Header Ads

Aksi Bela Islam

Pentingnya Pemetaan Terhadap 3 Objek Dakwah

Dakwah - Sang Murabbi
Dakwah adalah mengajak manusia dari menyembah sesama kepada menyembah kepada Allah semata. Dakwah adalah jalan terbaik yang harus ditempuh oleh kaum muslimin yang mukmin, di manapun mereka berada. Dakwah adalah ‘pekerjaan’ utama, sebelum pekerjaan apapun selainnya. Maka dakwah, adalah seni mengambil hati obyek dakwah. Dengan kebaikan, bukan caci makian. Dengan cinta, bukan ungkapan kebencian. Dengan empati dan simpati, bukan penghakiman yang tak bertepi.

Kesuksesan dakwah bukan ada pada seberapa banyak orang yang masuk dalam dakwah yang kita lakukan. Karena itu hanyalah bonus dari Dzat yang telah memerintahkan dakwah. Kesuksesan dakwah, adalah ketika sudah menyampaikan aturan-aturan Allah, sesuai dengan cara yang Allah kehendaki itu, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, sahabat dan dua generasi setelahnya.

Meski begitu, jumlah dalam Islam sangatlah penting. Walaupun, memprioritaskan kualitas jauh lebih penting dibanding jumlah banyak namun tak bermutu. Inilah yang menerangkan kepada kita, bahwa pasukan Tholut yang minoritas, bisa mengalahkan pasukan Jalut yang mayoritas. Pun, dengan Perang Badar. 313 pasukan kaum muslimin bisa mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy. Karena kualitas mumpuni dari jumlah yang sedikit itulah, Allah berkehendak untuk menurunkan pasukanNya dari golongan malaikat yang dirahmati.

Nah, dalam mengupayakan jumlah yang banyak dengan kualitas tangguh, diperlukan pemetaan objek dakwah. Agar seruan bisa dikemas sedemikian rupa sesuai dengan kondisi objek dakwah yang bersangkutan.

Setidaknya, ada 3 jenis objek dakwah yang harus difahami dengan benar. Sehingga, bisa dirumuskan langkah yang tepat. Dan, tidak salah ‘garuk.’

Pertama, orang-orang pragmatis. Kalangan ini biasanya berada di kalangan pinggiran. Jika di kota, maka mereka adalah para perantauan yang belum memiliki kematangan. Baik dari segi ekonomi, keilmuan maupun politik. Kalangan ini, biasanya berpendidikan menengah ke bawah. Karena kepragmatisan mereka, maka skenario yang bisa kita jalankan adalah memenuhi apa yang mereka butuhkan.

Untuk mengambil hati kalangan ini, kita tidak butuh retorika atau aneka jenis sajian intelektual lainnya. Mereka adalah kalangan yang lebih berhajat dengan pemenuhan kebutuhan fisik. Maka, penuhilah kebutuhan sehari-harinya, upayakan kesehatan mereka dengan pengobatan gratis, upayakan sandang yang layak untuk mereka, papan yang memadai dan juga makanan sehat yang mereka hajatkan.

Inilah mengapa, mereka yang membagi-bagikan uang bisa lebih mudah diterima. Karena mereka tidak pernah berpikir dampak lima tahun mendatang. Mereka lebih tertarik untuk memikirkan kebutuhan saat ini dan bagaimana menyikapinya. Dalam tataran ini, da’i tak boleh terjebak juga. Harus ada upaya penyadaran berkesinambungan di samping mencukupi apa yang mereka butuhkan.

Dua, kalangan intelek yang belum punya afiliasi. Jenis ini lebih moderat dibanding jenis pertama. Bisa jadi, kondisi ekonomi kedua objek dakwah ini tidaklah jauh berbeda. Yang membedakan adalah porsi otak dan orientasi hidup. Sayangnya, golongan ini seringkali mendapati kegamangan lantaran belum menemukan ‘tambatan hati’ yang tepat.

Kalangan ini biasanya hanif. Kelakuannya juga relatif santun. Oleh karena itu, mereka lebih membutuhkan pada adanya upaya-upaya yang bisa ‘merayu’ pemikiran mereka. Sehingga, kalangan ini sangat butuh dengan artikel, majalah, buku, video dan segala macam media yang menjelaskan tentang fikrah dakwah yang disebarkan. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pendampingan bagi mereka jika suatu ketika memberikan pertanyaan, insya Allah akan memudahkan mereka memahami dan kemudian bergabung dalam gerbong dakwah.

Tiga, mereka yang berseberangan dengan dakwah. Golongan ini bisa berasal dari dua kubu. Yang nyata menentang karena beda agama atau yang berseberangan dalam banyak kasus karena berbeda fikrah dan cara perjuangan. Untuk kedua jenis golongan ini, pendekatan ala objek dakwah yang pertama dan kedua tidak lagi berfungsi. Karena, golongan ketiga ini relatif mandiri dan berdaya secara ekonomi.

Jikapun mereka memiliki keadaan ekonomi yang sama dengan golongan pertama, idealisme dan pemahaman yang sudah ditanamkan dalam diri mereka adalah harga mati yang tak mungkin ditawar. Pendekatan dengan pembagian media dakwah sebagaimana dilakukan terhadap golongan kedua juga tak berfungsi. Karena, golongan ini sudah memetakan segala jenis media yang harus mereka jauhi karena perbedaan fikrah itu. Sehingga, mereka ini sama sekali tidak tertarik dengan artikel, majalah ataupun buku tentang dakwah ini.

Berdebat dengan mereka pun percuma. Karena hanya akan menimbulkan jidal yang meruncing dan solusi tak akan pernah ditemui. Sehingga, yang harus kita lakukan terhadap objek dakwah golongan ketiga ini adalah memberikan bukti.

Teruslah menebarkan amal sholih yang kemanfaatannya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk golongan ini. Lanjutkan perjuangan, meski cacian mereka terus terlontar. Dan, komentar buruk dari mereka terus dialamatkan kepada kita. Anggap saja, apa yang mereka lakukan itu adalah ekspresi cinta. Lantaran kebaikan, sampai kapanpun, adalah nilai asasi yang dicintai oleh semua manusia di muka bumi ini.

Dengan pemetaan yang baik ini, insya Allah, dakwah yang kita galakkan akan menemukan muaranya secara tepat. Efektif, efisien dan berdaya gerak lebih. Penting diingat, jangan berikan majalah kepada mereka yang kelaparan. Jangan pula berikan nasi kepada mereka yang kekenyangan. Jangan sampai, mendebat orang yang memang pandai dalam teori dan retorika. Selamat menaklukan hati objek dakwah, semoga dakwah ini bisa kita menangkan. Aamiin.


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com


No comments

Powered by Blogger.