Menakar Masa Depan PKS Dalam Pemilu 2014

Dalam banyak literatur, PKS disebut sebagai bayi ajaib dalam perpolitikan Indonesa. Ini disebabkan sejak pertama kali ikut Pemilu, perolehan suara PKS terus menanjak. Dalam pemilu 1999, Partai Keadilan (pergantian nama PKS terjadi tahun 2002-pen) berhasil mendapatkan 1,4 juta suara sehingga berhasil menempatkan 7 orang anggota DPR. Tahun 2004, angkanya meroket menjadi 8,3 juta (7,34%) dan mendapatkan double bonus yakni 45 anggota DPR dan terpilihnya Hidayat Nur Wahid sebagai Ketua MPR. Pada pemilu ketiga, tahun 2009 PKS mendapatkan 8,2 juta suara (7,88%) dan mendapatkan 57 kursi anggota legislatif.

Kenaikan angka yang signifikan tentu tidak terlepaskan dari bagaimana struktur partai dakwah mampu membangun kesolidan kader dengan berusaha keras merawat basis pemilihnya sehingga mereka tetap mempercayakan suaranya kepada partai reformis ini. Selama ini, kalangan pemilih menilai PKS mampu konsisten menerapkan jargon bersih, peduli dan profesional. Komitmen itu dituangkan dalam kerja nyata berbentuk bakti sosial, pemberian bantuan ketika bencana alam (banjir, kebakaran, gempa dan lainnya) dan pelayanan kesehatan gratis. Selain itu, para kader PKS di parlemen juga serius memperjuangkan pendidikan gratis untuk mencerdaskan kehidupan rakyat Indonesia.

Kemampuan PKS beradaptasi dengan perubahan dan lingkungan strategisnya menjadi kunci penting sehingga partai pimpinan Anis Matta ini mampu menjadi harapan besar rakyat Indonesia di masa mendatang dalam menciptakan masyarakat adil dan sejahtera.

Namun tak dapat dipungkiri, dampak perolehan suara dan membesarnya dukungan rakyat kepada partai ini adalah mulai munculnya fitnah, tekanan dan turbulensi yang kuat. Ini terjadi sebab kehadiran PKS seperti ditegaskan Sadanand Dhume (mantan wartawan Wall Street Journal) dianggap sebagai ancaman demokrasi dan eksistensinya dinilai lebih berbahaya dibandingkan Al Qaedah maupun Jamaah Islamiyah (Ahmad Dzakirin: 2010) Dalam pandangan lainnya, kuatnya pengaruh Ikhwanul Muslimin di tubuh PKS dinilai berbahaya karena memunculkan pandangan anti-Semitik, berpikiran konspiratif terkait sikap anti Barat dan bergerak radikal karena terpengaruh pemikiran tokoh ekstrim Timur Tengah (Anthony Buffalo, Greg Fealy: 2005)

Tidak heran, guncangan demi guncangan terus diciptakan untuk menguji kekuatan partai ini. Sejak deklarasi PKS sebagai partai terbuka misalnya, banyak pengamat meyakini PKS akan kehilangan basis pemilih ideologisnya yang selama ini dikenal mampu dekat dengan masyarakat. Hilangnya basis pemilih tradisional disebabkan partai ini dinilai mulai meninggalkan syariat Islam untuk mengejar kemenangan pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Kondisi itu tidak dapat dikatakan sepenuhnya benar, sebab kemenangan pemilu berbanding lurus dengan percepatan penerapan syariat Islam. Seperti ditegaskan Anis Matta, PKS yakin tetap mampu meraih simpati pemilih tradisionalnya dan mampu merebut basis massa baru sebab deklarasi partai terbuka membuka peluang besar kepada masyarakat Indonesia yang majemuk untuk bergabung dan berjuang bersama PKS.

Belum selesai kontroversi partai terbuka, guncangan keras kembali terjadi dengan terungkapnya kasus skandal suap daging sapi impor yang melibatkan mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq. Meski terhitung korupsi berskala kecil dibandingkan kasus besar lainnya (BLBI, Century dan lainnya), apa daya rakyat sudah terlanjur melekatkan atribut bersih dari korupsi dalam tubuh PKS. Sehingga kesalahan sekecil apapun dianggap sebagai petaka yang merusak citra baik dan kredibilitas baik kepada aspek institusi maupun personalnya. Maka sangat wajar, peringkat PKS dalam survei yang dirilis banyak lembaga selalu buruk. Partai ini juga diyakini tak mampu bersaing dengan partai Islam dan sekuler lainnya yang kuat secara modal finansial dan dukungan basis pemilihnya. Tapi perlu diingat, politik bukan angka matematika, segala kemungkinan terbuka lebar seperti pada pemilu 2004, banyak lembaga survei menilai PKS akan tinggal nama, namun perolehan suara PKS justru meroket dan menembus jajaran partai menengah.

Dalam menjawab tudingan itu, PKS sebenarnya tak perlu menjawab dengan kata, tapi melalui daftar angka dan fakta. Setelah kasus Luthfi, tiga bulan kemudian PKS mampu menjungkarbalikkan pandangan pengamat dengan merajai Pilkada Jawa Barat. Pesta kemenangan belum selesai, PKS kembali mampu merebut kemenangan beruntun dalam Pilkada Sumatera Utara, Maluku Utara dan Kota Padang. Deretan kesuksesan itu jelas modal penting sebelum bertarung dalam Pemilu Legislatif pada 9 April mendatang. Semua tentu tidak terlepaskan dari takdir Allah SWT dan kerja keras mesin politik PKS yang dikenal militan dalam berjuang.

Jika diamati secara mendalam, kemenangan PKS sesungguhnya semakin dekat. Potensi kemenangan ada sebab partai ini sudah mampu membuktikan dapat bangkit dari keterpurukan yang ada. Hemat penulis, ada setidaknya tiga potensi besar PKS yang harus terus diperjuangkan sehingga mampu meraup suara secara optimal.

Pertama, dimensi geografis. Indonesia adalah negara dengan struktur geografi yang luas, terbagi atas daratan dan lautan. Secara umum, Indonesia memiliki 34 provinsi yang tersebar di lima pulau besar. Dalam konteks ini, PKS memiliki keuntungan besar sebagai partai dengan kekuatan jaringan massa yang luas. Selama tiga kali Pemilu, PKS sudah berhasil mengembangkan jaringanya dan membentuk struktur partai pada semua tingkatan (nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan RT/RW). Itu semua adalah modal dasar untuk memenangkan Pemilu 2014. Apalagi partai dakwah ini dikenal memiliki mesin politik yang kuat dalam melakukan mobilisasi massa untuk kepentingan sosial, politik dan lainnya.

Kedua, dimensi demografis. Jumlah penduduk Indonesia sekarang mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Sebagian besar dari mereka adalah pemilih pemula dan massa mengambang. Tingginya kedua jenis pemilih menjadi tantangan untuk semua parpol di Indonesia termasuk PKS. Namun dengan budaya dan karakter program pemberdayaan keumatan seperti pelayanan kesehatan, bantuan bencana dan kerja sosial-politik lainnya, PKS layak optimistik dapat merebut simpati rakyat dalam bilik suara nanti. Semua itu ditambah gencarnya pemanfaatan media sosial untuk menjaring suara pemilih pemula.

Ketiga, dimensi kolektivitas. Sebagai partai kader, PKS tidak pernah memprioritaskan figuritas sebagai nilai dasar dalam memperjuangkan kepentingan politiknya di depan publik. Dalam perjalanan politiknya, PKS selalu mengutamakan kolektivitas sehingga mesin politiknya yakni kader dan simpatisan berjalan militan. Dengan bermodalkan kolektivitas, PKS sukses membangun kepercayaan dengan pemilihnya, sehingga kepercayaan akar rumput terhadap elit partai terbangun dengan baik. Semua itu terbukti selama tiga kali pemilu menjadi modal kuat dalam persaingan politik Indonesia yang keras.

Di balik semua modal itu, tugas PKS sekarang adalah terus berusaha memperkuat spiritualitas para kadernya. Sebab sesungguhnya takdir kemenangan akan hadir ketika kedekatan para kader PKS kepada Allah SWT tetap terjaga dengan baik. Dengan mendekat kepada Allah SWT, kemenangan politik pada Pemilu 2014 tidak akan meninggalkan kesombongan. Sebaliknya, kekalahan politik juga tidak meninggalkan kekecewaan dan luka mendalam di hati para kader PKS.

”Dan sungguh telah kami tulis di dalam Zabur, setelah tertulis di dalam Lauh Mahfuzh bahwa bumi akan diwarisi hamba-hambaku yang shaleh. Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al-Qur’an) ini, benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (Allah): (QS Al Anbiya: 105-106)


Oleh : Inggar Saputra ( Mahasiswa Magister Studi Ketahanan Nasional Universitas Indonesia, aktif sebagai peneliti di Institute for Sustainable Reform (INSURE))

Powered by Blogger.