
  14. SIKAP ANEH PEMBELA DEMOKRASI

    Begitu beragam sikap yang ditunjukkan oleh pihak-pihak yang mengadopsi sistem demokrasi sebagai jalan perjuangan, ketika mereka dihadapkan pada berbagai argumen ketidakbolehan menggunakan demokrasi sebagai jalan perubahan. Sikap konyol sering ditunjukkan ketika mereka sudah kehabisan akal atau argumen untuk menghadapi kelompok yang mengharamkan demokrasi.

    Jika memang demokrasi itu halal, maka orang yang menghalalkannya harus mengeluarkan argumen tentang kehalalan demokrasi. Bukannya mengeluarkan argumen lain yang tidak ada hubungannya dengan tema diskusi, yaitu “tentang halal-haramnya demokrasi”. Misalnya, dikeluarkanlah argumen tentang "menikmati demokrasi". Atau, mengeluarkan argumen yang mengkritik kalangan penolak demokrasi dengan inti pembicaraan "katanya menolak demokrasi, tapi kok menikmati demokrasi", "penolak demokrasi harus berterima kasih pada demokrasi karena mereka dibiarkan leluasa di negara demokrasi", "katanya menolak demokrasi, tapi kok setuju pemilu dan ikut buat KTP?", dan lain-lain. Intinya, tidak ada argumen yang memperkuat kebolehan demokrasi. Yang ada hanya argumen yang tidak ada hubungannya dengan halal haramnya demokrasi. Pertanyaannya: jika memang para penganut sistem demokrasi itu yakin dengan jalan yang ditempuhnya, kenapa tidak mengeluarkan argumennya untuk memperkokoh pendapat mereka sendiri? Kenapa yang ada hanyalah ungkapan-ungkapan yang tidak ada hubungannya dengan halal haramnya demokrasi? Aneh bukan?

    Jika memang yakin bahwa pendapatnya benar (yaitu demokrasi itu halal untuk diambil), maka tidak perlu kebingungan untuk menjawab ketika ada pernyataan yang mengkritik demokrasi. Jika memang yakin benar, silahkan dipertahankan. Tidak perlu ngeles ke sana ke mari. Justru, jika memang yakin bahwa demokrasi itu halal, seharusnya dia juga harus berupaya sekeras mungkin untuk mempertahankan argumen itu dan berupaya sekeras mungkin untuk meyakinkan orang bahwa jalan ini (jalan demokrasi) adalah yang benar. Itu jika memang yakin benar.

    Tapi entah karena faktor apa, kekalahan argumen ini ditutupi dengan sikap yang (lagi-lagi) tidak nyambung. Misalnya, mereka mengatakan "ngapain sih kita memperdebatkan hal seperti itu? Apa tidak capek? Sudahlah, sekarang saatnya bekerja, bukan memperdebatkannya". Atau, diungkapkan dengan ungkapan lain seperti "Kita sudah selesai melewati hal itu (perdebatan tentang demokrasi), oleh karena itulah kami tidak memperdebatkannya, melainkan kami sudah memasuki tahap bekerja dan berbuat nyata untuk rakyat".

    Padahal apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah diperbuat, dan apa yang sudah dikerjakan, hasilnya sungguh sangat mengenaskan. Berbagai UU yang dihasilkan sejak runtuhnya Orde Baru justru semakin liberal. Ya, Indonesia semakin liberal. Korupsi dan suap merajalela. Kerusakan moral dimana-mana, dari pejabat hingga rakyat. Sumber daya alam semakin dikuasai swasta, rakyat pun memble. Inikah yang mereka sebut kerja dan aktivitas konkret? Indonesia semakin liberal, inikah hasil kerja itu?

    ReplyDelete
  15. ada yang janggal dengan post ini..
    unsur politik tersirat

    ReplyDelete
  16. Pertama,
    Mencermati kalimat di atas, kita jangan tertipu. Pernyataan di atas ingin menyatakan bahwa golput itu haram karena memperbesar peluang orang kafir menjadi pemimpin. Sekali lagi, jangan tertipu. Maksudnya bagaimana?

    Pernyataan di atas, sebenarnya tidak berbeda dengan pernyataan berikut: “Pilihlah partai Islam dalam pemilu, sebab jika tidak pemerintahan akan dikuasai orang kafir. Jika dikuasai orang kafir, maka akan membahayakan umat Islam.” Ini adalah isu basi yang sudah sejak lama terbantahkan. Dengan redaksi yang berlainan, pernyataan di atas seolah-olah ingin menyembunyikan hakikat dari bantahan pada pernyataan kedua. Padahal, substansi kedua redaksi pernyataan tersebut adalah sama.

    Kedua,
    Pernyataan di atas hanyalah berangkat dari asumsi-asumsi yang tidak jelas. Taruhlah untuk kasus pemilu Indonesia di tahun mendatang (2014). Akan bisa diprediksi bahwa calon-calon presiden yang akan maju dalam pilpres, sepertinya memang tidak ada yang berasal dari orang kafir. Menurut berbagai lembaga survei, calon-calon presiden di pilpres 2014, seluruhnya adalah orang Islam (sekali pun sekuler). Berangkat dari kenyataan ini, maka pernyataan di atas tidak bisa diberlakukan alias hanya omong kosong. Sebab, kenyataannya tidak ada satu pun orang kafir yang akan maju dalam pilpres. Tetapi, sekali pun capresnya orang Islam semua, mereka tidak ada satu pun yang akan menegakkan syariat Islam secara kaaffah. Jadi, kenyataan sebenarnya adalah sama. Kedua hal tersebut (baik capresnya muslim atau kafir, baik capresnya aktivis dakwah atau muslim sekuler/munafik), esensinya sama. Sama-sama, tidak akan membuat syariat Islam tegak di Indonesia. Justru, dengan keterlibatan aktivis Islam di pemerintahan Indonesia, akan semakin mengokohkan bentuk pemerintahan dan bentuk negara Indonesia ini. Artinya, negara ini akan tetap apa adanya dan tidak akan berubah menjadi negara yang menerapkan syariat Islam secara kaaffah (negara khilafah).

    Kemudian, jika pernyataan di atas diberlakukan untuk kasus di negara-negara Barat, misalnya Amerika Serikat. Padahal, di Amerika Serikat, kepala negara atau kepala pemerintahan yang akan maju dalam pilpres itu berasal dari kalangan orang kafir. Lantas bagaimana orang Islam menyikapinya? Kalau ikut pemilu, juga tentu salah, karena capresnya orang kafir semua. Itu artinya mendorong orang kafir maju sebagai pemimpin. Di sisi lain, jika bersikap golput, itu sama juga orang kafir akan tetap maju menjadi pemimpin negara. Lalu bagaimana? Maju kena, mundur juga kena. Bagaimana pernyataan di atas bisa diterapkan pada kasus seperti ini? Apa hukum ikut pemilu atau hukum golput akan diubah lagi? Akan jadi aneh bukan?

    Ketiga,
    Kalau yang menjadi latar belakang pengharaman golput itu adalah karena “orang kafir akan menguasai dan menghancurkan orang Islam”, itu tampaknya terlalu berlebihan. Bahaya itu tetap saja ada sekali pun yang menguasai pemerintahan orang kafir atau orang Islam yang pro terhadap sistem ini. Buktinya, harta rakyat habis-habisan diserahkan kepada asing. Rakyat hanya gigit jari. Tetapi pemerintahan tidak peduli, sekali pun rakyat kelaparan dan kekurangan gizi. Bukti yang menunjukkan bahwa bahaya itu ada (sekali pun pemerintahan dikuasai mayoritas muslim), cukup banyak. Kita bisa melihat realitasnya di sekitar kita. Kemiskinan, kebejatan moral rakyat dan pejabat, suap, korupsi, pengkhianatan terhadap rakyat dengan menjual aset rakyat, dan sebagainya. Dengan melihat realitas yang ada, berarti permasalahan sesungguhnya bukan pada “siapa yang menguasai pemerintahan: kaum muslim atau kaum kafir”. Tetapi persoalan sesungguhnya, adalah pada sistemnya. Buktinya, ketika pemerintahan dikuasai orang Islam pun, kondisinya juga tidak lebih Islami dan tidak lebih baik

    ReplyDelete
  17. Keempat,
    pernyataan di atas, jika diterapkan di Indonesia, ternyata tidak terbukti sama sekali. Tidak sesuai dengan realitas. Salah satu partai berbasis massa Islam, dari pemilu 1999 hingga 2009, suaranya terus menanjak naik dan posisinya di pemerintahan tentu semakin kuat. Bahkan di beberapa daerah telah memenangi pilkada. Logikanya (ini jika kita menggunakan logika tadarruj/penerapan syariat Islam secara bertahap), seharusnya Indonesia bisa lebih baik dari tahun ke tahun. Tetapi kenyataan justru sebaliknya, Indonesia semakin liberal. Liberalnya gila-gilaan banget. Nah, dengan melihat kenyataan ini, maka kesimpulannya adalah bahwa bahaya yang sesungguhnya adalah datang dari sistem yang diterapkan di negeri ini, yaitu sistem demokrasi, yang dengannya seks bebas marak, yang dengannya akal manusia tak terpelihara, kehormatan manusia tergadai, harta rakyat terampas, dan kesombongan manusia terhadap Allah semakin menjadi-jadi. Inilah bahayanya. Maka bahaya ini harus dihilangkan, sebagaimana hadis Rasulullah saw.:
    “Laa dharara wa laa dhiraara (Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan)”

    Kelima,
    Pernyataan di atas bisa jadi terlontar dari kalangan aktivis partai Islam yang ada di parlemen. Sementara, suara partai-partai tersebut semakin lama semakin tidak laku. Termasuk soal "isu yang diangkat partai Islam", itu juga sudah tidak laku lagi. Karena tidak laku, maka partai harus bisa "menekan" rakyat bahwa mereka tidak boleh golput. Karena golput itu membukan jalan orang kafir untuk berkuasa. Padahal, dengan semakin sedikitnya golput, maka partai Islam akan kebagian suara. Jika mereka kebagian suara, itu artinya mereka akan memiliki wakil di pemerintahan. Jika mereka memiliki wakil di pemerintahan, itu artinya mereka akan bisa "bekerja kongkret" sebagaimana yang selama ini mereka dengung-dengungkan. Oleh karena itu, bisa jadi pernyataan di atas terlontar dari orang yang memang memiliki kepentingan politik di tahun 2014, misalnya seorang caleg atau simpatisan dari partai politik peserta pemilu 2014. Jadi, pernyataan di atas tidak lebih dari kegalauan politik menghadapi lemahnya dukungan umat kepada partai politik.

    Keenam,
    Marilah kita ajak umat untuk selalu memilih partai politik yang ideologis. Jangan biarkan umat diam tidak memilih. Tapi arahkan umat untuk memilih partai Islam ideologis yang teguh memegang prinsip, tidak pernah membeli, dan tidak akan bisa dibeli oleh siapa pun atau kondisi apa pun. sekali pun partai politik Islam ideologis itu tidak berada dalam pemerintahan.

    Wallahu a'lam bish shawab..
    Ustadz agus trisa

    ReplyDelete
  18. Kenapa ada yg mengharamkan sistem demokrasi, padahal itu hanyalah sebuah alat untuk mengatur sebuah pemerintahan... ketika sistem itu adalah ikhtiar manusia untuk membuat keteraturan maka hukumnya mubah sampai ada yg jelas2 mengharamkannya... sama seperti lampu lalu lintas, merah berarti berhenti dan hijau jalan... kenapa tidak ada yg mengkritik lampu lalu lintas sebagai thagut, padahal dia mampu memerintahkan orang untuk berhenti dan berjalan... seperti demokrasi, sebagai sebuah sistem, tinggal di isi oleh orang2 yang baik saja, maka demokrasi akan memberikan maslahat yang besar bagi ummat, ketika yg isi orang2 yg memiliki pemahaman islam tinggi, maka hukum syariah lah yang akan menjadi dasar hukum...

    Terlalu lebay kalo demokrasi itu di anggap barang najis atau sebuah ilah baru atau sebuah sistem kafir... lebay bangeet brooo

    ReplyDelete
  19. kami golput bukan menolak calonnya... tapi menolak sistemnya...
    sistem politik di Indonesia sarat akan money politik dan juga ambisi yang menuju kepada perpecahan bangsa dan umat... itu alasan sesungguhnya...
    jadi orang2 yang golput memiliki keyakinan politik yang justru kritis... tidak hanya ikut - ikutan milih ini milih itu apalagi berdasarkan kepentingan pribadi... Insya Allah...

    ReplyDelete
  20. Jzakallahu khoir atas pencerahan ini dari Ust. Al-Khattath. Dan untuk Saudara-ku di Hisbut-Tahrir : Bolehlah antum anti Demokrasi dan atau Golput, tetapi jangan sampai berpihak kepada ketidakadilan dan kedzaliman spt Hisbut-Tahrir Mesir yang mendukung As-Sisi mengkhianati dan membunuhi kaum muslimin hanya karena antum benci dengan Ikhwanul Muslimin. Sebab jalan kebencian, ketidak-adilan, dan kedzaliman tidak akan pernah menyampaikan antum kepada Khilafah yang antum impikan. Jika pun antum sampe ke sana, sungguh Allah SWT tidak ridho dengan ketidak-adilan dan kedzaliman.

    ReplyDelete
  21. Untuk Saudara-ku di Hisbut Tahrir :

    Dai'i yang berbeda pandangan dengan antum tentang Demokrasi itu adalah berbicara "tentang cara" potensial untuk meninggikan izzul islam wal muslimin juga insyaallah. Sebagaimana antum berfikir bahwa itu tidak bisa ditegakkan dengan cara "Demokrasi". Dan ketika cara "Demokrasi" tidak mau atau haram dipergunakan, maka mencari jalan lain itu yang harus antum fikirkan. Tentu menjadi tidak efektif jika antum hanya berdebat menyalahkan "Cara Demokasi" yang saudara antum dari kaum Muslimin berfikir bisa mempergunakannya. Itu pemikiran yang lebih adil. Antum harus mengeksplore "Cara-Cara Lain" yang halal dan lebih efektif untuk dipergunakan. Itu pandangan yang lebih arif dan bijaksana.

    ReplyDelete
  22. Sebab penegakan Khilafah Islamiyah itu adalah tanggung-jawab bersama sehingga tidak bisa ditegakkan dengan saling salah-menyelahkan di antara kaum muslimin. Ia hanya bisa ditegakkan dengan mengeksplore sebanyak-banyaknya strategi yang bisa dipergunakan.

    ReplyDelete
  23. Jika saudara antum sesama muslim ada yang akan meng-explore potensial itu dari Demokrasi, ya itu pilihan mereka sebagai muslim. Kalau antum tidak setuju dengan cara mereka, antum tidak perlu mendebat mereka. Jika antum punya strategi yang lain yang lebih baik, halal, jujur dan adil, maka kerjakanlah dengan optimal dab fokus cara dan strategi antum itu.

    ReplyDelete
  24. Katakanlah "Demokrasi" memang salah, tidak efektif, dan tidak akan berhasil, maka mendebat dan menyalah-nyalahkan kaum muslimin yang sedang berjuang dengan "Demokrasi" itu bukanlah cara atau solusi yang lebih tepat dari "Demokrasi" yang salah itu sendiri. Antum harus mencari jalan lain. Katakanlah misalnya antum berfikir tentang "Revolusi", maka "Revolusi" itu benar akan menjadi cara baru. Maka, persiapkanlah segala daya upaya antum untuk suatu saat antum bisa melakukan "Revolusi" itu tanpa ada perdebatan di tengah-tengah kaum muslimin dan Khilafah bisa tegak.

    ReplyDelete
  25. Spt Muhammad Al-Fathih merebut Konstantinopel itu. Dia fokus mencari cara dan strategi yang lebih jitu dari cara-cara yang telah ditempuh ayah dan kakeknya. Tidak sama sekali menyalahkan ayah dan kakek-nya yang belum berhasil dengan cara dan strategi mereka untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kaum muslimin spt disebutkan Nabi SAW bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan.

    ReplyDelete
  26. Anyway, selamat berjuang wahai Saudara sesama muslim semuanya. Semoga perlombaan kita fastabiqul khoirot keluar keikhlasan dan cinta sesama muslim. Semoga perlombaan kita ini diterima Allah SWT sebagai bukti iman dan Islam kita. Dan ketika Islam menang suatu saat nanti - walau kita sudah tiada - , smoga peran kita itu tercatat di sana di sisi-Nya. Aamiin.

    ReplyDelete
  27. Sekali lagi :
    In anyway, selamat berjuang wahai Saudara sesama muslim semuanya. Semoga perlombaan kita fastabiqul khoirot keluar dari keikhlasan dan rasa cinta sesama muslim. Semoga perlombaan kita ini diterima Allah SWT sebagai bukti iman dan Islam kita. Dan ketika Islam menang suatu saat nanti - walau kita sudah tiada - , smoga peran kita itu tercatat di sana di sisi-Nya. Aamiin.

    ReplyDelete
  28. Untuk Saudara-Saudaraku yang mewajibkan golput, apakah anda ingin Partai Islam bubar semua? yang konsekwensinya, yang menguasai parlemen adalah orang-orang sekuler dan non muslim. kemudian siapa yang memperjuangkan kepentingan Islam di Pemerintahan? apakah cukup dengan demo?
    Kenapa anda tidak mengajak partai sekuler itu untuk golput, tapi malah menggembosi suara partai Islam, yang demikian secara tidak langsung membantu partai sekuler tersebut?

    ReplyDelete
  29. secara dia nyaleg makanya dia bilang GOLPUT HARAM..

    dulu PAS BELOM NYALEG bilangnya begini

    http://www.arrahmah.com/read/2009/03/27/3729-hukum-demokrasi-dan-golput-dalam-pandangan-islam.html

    ReplyDelete
  30. aneh... menolak demokrasi tapi memaksa orang lain untuk tidak goplut dengan dalih (bukan dalil) haram golput.

    bukankah golput menutup adalah langkah mentup ruang demokrasi....?

    ReplyDelete
  31. Demokrasi haram? Ada dalilnya? Apa ayatnya? Apa haditsnya? Ada ijma'? Paling2 ayat2 ttg inil hukmu illa lillah ... hadits man tasyabbaha biqaumin ... itu2 lagi, basii ... lemah selemah sarang laba2 ...

    ReplyDelete
  32. Alhamdulillah, beliau sudah terbuka dadanya menerima kebenaran.

    ReplyDelete
  33. Kenapa Umat Islam belum diberii kemenangan di Indoneisa hari ini walaupun mayoritas? Sederhana jawabnya. Karena tingkat pemahamannya masih banyak yang sangat dangkal. Belum bisa memahami dimana letak haramnya demokrasi, sehingga tidak mampu membedakan mana orang yang ikut pemilu untuk memengikuti sistem demokrasi dan mana yang ikut pemilu untuk menegakkan syariah. Selama masih seperti itu wajar kalau umat Islam Indonesia masih terpinggirkan, diteroriskan, dicekoki dengan sistem sekuler, dan tidak mau berubah karena orang yang mau melakukan malah dipukuli kawannya sendiri. sementara yang kafir2 mereka diamkan. Golput dalam sistem demokrasi dan sistem Islam sama2 artinya menyetujui siapapuyn yang menang. Kalau dalam sistem Islam, siapapun calonnya pasti muslim karena non muslim haram diangkat pemimpin dalam sistem Islam, maka yang menang pasti muslim. Maka golput dalam sistem Islam mutlak boleh. Karena itu waktu pemilihan calon khalifah Ali dan Usman hanya kaum muslimin di kota Madinah yang ikut pemilu. Kota Mekah dan kota2 Islam lainnya tidak ikut pemilu alis golput. Tentu fakta ini sangat berbeda dengan pemilu di Indonesia, dimana pihak kafir internasional berusaha agar yang menang adalah mereka (muslim maupun non muslim) kalangan sekuler liberal yang pro demokrasi. Dan jangan sampai menang kalangan Islam yang mereka khawatirkan akan mengubah sistem demokrasi menjadi sistem Islam. Oleh karena itu, kaum kafir berupaya bagaimana cara nya agar umat islam tidak memilih kalangan Islam Politik yang mereka khawatirkan itu. Termasuk di antaranya mereka menggunakan agen2 mereka untuk menyerukan golput. Ini bisa menipu kalangan muslim yang keislamannya baik tapi wawasan politik Islamnya kurang. Sehingga mereka merasa lebih selamat golput. Padahal dengan terusudutnya kalangan politik Islam yang punya cita2 penerapan syariah secara formal konstitusional, maka negara terus disetir kaum sekuler. Apakah dengan golput dan tidak ikut pemilu, kalau yang sok suci ini merasa tidak berdosa ketika kehidupan sehari-hari mereka diatur dengan berbagai eprundangan yang ditentukan oleh kekuatan2 kaum kafir sekuler? Mereka kok merasa aman dengan pengusaan asing dan aseng terhadap negara ini dan merasa jijik jika saudara muslimnya mengambil kekuasaan melalui pemilu untuk menegakkan syariah Allah dengan dalih bahwa cara pemilu tidak pernah dicontohkan Rasulullah? Bukankah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. itu adalah menerapkan hukum syariah Islam? Bukan pemilu atau tidak pemilunya? Kalau melalui pemilu umat Islam bisa diarahkan memberikan dukungan penuh kepada para pejuang syariah agar memengambil alih kekuasaan sekuler untuk diterapkan syariah secara ikhlas luillahi ta'ala, apakah kaum golput itu tidak rela? Mengapa? Silakan direnungkan. Hadannallah waiyyaakum ajamain. NB: mengenai haramnya demokrasi, haramnya mereka yang ikut pemilu dalam rangka menerapkan demokrasi serta wajibnya memilih wakil rakyat yang ikut pemilu untuk menerapkan syariah sudah dijelaskan oleh Syeikh Utsaimin di dalam Sual jawab

    ReplyDelete
  34. Huh... maaf sdh tdk ada pemimpin yg bisa dipercaya selain rasulullah dan para sahabat nya kalau kita pilih pemimpin yg skrg bisa haram hukumnya krn mereka hanya memikirkan duniawi. Jk ada yang bs mengamalkan isi alquran dan hadits untuk membangun negeri ini akan saya pilih mereka. Baik secara aqidah,hukum,ekonomi dsb. Hati2 bro anda bukan Tuhan jadi jangan seenaknya bilang haram...yang bisa mengharamkan dan memberi dosa hanya Tuhan. Perlu diingat bahwa GOLPUT ADALAH ASPIRASI RAKYAT JUGA....!!!!

    ReplyDelete
  35. Anda bukan Tuhan bro... jadi jangan asal ngomong haram dan dosa... hanya Allah yang mempunyai hak menghakimi kita... selama negeri ini masih menggunakan pancasila dan undang undang yg dibuat oleh manusia dan menyimpan alquran. Maka saya tetap golput. Golput aspirasi rakyat bro... sadar mas bro anda cuma manusia...

    ReplyDelete
  36. jika demokrasi memang haram maka mengganti sistem yg haram tersebut pastilah sebuah keharusan, justru dengan masuk dan melakukan perubahan dari dalam sdikit demi sedikit akan lbh bermanfaat bagi umat manusia, justru celah ini bisa dimasuki oleh orang2 sekuler untuk menakut-nakuti umat islam agar tidak memiliki taring dan kekuatan untuk menegakkan hukum Allah di negeri ini. Kebenaran hanya milik Allah dan Kesesatan pastilah dr kehilafan yg disisipkan syaitan dan bala tentaranya, Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang sangat nyata bagimu....

    ReplyDelete
  37. Fatwa haram tidak mendidik, perlu cara lain memberitahu masyarakat :)

    ReplyDelete
  38. waktu itu haram sekarang dah halal ya pak ustadz :)

    ReplyDelete
  39. ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب ۚ إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون
    "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebutsebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram" untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Sesungguhnya orangorang yang mengadaadakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung" QS An Nahl 116

    ReplyDelete
  40. Ayo hti segera deklarasikan pemberotakanmu...... TNI siap melenyapkanmu....

    ReplyDelete
  41. berkumpulnya orang banyak untuk memutuskan "diterapkan atau tidaknya hukum allah" bukanla tuntutan aqidah islam, so pak gatot ini menganut akidah apa ya...???

    ReplyDelete
  42. Tolong tunjukkan dalil qath'i, sekali lagi dalil qath'i, tentang haramnya demokrasi. Apakah ada?

    ReplyDelete
  43. Saudara2ku di HTI sejelekjeleknya wakil kita diparlemen,sejarah mencatat mereka telah menggolkan UU perkawinan,UU sisdiknas yg betul2 melindungi umat dr pemurtadan,ketika itu fraksi PDI P menolak n walkout.di pemerintahan SKB 3 menteri ttg ttcr pendirian tempat ibadah n syiar agama melindungi umat yg dalam posisi defensif.coba klo wakil2 kita di parlemen dan pmerintahan habis gara2 umat mengikuti ajakan golput,umat akan dibantai akidahnya,fitnah akan smkn merajalela.HTI pun bisa jd akan mnjd organisasi terlarang karena menyeru kpd syariatdan pemimpinya akan masuk penjara seperti di turkmnstan n tajikistan.

    ReplyDelete
  44. Demokrasi sistem kuffur mustahil bisa berjalan bergandengan tangan dg islam!
    Pemilu saat ini adalah instrumen melanggengkan demokrasi!
    Maka pembahasan pemilu dalam pandangan islamtidak bisa dicampuradukkan dg pembahasan ttg pemilu (dan demokrasi) yg diterapkan saat ini!

    ReplyDelete
  45. STRESSS, Apa pula GOLPUT tuh HARAM, Faktanya indonesia ga ada pemimpin yang ADIL walaupun dia Beragama ISLAM tak menyangkal Islamnya Islam KTP, tak mengerti Syariat, Bnyak kali para Korup ternyata dari kalangan Muslim apa ga memalukan tuh, lebih baik GOLPUT dr pd Kita Salah dlm memilih Pemimpin , kecuali Jika imam MAHDI telah keluar, itulah pemimpin Umat apa yang telah di ceritakan Oleh RasullAllah dalam Haditsnya, buat apa kita memilih sementara para calon pemimpin kita oataknya STERSS semua, ga dari kalangan kyai atau lainnya ( FAKTA )

    ReplyDelete
  46. APA DASAR HUKUM MIRAS DI LEGALKAN..?
    LALU SIAPA YANG MENG SAHKANNYA..?
    ITULAH DARI SEKIAN BANYAK MASALAH YANG BERTENTANGAN DENGAN SYARI'AT ISLAM..

    Tuesday, May 14, 2013
    Pemimpin yang membawa azab
    Syaikul Islam Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin pernah memberikan nasihat tentang cara berinteraksi dengan pemimpin yang zalim.

    "Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim, bahkan jangan menemuinya. Berjumpa dan bergaul dengan mereka hanya membawa petaka. Dan sekiranya kamu terpaksa bertemu, jangan memuji-muji mereka, kerana Allah sangat murka ketika orang fasik dan zalim dipuji. Dan barangsiapa mendoakan mereka panjang umur, maka sesungguhnya dia suka agar Allah didurhakai di muka bumi. "

    ReplyDelete

Powered by Blogger.