Header Ads

Aksi Bela Islam

Gelombang Ketiga Indonesia

Judul : Gelombang Ketiga Indonesia
Penulis : Anis Matta
Penerbit: The Future Institute – Jakarta
Tebal : 128 Halaman
Cetakan : I, Maret 2014
ISBN : 978-602-14111-1-7

Untuk membangun Indonesia menjadi negara yang makmur, damai, adil dan sejahtera, tidak hanya dibutuhkan seorang Presiden. Melainkan seorang negarawan yang benar-benar mengerti tentang detail bangsa besar yang dipimpinnya ini. Apalagi, negeri berjuluk zambrut khatulistiwa ini, memiliki segudang masalah, setumpuk sejarah yang terdiri dari berbagai macam suku, budaya, ras dan agama. Maka, siapapun yang kelak akan memimpin negeri ini, harus bisa memahami dan memetakan itu semuanya dengan sangat baik.

Maka, ia adalah orang yang pandai membaca sejarah, sesuai dengan keasliannya. Dan, menambahkan buah pikirnya sebagai salah satu wujud luasnya wawasan yang dimilikinya. Karena, amat sangat naif, jika negeri yang kaya raya ini, hanya dipimpin oleh seorang boneka yang selalu mengikuti dalangnya. Bahkan, dia lebih mementingkan ‘amanah’ partai dibanding jutaan rakyat yang telah memilihnya.

Sebagai negara yang besar, Indonesia telah melalui dua gelombang yang sangat berbeda karakteristik dan penyusunnya. Lalu, di tahun 2014 ini, ditandai dengan pemilu yang akan digelar April mendatang, negeri ini akan memasuki gelombang ketiganya.

Gelombang Pertama negeri ini terjadi sejak masa perjuangan hingga diperolehnya kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Bukan main, perjuangan yang didukung oleh adanya imperialisme sebagai faktor eksternal dan pencarian identitas sebagai faktor internal, yang didukung dengan adanya nilai-nilai seperti solidaritas, gotong royong dan pergerakan nasional, bisa mengantarkan negeri ini menjadi Indonesia yang sesungguhnya dengan pengusiran segala macam bentuk penjajahan.

Setidaknya, dari proses perjuangan panjang itu, para pendahulu bangsa telah mencatatkan pencapaian-pencapaian gemilang seperti: kemerdekaan, identitas sosial dan politik yang baru, tanah air dan bahasa.

Selanjutnya, bangsa ini memasuki Gelombang Kedua yang disebut dengan Menjadi Negara-Bangsa Modern. Hal ini ditandai dengan banyaknya ideologi yang diperjuangkan untuk dipatenkan di negeri ini. Mulai dari kalangan islamis, sekuler hingga ideologi-ideologi lainnya. Perdebatan tentang ideologi apa yang paling tepat ini hampir mengisi seluruh masa yang terjadi selama orde lama, dimana Presiden Soekarno kala itu, banyak mencampuradukkan apa yang dipelajari selama ini untuk dipatenkan di negeri bernama Indonesia ini.

Puncak kebebasan pertarungan ideologi ini terjadi ketika serangan G30-S PKI yang kemudian dijadikan sebagai musuh negara. Pertentangan juga terjadi antara kelompok Islamis. Meskipun, kelompok mayoritas ini akhirnya mau ‘melunakkan’ hati dan menerima Pancasila sebagai dasar negara. Tentu, kelompok ini memiliki alasan sangat logis dan mengedepankan kepentingan bangsa.

Sayangnya, perdebatan tentang ideologi ini mengalami jalan buntu ketika orde baru berkuasa. Dengan tangan otoriter, rezim berkuasa seakan membonsai semua ideologi dan memaksakan Pancasila sebagai asas tunggal. Dalam masa ini, pemerintah juga menjadi lembaga sakti yang anti kritik. Hingga kemudian reformasi bergulir dengan segala macam konsekuensinya.

Reformasi sendiri membawa angin segar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lantaran kebebasan yang kemudian menjadikan semua anak bangsa bisa berkarya sepenuhnya demi kemajuan bangsa, tanpa himpitan dan ancaman otoriter dari pemerintah. Sayangnya, reformasi ini juga menyisakan kepiluan lantaran dimaknai bebas tanpa batas.

Tiga pilar reformasi sendiri terdiri dari pemerintah sebagai pelaksana kebijakan, partai politik sebagai penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah sertas ormas yang bisa menjadi jalan aspirasi bagi masyarakat manakala ide-ide mereka tidak bisa diakomodasi oleh pemerintah maupun partai politik, belum bisa berjalan baik.

Selain itu semua, tuntutan reformasi yang tidak disikapi dengan kematangan juga menimbulkan ekses negatif yang tak berujung. Mulai dari pemilihan kepala daerah yang rawan keributan, otonomi daerah yang rawan KKN, penegakkan supremasi hukum yang rawan tebang pilih, dan sebagainya.

Meski demikian, dalam Gelombang Kedua ini, Indonesia bisa dibilang cukup matang lantaran bisa mengakomodasi demokrasi dengan sangat baik dan menghindari pertumpahan darah oleh pemerintah kepada rakyatnya. Sehingga, dalam Gelombang Kedua ini, beberapa capaian penting yang layak dicatat adalah: konstitusi modern UUD 1945, penguatan lembaga negara, keseimbangan baru dalam format Negara-Bangsa modern dan juga bahasa. Pencapaian ini pula yang menjadi modal penting bagi negeri ini untuk memasuki gelombang ketiganya.

Gelombang Ketiga ditandai dengan munculnya generasi baru. Yakni generasi yang lahir di tahun 90-an. Dimana mereka terdiri dari kaum muda yang berpendidikan tinggi dan memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. Hal lain yang menjadi ciri khas mereka adalah well connected, dimana 60 juta penduduk di negeri ini terhubung dengan social media.

Masyarakat pada Gelombang Ketiga ini juga cenderung bebas dan tidak terikat dengan doktrin media mainstream. Karena, lantaran keterhubungannya dengan social media itu, mereka bebas melaporkan, menginformasikan ataupun menyampaikan hajat mereka, tanpa harus melalui ketatnya saringan dalam ‘meja redaksi’ dari sebuah surat kabar yang menjadi penyambung lidah aspirasi.

Bagi generai dalam Gelombang Ketiga ini, ada tiga hal yang menjadi tujuan mereka, yakni; menjadi orang tua yang baik dan langgeng dalam hubungan pernikahan, memiliki rumah sendiri, dan mampu menolong orang lain yang membutuhkan.

Sehingga, pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan oleh partai politik atau siapapun yang hendak memimpin negeri ini, harus pula mengikuti zaman dimana generasi ini dilahirkan dan bertumbuh kembang. Dan, amat berbeda dengan zaman yang ada di gelombang pertama atau kedua.

Bagi kaum muslimin yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini, perdebatan antara kemusliman, kemodernan dan keindonesiaan akan kembali menggejala. Apalagi, masih ada golongan-golongan sisa dua gelombang sebelumnya yang masih suka bernostalgia dengan ‘pasangan’ lamanya.

Padahal, di Gelombang Ketiga ini, masyarakat tak lagi terlalu memikirkan perdebatan politik-politik aliran. Karena mereka tidak merasa terpaut dengan konflik dan polarisasi politik masa lalu. Sehingga, partai politik harus menjadi proses amplifikasi perbincangan masyarakat ke dalam sistem bernegara untuk dicari solusinya bagi kesejahteraan bersama.

Lantas, siapakah kira-kira yang berhak untuk maju dan memimpin negeri besar mayoritas kaum muslimin ini? Yakni mereka yang optimis menatap masa depan Indonesia. Yang bisa menggabungan ketegangan Islam, kemodernan dan keindonesiaan dalam harmoni antara agama, pengetahuan dan kesejahteraan.

Sehingga, kerja keras mereka harus difokuskan untuk mentransformasikan Indonesia menjadi entitas peradaban sehingga bisa menjadi kekuatan arus utama yang ikut berperan menata maslahat umat manusia di muka bumi. Insya Allah, negeri ini bisa melakukannya.[]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com


2 comments:

  1. SAYA PENASARAN DENGAN BUKU INI..!

    ReplyDelete
  2. Silahkan dipesan via sms ke 0857 7329 1640 :D harga buku 40rb, belum termasuk ongkir.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.