Header Ads

Aksi Bela Islam

Pemerintah Turki Erdogani Sedang Diuji

Aksi Sejuta pendukung Erdogan
Turki Erdogani yang dimaksud adalah Turki pada masa kekuasaan Adelet ve Kalkinma Partisi (AKP) alias Partai Keadilan dan Pembangunan yang dipimpin oleh Recep Tayib Erdogan. Partai berhaluan Islam ini menang pemilu pada 2002. Kemenangan yang kemudian mengantarkan Erdogan menjadi perdana menteri dan Abdullah Gul jadi presiden. Selama 12 tahun kekuasaan duet Erdogan-Gul, Turki mengalami kemajuan sangat pesat dan menjadi kiblat negara dimokratis yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Kemajuan itu antara lain bisa dilihat pada data berikut. Pendapatan per kapita rakyat Turki yang 12 tahun lalu hanya 3.000 dolar AS, sekarang – dalam masa 12 tahun pemerintahan Erdogan – sudah mencapai lebih dari 14.000 dolar. Sebagai perbandingan, pada 2004 pendapatan per kapita Indonesia 1.100 dolar, lalu pada 2012 naik menjadi 3.592 dolar. Pada akhir 2014 diharapkan meningkat mendekati angka 5.000 dolar.

Pertumbuhan ekonomi Turki rata-rata di atas 6 persen/tahun dalam 12 tahun terakhir. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang pertumbuhan ekonominya rata-rata tidak mencapai 1 persen. Bahkan, Turki yang 12 tahun lalu dijuluki Barat sebagai negara sakit, kini sudah menjadi kekuatan ekonomi ketujuh di Eropa. Angka pengangguran juga sangat rendah. Itu sebabnya kini di jalan-jalan di Ankara dan Istanbul mudah ditemui orang-orang Eropa Timur yang mencari makan di Turki.

Dengan prestasi seperti itu tidak aneh bila kemudian AKP selalu memenangkan pemilu dalam 12 tahun terakhir. Pemilu di Turki diselenggarakan setiap empat tahun. Dalam tiga kali pemilu AKP selalu menang. Kemenangan yang terus meningkat di setiap pemilu. Dari hanya menang mayoritas hingga kemudian mayoritas mutlak.

Namun, menjelang pemilu lokal para Maret, tiba-tiba pada pertengahan Desember lalu dunia dikejutkan dengan berita penangkapan 52 orang dengan tuduhan korupsi. Yang jadi persoalan, mereka yang ditangkap polisi itu antara lain tiga anak menteri dan dua pengusaha ternama yang diketahui dekat dengan pemerintah Erdogan. Mereka dituduh terlibat suap untuk memenangkan tender pemerintah.

Berita penangkapan itu tentu saja mengejutkan lantaran selama ini Erdogan dekenal sebagai orang yang paling gencar memberantas korupsi, terutama terhadap orang-orang atau pimpinan AKP. Erdogan pun berang. Ia menyebut penyelidikan korupsi ini sebagai kampanye kotor, apalagi Turki akan menghadapi pemilu lokal. Pemilu yang akan menjadi ujian bagi populeritas Erdogan dan AKP sebelum pemilihan umum pada Agustus nanti. Ia menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan apa pun.

Pemerintahan Erdogan pun kemudian melakukan serentetan pembersihan di tubuh polisi. Pekan lalu 350 perwira polisi diberhentikan. Di antaranya kepala unit kejahatan keuangan, unit antipenyelundupan, dan unit kejahatan terorganisasi. Sebelumnya lima perwira tinggi kepolisian juga telah dipecat, termasuk kepala unit yang memimpin penyelidikan korupsi serta kepala kepolisian Istanbul. Hingga kini sudah 700 perwira polisi yang dipecat. Tindakan ini tampaknya sebagai upaya pemerintah meminimalisasi dampak penyeledikian korupsi.

Buntut dari skandal korupsi ini tiga menteri mengundurkan diri lantaran anak-anak mereka ikut ditangkap. PM Erdogan -- dan Presiden Gul -- lalu mengganti separuh anggota kabinetnya beberapa hari kemudian.

Erdogan menuduh ada sebuah konspirasi besar yang melibatkan pihak asing yang ingin memperburuk citra pemerintahannya dan AKP menjelang pemilihan lokal pada Maret mendatang. Konspirasi yang sengaja untuk menciptakan perpecahan di antara partai yang memerintah. Bahkan, katanya, mereka sudah seperti negara dalam negara.

Meskipun tak menyebut nama, namun sejumlah media menyebut apa yang dimaksud Erdogan dengan konspirasi itu melibatkan sebuah nama: Fathullah Gulen. Yang terakhir ini merupakan cendekiawan Muslim Turki yang kini mengasingkan diri di Pensylvania, Amerika Serikat.

Sebelum menetap di AS pada 1999 untuk berobat, pria kelahiran 27 April 1941 di Kota Erzurum, Turki Timur ini, aktif berdakwah. Ia sudah berkeliling di hampir seluruh daerah-daerah di Turki. Selain berkhutbah di masjid-masjid, memberi ceramah umum, dan mengajar, Gulen juga produktif menulis mengenai berbagai hal. Sejumlah karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia. Di samping itu, Gulen pun banyak mendirikan lembaga-lembaga amal, sosial, pendidikan, dan ekonomi.

Sebagai ulama Sunni, pandangan Gulen sangat moderat. Ia menjunjung tinggi toleransi beragama dan kemajemukan masyarakat. Ia pun menggalang terjadinya dialog antar-pemeluk agama dan kepercayaan (interfaith dialogue), guna menciptakan perdamaian dunia. Ia menentang kekerasan. Apalagi terorisme, dengan dalih apa pun.

Pengikut Gulen tersebar di seluruh Turki dan dari berbagai kalangan. Dari rakyat biasa, pengusaha hingga pejabat. Baik di pemerintahan, kepolisian, militer, maupun di lingkungan aparatur hukum. Peran mereka juga sangat besar memengkan AKP, partai berhaluan Islam, dalam pemilu 2002. Kemenangan yang kemudian mengantarkan Erdogan menjadi PM dan AKP sebagai partai penguasa.

Boleh dikata peran keduanya – Gulen dan Erdogan – sangat klop untuk memperjuangkan Islam di negara sekuler. Mereka saling melengkapi. Gulen mewakili 'Islam kultural' dan Erdogan mewakili 'Islam politik'. Sungguh kerja sama yang sangat apik yang kemudian menjadikan Turki sebagai negara maju dan terpandang. Negara sekuler dengan pemerintahan yang Islami.

Karena itu berita penangkapan orang-orang dekat Erdogan yang dibalas dengan pemecatan sekitar 700 perwira tinggi dan menengah kepolisian sangatlah mengagetkan. Apalagi di balik semua itu kemudian muncul berita mengenai pecahnya kongsi antara kubu Erdogan dan kubu Gulen. Menurut sejumlah pengamat, perpecahan ini merupakan ujian berat buat Erdogan dan AKP dan lebih bahaya daripada aksi-aksi demonstrasi yang digerakkan kaum sekuler-liberal pada Juni tahun lalu.

Belum diketahui dengan pasti apa yang sesungguhnya terjadi antar-kedua tokoh kharismatis ini. Namun, kita menyampaikan keprihatinan mendalam dengan apa yang terjadi di Turki kini. Apalagi perpecahan itu terjadi antara dua tokoh Islam yang bisa dipastikan akan memperlemah pemerintah yang berhaluan Islam ini. Kita khawatir akan muncul pameo bahwa umat Islam memang susah untuk bersatu.[]

Penulis : Ikhwanul Kiram Mashuri
Sumber : Republika Online

No comments

Powered by Blogger.