Header Ads

Aksi Bela Islam

Ketika Ta'aruf Berakhir Tragis

Surat Cinta (darussalaf.or.id)
Saat itu saya masih duduk di semester 2 Fakultas Tarbiyah. Melalui applikasi chatting yang baru saya kenal, saya bisa bergabung dengan sebuah room chat yang isinya mayoritas ikhwan dan akhwat.

Terkesan dengan para ikhwan dan akhwat, saya jadi semakin gandrung sama dunia maya. Namun dasar saya yang terlalu lugu sehingga saya sering menerima private chat dari ikhwan. Dari mulai sekedar perkenalan biasa sampai ada yang mengajak ta’aruf.

Tapi saya terlalu lugu untuk hal ini. Saya hanya merasakan senang, karena di dunia nyata saya sama sekali tidak punya teman ikhwan. Jangankan ngobrol, ketemu ikhwan saja gemetaran. Selain itu meski dulu ustadzah saya sudah sering menegaskan akan hubungan ikhwan dan akhwat tapi saya belum begitu paham bagaimana batasan hubungan seorang ikhwan dan akhwat dalam dunia maya. Karena setahu saya ikhtilath hanya ada di dunia nyata.

Sampai suatu saat sebuah rasa kagum timbul kepada seorang ikhwan. Ikhwan yang biasa saya panggil pak carik ini suka memberi “taushiah” di room. Karena rasa kagum itu kami lalu sering private chat dan group chat bersama salah seorang teman akhwat. Diantara kami berdua, saya yang paling muda.

Dari rasa kagum, kemudian menjelma menjadi rasa yang lain. Entahlah. Saya sempat cerita kepada mbak Sarah (bukan nama sebenarnya). Tapi mbak Sarah hanya menanggapinya dengan senyuman. Dan di balik itu saya mendengar dari teman yang lain, bahwa mbak Sarah sedang ta’aruf dengan pak carik. Saya tak mengerti seperti apa konsep ta’arufnya. Yang jelas ini pertama kali saya mengenal proses ta’aruf tanpa murobbi atau perantara.

Di awal Ramadhan intensitas komunikasi kami semakin meningkat. Bukan hanya chatting, tapi juga sms dan telepon. Bahkan pak carik mengusulkan untuk tadarus bareng lewat call friend. Akhirnya waktu sepertiga malam kami habiskan dengan tadarus dan ngobrol bareng yang biasanya berakhir menjelang waktu sahur. Ini Ramadhan yang menimbulkan penyesalan saya hingga kini.

Menjelang Idul Fitri ketika saya hendak mudik, mbak Sarah meminta saya untuk ke kosannya. Saat itu saya melihat mata mbak Sarah sembab. Suaranya serak. Sebuah tanda tanya besar bertengger di kepala saya. Ada apa dengan beliau? Alangkah kagetnya saya saat mendengar cerita beliau kalau pak carik ternyata sedang “pacaran” dengan “akhwat” yang tak lain adalah teman kami sendiri di saat mereka berdua sedang ta’aruf.

Sayapun tidak habis pikir dengan hal ini. Namun itulah yang terjadi, ta’aruf di dunia maya yang berakhir tragis. Padahal mereka sudah saling tahu banyak tentang masing-masing. Dan saya juga merasa beruntung karena tidak terlalu jauh. Karena bagi saya saat itu yang penting mereka bahagia. karena secara usia mereka sudah matang. Sudah sama-sama kerja.

Dulu saya memang terlalu polos untuk hal seperti ini. Namun pengalaman ini memberikan saya pelajaran berharga agar jangan sampai terjebak dengan dunia maya. Setidaknya saya jadi lebih berhati-hati lagi. Tidak mudah percaya dengan “kata-kata gombal” laki-laki yang mengaku ikhwan di dunia maya.

Saya kemudian juga menyadari, bahwa konsep ta’aruf yang benar harus ada perantara. Dialog di dunia maya, Chatting, bukanlah ta'aruf yang benar. Sekali lagi harus ada perantara! Syukur-syukur kalau langsung perantara orang tua.

Semoga bermanfaat… Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

No comments

Powered by Blogger.