Header Ads

Aksi Bela Islam

Dari Kuli menjadi Ketua Komisi

ilustrasi kuli batu (fotoblur.com)
Tak ada siapa-siapa di beranda depan rumah mertuaku, kecuali pohon rambutan yang menambah temaram halaman dan pohon mangga setinggi orang dewasa di sebelahnya tak terlalu rimbun. Malam ini, aku sudah berjanji bertemu dengan seorang guru selepas maghrib. Namun, waktu sudah beranjak pukul 19.30 WIB dan belum ada tanda-tanda kedatangannya. Tepat pukul 19.45 WIB, beliau datang, agak tergesa-gesa.

“Maaf mas, tadi di rumah ada tamu jadi nggak bisa tepat waktu,” ucapnya pelan.

“Nggak apa Bi, nunggunya juga belum lama ini” ucapku merendah.

Kami bicara empat mata malam itu, tentang perjalanan hidup beliau yang berliku-liku. Dalam penuturannya, beliau juga menyisipkan pelajaran dari setiap episode kehidupan yang beliau alami. Bagiku, beliau adalah seorang yang luar biasa.

“Saya anak tunggal dari keluarga sederhana,” ucapnya memulai cerita.

“Perjalanan pendidikan saya dimulai dengan sekolah formal di kampung. Untuk membiayai sekolah saya itu, seusai sekolah saya menjadi kuli apa saja. Hal itulah yang membuat saya kebal dengan bermacam-macam penderitaan. Alhamdulillah orang tua selalu medukung, mereka selalu mendoakan saya di setiap sholatnya.
Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan pendidikan SMA dengan nilai lumayan memuaskan tanpa kendala, mungkin ini adalah berkah doa orang tua, Mas.” Ucapnya tersenyum.

Setelah kami menyeruput teh hangat yang disajikan istriku, beliau melanjutkan cerita.

“Setelah lulus SMA, tantangan semakin besar, saya mempunyai cita-cita agar bisa kuliah. bagaimanapun caranya. Dan inilah alasan kenapa saya menjadi kuli bangunan di Jakarta. Selain itu, saya pernah bekerja menjadi kuli apa saja. Mulai memanggul beras, mengantar belanjaan, dan lain-laiin. Semua itu bertujuan agar tiap bulan saya bisa menyisihkan uang untuk persiapan kuliah di tahun depan.

Berbekal sedikit tabungan itulah, pada tahun berikutnya saya bisa kuliah di Sekolah Tinggi Dakwah Al Hikmah Jakarta. Selanjutnya, saya harus berfikir lebih berat lagi, bagaimana untuk menghadapi kehidupan berikutnya. Karena, tak sampai hati jika harus merepotkan orang tua di kampung.

Lagi-lagi, Allah mendengar doa orang tua saya. Saya bisa menjadi penjaga kebersihan di masjid kampus. Sesekali juga diminta untuk membantu tugas seorang dosen yang mungkin terenyuh melihat keadaan saya. Saya sering menyeleksi berkas-berkas mahasiswa yang bertumpuk-tumpuk, dan sebagai upahnya saya bisa mendapatkan uang untuk kehidupan sehari-hari.

Kedekatan dengan dosen inilah yang menjadi jalan bagi saya untuk bertemu dengan seorang wanita yang kemudian menjadi istri saya. Ketika sedang menyeleksi berkas mahasiswi baru, mata saya tiba-tiba tertarik dengan sosok perempuan kelahiran Makasar. Seketika itu pula, hati saya berbisik, ‘Ya Allah, andaikan ia menjadi istri saya.’” Beliau terdiam sejenak, lalu tersenyum.

“Allah mengabulkan doa saya, suatu saat dia menjadi ibu dari anak-anak saya.” Ucapnya tersenyum. Tak terasa, aku ikut terpengaruh. Dan, kami tersenyum bersama.

“Abi ingat kenapa memilihnya?” Ucapku seketika, sambil malu-malu.

“Setelah menikah saya memboyongnya ke kampung, saya mengajar di sebuah SMA di pinggiran kampung Kabupaten Tegal. Gaji pertama, jauh dari kata cukup. Di sinilah, bayangan tentang istri saya benar-benar menjadi nyata. Dia adalah perempuan yang kuat dalam menghadapi keadaan. Tidak banyak mengeluh. Sampai anak kami yang kelima lahir, tantangan berat dalam kehidupan kami masih terus berlanjut.

Hari-hari yang terasa paling berat buat kami adalah ketika anak pertama masuk kuliah. Semua asset yang kami miliki, dijual untuk menutupi segala kekurangan. Hingga uang tabungan habis. Tapi, lagi-lagi Allah mengabulkan doa orang tua saya di setiap sholatnya. Lantaran doa itu, kami selalu dilimpahi kemudahan dan ketenangan.

Setelah mengabdi selama belasan tahun menjadi guru, hizb mengamanahi saya untuk dicalonkan di ajang Pemilihan Legislatif. Tahun 2004 saya maju menjadi caleg dengan modal seadanya. Tim suksesnya adalah istri saya dan para relawan yang semangatnya luar biasa. Setiap melihat mereka memperkenalkan nama saya di kampung-kampung, maka semangat saya seolah bangkit, seakan saya dibakar oleh kata-kata mereka.
H. Wakhidin, BA

Dan, Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un, Allah menguji saya dengan jabatan baru sebagai seorang Anggota Dewan yang penuh dengan tudingan-tudingan miring di dalamnya. Dengan sekuat tenaga, saya berjuang untuk meluruskan itu. Caranya, dengan pengabdian kepada masyarakat. Yang tak kalah pentingnya, doa orang tua yang tulus telah menjadikan saya kuat untuk menjalani amanah ini.
Hingga akhirnya, di tahun 2009, Allah menguji saya lagi untuk yang keduakalinya. Saya ditunjuk untuk menjadi Ketua Komisi di DPRD Kabupaten Tegal.”

Kami meyeruput lagi teh hangat yang sudah dingin. Tanpa sadar, waktu menunjukkan jam 22.00 WIB. Beliau terdiam sebagai tanda menyudahi ceritanya.

“Terimakasih ceritanya, Ustadz. Insya Allah bisa menjadi pelajaran buat keluarga kami ke depannya”
Beliau berpamitan, waktu sudah malam.

“Jaga kesehatan antum, ya akh” pesannya pelan.

Motor bebeknya melaju dari halaman, kemudian hilang ditelan tikungan. Saya baru menyadari, ada butiran bening dipipi, mata saya menjadi hangat. Betapa ada pelajaran berharga dari lelaki tua itu yang lama tak kusadari. Dan lelaki tua itu adalah guru saya yang sangat sederhana, Ustadz Wakhidin BA.[]

Penulis : Achmad Miladi 
(FLP Cabang Tegal)

1 comment:

Powered by Blogger.