Header Ads

Aksi Bela Islam

5 Faktor Penyebab Selingkuh

ilustrasi selingkuh
“Mohon Bapak jelaskan, mengapa lelaki suka selingkuh?” tanya seorang ibu kepada Ustadz Cahyadi Takariawan saat Pengajian Keluarga Sakinah di Mushola KJRI California.

“Benarkah hanya lelaki yang suka selingkuh? Kalau hanya lelaki, lalu ia selingkuh dengan siapa? Apakah selingkuh dengan sesama lelaki?” jawab penulis buku Wonderfull Family ini, mencoba memberikan pemahaman bahwa lelaki dan perempuan memiliki peluang untuk selingkuh.

Agar hal itu tidak terjadi, perlu diketahui faktor-faktor penyebab selingkuh, sebagaimana ia jelaskan di buku Wonderful Husband. Berikut ringkasannya:

1. Pelarian dari Kebosanan
Ketika rumah tangga berjalan monoton, suami istri tidak memiliki cara merawat cinta, semuanya berjalan begitu saja, maka muncul kebosanan. Hubungan pun menjadi kering dan sangat mekanis.

Jika dalam kondisi bosan, suami bertemu wanita yang “luar biasa” karena berbeda dengan istrinya, atau istri bertemu lelaki yang “luar biasa” karena berbeda dengan suaminya, saat itulah perselingkuhan bisa mulai terjadi.

“Berhati-hatilah jika sudah mengalamai perasaan kebosanan hidup berumah tangga,” kata Ustadz Cahyadi Takariawan memberikan solusi, “Segera segarkan suasana rumah tangga Anda dan jangan mencari pelarian atau pelampiasan di luar rumah.”

2. Pelarian dari Konflik dalam Rumah Tangga
Jika rumah tangga menghadapi konflik yang berkepanjangan, suami istri tidak lagi merasakan suasana yang menyenangkan. Hambar, bahkan ingin menjauh. Kalaupun terlihat mesra, sering kali itu adalah pura-pura; di hadapan anak-anak dan sanak saudara. Saat itulah istri atau suami mencari pelarian. Dan jika pelarian itu ternyata adalah orang ketiga, itu bisa menjadi awal perselingkuhan.

“Segeralah selesaikan konflik antara Anda berdua, jangan biarkan konflik berlarut-larut tanpa
Usaha penyelesaian. Segera ambil tindakan untuk berdamai dengan pasangan. Jangan membiarkan konflik menjadi alasan untuk mencari pelarian kepada orang ketiga di luar rumah,” tulis Ustadz Cahyadi Takariawan.

3. Mendapatkan Tempat Curhat dan Teman Diskusi
Kadang karena alasan kesibukan, suami istri tidak bisa bercengkrama, berbagi cerita, berdialog dan bercanda. Karena kesibukan, di rumah hanya bertemu sebentar; pulang malam, tidur bersama, pagi-pagi sudah berpisah lagi. Jika suasana berlangsung lama, istri bisa kurang perhatian dan mencarinya di luar. Mungkin pertama melalui media sosial, lewat tulisan, kemudian bertemu di luar rumah. Jika yang menjadi teman curhatnya itu adalah laki-laki, maka ini bisa menjadi pintu perselingkuhan.

“Suami harus menjadi tempat curhat istrinya. Dan istri harus menjadi teman diskusi suaminya,” kata Ustadz Cahyadi Takariawan.

4. Menemukan Harapan
Komunikasi yang tidak terbangun dengan baik antara suami istri bisa membuat harapan istri tidak tersampaikan kepada suami. Pun sebaliknya. Saat sang istri berinteraksi dengan laki-laki lain dan mendapati apa yang ia harapkan ada pada laki-laki itu, ini bisa menjadi penyebab selingkuh. Demikian pula saat harapan sang suami kepada istri tak pernah tersampaikan dan karenanya tidak terpenuhi, lalu ia bertemu wanita lain yang ia dapati bisa memenuhi harapannya, pintu perselingkuhan terbuka.

Dialogkan harapan kepada pasangan, coba penuhi harapan pasangan, dan jangan berusaha mencari-cari harapan itu dari orang lain adalah tiga rekomendasi Ustadz Cahyadi Takariawan untuk mencegah terjadinya perselingkuhan dari faktor ini.

5. Komunikasi dan Interaksi yang Berlebihan
Hati manusia mudah mendapatkan pengaruh baik positif maupun negatif. Jika suami rajin berinteraksi dan komunikasi dengan wanita lain, sangat mungkin akan timbul rasa yang tak biasa. “Witing trisno jalaran soko kulino,” kata pepatah Jawa. Jika sudah ada getar-getar cinta, maka perselingkuhan mengintai di sana.

Solusinya, jaga pergaulan dan interaksi. Jika tidak dapat dihindari karena alasan pekerjaan, maka lakukan seperlunya, sesuai kebutuhan profesional.

Semoga Allah melindungi kita dan istri/suami kita dari perselingkuhan yang tentu saja dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. [IK/bersamadakwah]

No comments

Powered by Blogger.