Header Ads

Aksi Bela Islam

Mengirimkan Anak ke Surga?

ilustrasi pemakaman
Sebuas-buasnya binatang, ia tak mungkin memakan anaknya sendiri. Tapi nampaknya, kalimat itu tak lagi berlaku di zaman kita sekarang ini. Di zaman yang semakin senja ini, banya kita dapati perilaku manusia yang lebih buas dari binatang. Tentu, ini terjadi bukan tanpa sebab. Ada yang salah dari kehidupan kita. Baik sebagai individu, keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Belum lama ini, terjadi sebuah kejadian yang membuat kita miris. Seorang ibu, membunuh anak kandungnya yang masih berumur dua setengah tahun. Karena himpitan hutang yang semakin menggunung dan meluas samudra, ibu ini nekat menenggelamkan anaknya ke dalam kolam air yang terletak di lantai dua rumahnya.

Si bungsu pun, langsung meregang nyawa. Tak puas, ibu ini akhirnya hendak melanjutkan aksi bejatnya. Anak keduanya, langsung diincar, dijadikan sasaran. Beruntung, bocah ini bisa lolos sebelum akhirnya diselamatkan oleh pihak keluarga.

Sang Ayah yang bekerja di luar kota, persis tak mengetahui kejadian ini. Anehnya, sebelum akhirnya pihak keluarga melaporkan aksi bejat ibu ini, dia sendiri justru mendatangi kantor polisi dan mengakui bahwa dirinyalah yang melakukan aksi pembunuhan terhadap anak kandungnya.

Anak yang dikandungnya dalam hitungan sembilan bulan lebih itu, kemudian dirawat dalam kurun tiga puluh bulan, dibunuh dengan sadis. Oleh tangan yang sama, tangan yang telah merawatnya selama ini, dengan cinta yang tak mungkin berbalas.

Sesampainya di kantor polisi, tersangka menceracau tak jelas arah. Ia menceritakan segala macam hal, persis seperti orang gila. Ketika pihak kepolisian bertanya tentang apa yang menyebabkan dirinya melakukan tindakan pembunuhan itu, dengan enteng, tegas, tanpa merasa bersalah, ibu itu berkata, “Saya hanya mengirimkan anak saya ke surga, Pak!”

Apa yang terjadi pada ibu ini, mungkin saja dialami oleh orang lain di luar sana. Bahkan, bisa jadi, kita sendiri menanggung beban hidup yang teramat berat. Bukan hanya terkait masalah rumah tangga yang sudah pasti ada, bahkan mungkin banyak. Termasuk juga permasalahan ekonomi yang menjangkiti hampir sebagian besar penduduk di negeri ini. Pertanyaannya, apakah membunuh anak adalah pilihan terbaik sebagai bentuk pelampiasan terakhir?

Tentu, kita tak mengerti apa yang ada di benak ibu itu. Jika terlalu banyak bercakap, bisa jadi, kita justru terjatuh pada tindakan sok tahu tak berdasar. Sehingga, yang terbaik saat ini, adalah melakukan introspeksi. Bisa jadi, apa yang menimpa ibu ini, bersebab kurangnya perhatian dari sekelilingnya. Baik dari suami, keluarga, ataupun tetangga kanan-kirinya. Maka, membunuh anak, dilakukan dengan dalih ‘mengirimkannya’ ke surga.

Selanjutnya, kita berdoa. Semoga yang menimpa ibu itu, tidak menimpa kepada diri, keluarga, sahabat, tetangga juga siapapun di dunia ini setelahnya. Semoga, istri-istri kita diberi kesabaran berlapis baja untuk menanggung beban hidup yang memang tak ringan ini.

Semoga, kita-kita ini, para suami, menyediakan banyak waktu untuk mendengar setiap keluh kesah dan ceritanya. Semoga, di setiap lelah yang menggelayut, kita –suaminya- masih mempunyai sedikit semangat untuk membantu pekerjaan rumah istri kita. Entah sebagiannya, atau seluruhnya.

Semoga, kita dan istri kita, diberi kekuatan untuk saling bersinergi. Dan terus mendekatkan diri kepada Allah. Karena, sebesar appaun masalah yang menimpa, ada Allah Yang Maha Besar dan menjadi sumber solusi atas semua masalah yang kita hadapi. Semoga, anak-anak kita kelak, mendapat pasangat hidup yang sholih, sehingga menjadi ibu yang baik. Ibu yang kuat, tegar, dan bisa melahirkan banyak pejuang kebaikan. Demi tertegak tingginya kalimat Allah di bumi ini.

Semoga Allah semakin menyayangi, menguatkan, memberkahi, mencintai, ibu-ibu kita dan seluruh ibu di muka bumi ini. Semoga, Allah yang maha Pengampun, mengampuni dosa-dosa ibu kita, menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita ketika kecil. Semoga kita, anak-anaknya, bisa memberikan yang terbaik demi kebahagiaan ibu-ibu kita.

Mari, ucapkan terima kasih tak terhingga untuk ibu-ibu kita, di manapun mereka berada. Karena, jika ibu kita melakukan aksi ekstrem sebagaimana ibu di dalam cerita ini, mungkin saja, kita tak lagi bisa menikmati hidup dan melakukan banyak hal demi kebaikan di bumi ini. Namun, jika ternyata, kita lebih banyak melakukan keburukan di sepanjang kehidupan ini, mestinya kita lebih wajib untuk meminta maaf kepada ibu-ibu kita. Karena bukan untuk itu kita dirawat hingga dewasa.

Bu, terimakasih. Karena kau, tak mengirimkanku ke surga sebagaimana yang telah dilakukan oleh ibu dalam kisah ini. []


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com



No comments

Powered by Blogger.