Header Ads

Aksi Bela Islam

Al-Qur'an, Petunjuk Sepanjang Jalan

Mushaf Al Quran
Kehidupan yang tengah kita jalani, awalnya adalah pemberian, anugerah dari Allah. Dalam tahap ini, kita tidak bisa memilih untuk dihidupkan dari keluarga seperti apa? Akan dijadikan seperti apa? Atau aneka pilihan lain yang diinginkan. Dalam tahap ini, semua penciptaan terkait kita, mutlak hanya milik-Nya. Di sini, kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari orang tua yang kaya raya, dilahirkan sebagai anak pejabat, dilahirkan dari rahim seorang konglomerat dan seterusnya.

Oleh karenanya, dalam menyikapi hal ini, kita mesti ikhlas dan kemudian mengambil hikmah dari setiap yang dianugerahkan-Nya. Mengingkari apa yang telah diberikan-Nya hanyalah sia-sia. Akibatnya hanya satu : adzab yang pedih.

Setelah pemberian di awal penciptaan, maka kita akan memasuki tahap kedua : Hidup adalah Pilihan. Ia merupakan pilihan yang Allah bentangkan setelah sebelumnya kita ‘dipaksa’ menerima pemberianNya -tanpa sedikitpun kalimat protes. Ada tiga faktor yang berpengaruh dalam hal ini : Orang Tua (keluarga), Diri Sendiri dan Lingkungan.

Faktor pertama, orang tua. Ayah dan Ibu kita adalah representasi dari diri kita. Tidak heran jika kita mendapati sebuah ungkapan populer, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Ungkapan ini sangatlah beralasan. Karena kedua orang mulia itulah yang berperan besar dalam melahirkan dan merawat kita hingga mandiri kelak. Sabda Nabi, “Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci. Maka orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani atau majusi.”

Ketika masih bayi, kita diibaratkan seperti kertas putih. Tidak bernoda sedikit pun. Dan kedua orang tua kitalah yang diberi wewenang oleh Allah untuk menuliskan sesuatu di kertas itu. Akankah mereka membiarkan kertas itu putih kemudian membubuhkan warna warni indah di dalamnya? Menumpahkan warna hitam di kertas tersebut? Atau, menjadikannnya tak berbentuk, asal menulis, gak tahu tujuannya apa?

Dari sinilah kemudian kita mengenal ‘anak koruptor’ yang lahir dari orangtua yang korupsi, anak pencuri dari orang tua yang hobinya ‘maling’ dan seterusnya. Dalam khazanah keislaman, kita juga mendapati anak Nabi yang dilahirkan dari Nabi. Sebut saja Nabi Ismail dan Nabi Ishaq ‘Alaihimussalam. Beliau dilahirkan dari kekasih Allah, Ibrahim ‘Alaihissalam. Dalam kehidupan di zaman akhir ini, kita juga mendapati seseorang yang menjadi kiai lantaran ayahnya seorang ulama’. Seseorang yang sukses bisnis karena ayahnya adalah bisnisman ulung, dan seterusnya.

Meski demikian, kita tidak menafikan adanya ‘pengecualian’. Hal ini hanya terjadi pada beberapa kasus. Bukan kebanyakan. Hal ini sengaja Allah ciptakan agar kita senantiasa mengambil pelajaran dari setiap perstiwa yang terjadi. Terlebih lagi pada peristiwa yang telah dihadapi oleh orang-orang terdahulu, agar kita bisa bijak dalam bersikap.

Tentunya masih lekat dalam ingatan kita tentang kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Beliau adalah panutan, pembawa risalah Allah untuk umatnya kala itu. Sayangnya, anak dan istri beliau kufur. Keduanya tidak mau menuruti apa yang hendak dilukiskan oleh sang ayah terhadap dirinya. Jadilah sebuah pelajaran sangat berharga dalam kehidupan kita, bahwa kita sangatlah terbatas. Bahkan untuk menyelamatkan istri dan anak kandung sekalipun, jika Allah tidak menghendaki, maka hal itu sangatlah mustahil untuk terjadi.

Kasus ini hendaknya membuat kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah agar Dia membimbing diri dan keluarga kita menjadi salah satu peserta reuni maha akbar di surga-Nya kelak.

Faktor kedua, diri Sendiri. Allah berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” Ayat ke 8 surah as-Syams [91] ini merupakan sebuah petunjuk yang sangat jelas. Sejelas sinar rembulan ketika purnama. Bahwa menjadi apapun kita saat ini, sangat ditentukan oleh pilihan yang kita ambil. Ayat tersebut, secara bebas bermakna demikian, “Terserah kamu dech! Mau beriman, atau kufur! Silahkan pilih apa maumu. Yang penting kamu siap untuk mempertangungjawabkannya kelak.”

Ayat ini dilanjutkan dengan sebuah petunjuk yang indah. Petunjuk yang sangat menenangkan. Tentang sebuah pilihan yang seharusnya diambil. Jika yang dipilih adalah jalan taqwa, maka kita akan beruntung. ”Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” (Qs. asy-Syams [91]:9). Ketaqwaan bisa kita peroleh ketika diri senantiasa mensucikan diri dengan mendekat kepada Allah. Namun, jika yang dipilih adalah jalan kefasikan, jalan keburukan, maka kata Allah, “Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (jiwanya)” (Qs. asy-Syams [91]:10).

Jika pilihan kita jatuhkan pada jalan taqwa, maka cara yang kita ambil adalah membersihkan jiwa dari segala macam kekotoran dosa dengan menjauhi perbuatan buruk serta melaksanakan seluruh amal shalih yang mampu kita lakukan. Hasil yang akan Allah berikan adalah keberuntungan. Entah di dunia ataupun di akhirat. Namun, jka jalan kefasikan yang kita sunting, maka jalannya bisa bermacam; jalan kemaksiatan, kedurhakaan dan semisalnya. Dan hasilnya dalah kerugian. Kerugian di dunia sebelum kerugian abadi di akhirat kelak.

Faktor ketiga, lingkungan dimana kita tinggal. Lingkungan sangatlah berpengaruh terhadap prospek kehidupan di masa depan. Karena sejatinya, kita adalah lingkungan kita. Kita adalah sahabat kita, dan kita adalah orang-orang di sekitar kita.

Oleh karenanya, jika lingkungan kita adalah orang-orang yang shalih, maka jalannya ada dua : ikut shalih atau keluar dari lingkungan keshalihan itu. Karena banyak kisah mengajarkan, bahwa tidak semua orang yang berada dalam lingkungan kebaikan akan serta merta menjadi baik. Bahkan, mereka yang berkecenderungan buruk akan berusaha menghindar dari lingkungan kebaikan itu.

Namun, ketika kita berada pada lingkungan yang belum baik. Maka, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah mengubah. Jika mengubah tidak mampu, maka janganlah mengikuti arus. Jika dirasa tak mampu bertahan, maka hijrah adalah pilihan terbaik yang harus dieksekusi. Kita mesti berpindah menuju lingkungan yang lebih baik. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah di awal masa kenabian. “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Dan jika tetap tidak mampu, maka bencilah perbuatan itu dengan hatimu. Dan itulah selemah-lemahnya iman.” Demikian disabdakan oleh Sang Junjungan.

Ketiga faktor itu, semuanya kembali kepada kita. Karena kitalah yang kelak akan mempertanggungjwabkannya di hadapan Allah, ketika Yaumul Hisab nanti.

Lantas, bagaimana seharusnya agar kita tidak salah memilih? Jawabnya sangat jelas : al-Qur’an. Al-Qur’an inilah yang akan membimbing kita dalam mengarungi samudera kehidupan yang buas ini. Al-Qur’anlah yang akan menunjuki kita terkait belantaranya hutan yang akan kita taklukan. Dengan al-Qur’anlah kita akan selamat jika mematuhi arahannya. Begitupun sebaliknya : terjerumus ke dalam lubang kebinasaan manakala diri mengingkari undang-undang Ilahiah yang terdapat di dalamnya. Inilah al-Qur’an, petunjuk sepanjang jalan yang akan membimbing kita menjadi seperti yang Allah inginkan. Yang akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati, kelak di akhirat. Lantas, Sudahkah kita menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk sepanjang perjalanan kita? Atau, masihkah kita menyukai petunjuk yang berasal dari selain al-Qur’an?[]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com

1 comment:

Powered by Blogger.