Header Ads

Aksi Bela Islam

Jangan Jadi Akhwat (Terlalu) Eksklusif!

ilustrasi jilbab besar (akhwatmuslimah.com)
Ya, jilbabmu lebar, menutup dada, dan menutup bagian belakang tubuhmu. Jelas, kau cerdas terlebih dalam masalah agama. Tentu saja, kau sudah pasti adalah seorang aktivis dakwah yang sibuk dengan agenda-agenda syuro setiap pulang kuliah. Tak heran, kau adalah seseorang yang istimewa.

Setiap hari, selain kuliah, kau sibuk berdakwah. Organisasi yang kau ikuti pun memiliki banyak kegiatan syiar dakwah di setiap minggunya. Baik di dalam kampus, maupun di luar. Waktumu dihabiskan untuk memperjuangkan Islam, menegakkan dakwah, dan berjihad di jalanNya.

Namun satu hal yang kau lupa. Kau secara tak langsung meng-‘eksklusif’kan dirimu. Kau memang eksklusif, namun yang dimaksud di sini adalah kau yang terlalu eksklusif. Pernahkah terlintas di benakmu tentang apa yang orang fikirkan tentangmu? Oh, ya, mungkin pernah. Namun, kau berfikir bahwa mereka mengganggap kau adalah gadis cantik, cerdas, dan sholehah. Cobalah sesekali kau ubah sudut pandangmu, anggap bahwa kau adalah mereka, orang-orang di luar organisasi dakwahmu.

Kesan pertama mereka adalah bahwa kau fanatik. Jujur, temanku sendiri yang mengatakan ini padaku. Terlalu fanatik dengan jilbab besarmu, menutupi sampai ke belakang hingga betismu, dan disertai gamis yang terulur di tubuhmu.

Keakrabanmu dengan teman se-‘prinsip’mu juga yang menjadi sorotan oleh mereka. Kau terlalu dekat dan hanya mau berkumpul dengan orang yang kau anggap seiman denganmu, seprinsip, dan kalau boleh aku berkata, dengan sesama akhwat berhijab lebar itu. Mereka terasingkan darimu, ukhti. Kemudian yang terjadi adalah kau yang melihat mereka sebelah mata karena anggapanmu bahwa ilmu agamamu jauh melampaui mereka. ‘afwan, kau kemudian meremehkan para perempuan diluar sana yang belum berhijab, yang sudah berhijab namun belum syar’i sepertimu, bahkan kau jauh memandang sebelah mata perempuan lain yang tidak seakidah denganmu. Astaghfirullahaladzim.

Aku sedih mendengar cerita mereka. Kau tak mau bergabung dengan mereka, bahkan ketika mereka sudah memasuki area dakwahmu pun masih kau abaikan. Mereka bilang bahwa mereka terasingkan dan merasa tidak penting ketika mereka diikutsertakan dalam kepanitiaan yang ada kelompok-kelompokmu di dalamnya. Ya, karena kau menganggap dirimu eksklusif dan kau takut ketika kau bergabung dengan mereka yang masih jauh dari syariat islam kau akan dicap sama seperti mereka.

Tentu tidak, ukhtifillah. Justru mereka yang seperti itu yang harus kau rangkul. Bergabunglah dengan mereka sesekali, buktikan bahwa kau tak se-eksklusif yang mereka kira. Kau bisa sekedar mengobrol dengan mereka, pergi ke kantin bersama mereka, atau mengerjakan tugas bareng mereka. Dengan hal ini, kau bisa melebarkan sayap dakwahmu. Kau bisa sesekali menyisipkan pesan-pesan kebaikan ketika sedang berbincang dengan mereka. Buku-buku agamamu yang kau simpan di rumah tak akan berguna bila kau simpan sendiri. Bawa buku itu ke kampusmu dan jadikan itu sebagai sarana dakwahmu. Perlahan, mereka akan mengerti bahwa kau tak seperti yang mereka kira.

Mungkin saja, mereka akan bertanya-tanya tentang bagaimana Islam yang sebenarnya kepadamu. Hingga sampai-sampai mereka akan bertanya tentang dimana kau beli khimar dan gamis yang kau kenakan, apa fungsi manset tanganmu, hingga hal-hal detail yang terlihat oleh mereka dari luar. Well, jika sudah sampai saat itu, waktunya kau untuk bersyukur dan perlahan menuntun mereka sehingga mereka bisa sampai dititik dimana kau berada sekarang. Syurga terlalu luas untuk ditempati sendiri, kan? Berbaurlah, dan ingat, jangan jadi akhwat yang terlalu eksklusif! []

Penulis : Ratih Oktri Nanda
Mahasiswi semester 2 di Fakultas Kesehatan Masyarakat sebuah PTN di Sumatera Utara. Menyukai bunga matahari dan musim panas. Sedang belajar, dan akan terus belajar.

49 comments:

  1. subhanalloh, di usia belia, pandanganmu luas.
    ya,sebenarnya ktkakita bisa mmbaur,mndpt ksmptn utk mngetahui apa sbnarnya yg dibutuhkn shngga da'wah qt tpat,

    ReplyDelete
  2. Ya benr jg sih.. tanpa maksud apa2 tp memang msh banyak yg spt itu, terlalu eksklusif...

    ReplyDelete
  3. Apanya yang eksklusif klw bnyak ikut orgnisasi,, dlm organisasi itu bnyk jg ikhwan,, apanya yg eksklusif klw sering brinteraksi dgn ikhwan,

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita kan tau batasan2 nya mas..berdiskusi terbuka dengan ikhwan kan juga ada manfaatnya.

      Delete
  4. kadang berteman dengan orang yang tidak sepaham, tidak sefikroh, yang tidak mempunyai pemahaman keislaman yang memadai, juga beresiko lho...kalo saya sih suka berteman dengan yang "sama" dengan saya. saya orang yang sangat percaya "barangsipa yang berteman dengan pedagang minyak wangi akan mendapat wanginya, barangsiapa berteman dengan tukang besi akan mendapat asapnya......"

    ReplyDelete
  5. Kita adalah umat pengemban rahmatan lil'alamiin di manapun dan bersama siapapun tebarkan dakwah sekemampuan. kita jadikan orang di sekeliling kita sebagai objek dakwah atau bahkan mitra dakwah

    ReplyDelete
  6. Itulah mengapa Allah memerintahkan kita untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Untuk para dai atau aktivifis dakwah, jangan jadikan label itu suatu kebanggaan sehingga melupakan dunia sekitar. Maaf, ada aktifis dakwah sibuk diluar sedangkan rumah berantakan. Kaos kaki letak sembarangan, bahkan pakaian ibu yang mencucikan karena bergitu sibuknya dengan agenda-agenda dakwah. Tetangga juga sampe lupa kalo kita tatangganya, sampe nanya "si fulanah ini siapa ya bu?" . Kasus yang ukhti Ratih tulis diatas, saya juga pernah mendengar keluhan dari beberapa teman yang merasa si Fulanah itu ekslusif, kumpulnya hanya sama si ini dan si itu. Sebenarnya, bukan masalah berteman dengan penjual minyak wangi atau tukang besi. Tetapi berbaurlah sama tukang besi agar mereka bisa mencium wangimu. Jangan kau ikut-ikutan jadi tukang besi. Berbaurlah jangan sampai melebur. Ketika bau asap telah tercium dari kita maka kembalilah berkumpul dengan para penjual minyak wangi. I

    ReplyDelete
  7. Subhanalloh,, memang seharsnya begitu. Kalo sy setuju agar image ekslusif itu bs sedikit berkurang maka perlu membaur juga dengan masyarakt di luar komunitasnya. Bukankah Islam itu rohamatan lil 'alamin,,,, afwan

    ReplyDelete
  8. Tidak semua nya eksklusif ukhti . Tapi yaaaa , gatau deh wkwkkw

    ReplyDelete
  9. Saya kenal dengan baik seseorang yang seperti itu. Sibuk dakwah ke sana kemari tetapi urusan rumah berantakan. Lebih banyak menghabiskan waktu di luar ketimbang dengan keluarga. Hal itu tentu saja membuat orang tersebut jauh dari keluarga bahkan terasing. Saya tidak menyalahkan orang yang berperilaku tersebut, namun ada baiknya bila segala sesuatu tidak diserap berlebihan yang dapat mengakibatkan lupanya seseorang terhadap kewajiban yang sama pentingnya dengan dakwah.

    ReplyDelete
  10. Subhanallaah , seandainya semua muslimah berhijab spt ini alangkah indahnya hidup ini ,....

    ReplyDelete
  11. Saya setuju sama pendapat Aprilliana Tanwahyuni, bergaulah dengan tukang besi agar mereka dapat mencium wangimu, tapi jangan ikut2an jadi tukang besi. kasus seperti ini sudah sering sekali saya temukan, dialami oleh teman2 saya dan bahkan saya sendiri...ada yang bisa menjelaskan mengapa bersikap sperti itu?

    ReplyDelete
  12. ya... masih banyak yg "terlalu" ekslusif
    sedikit yg mau bergaul dengan yg tidak berjilbab
    takut terkena pengaruh nya ?
    bukannya seharusnya memberi pengaruh, knapa takut terpengaruh..
    afwan

    ReplyDelete
  13. Banyak dari mereka yang berjilbab hanya bergaul dengan sesama mereka yang berjilbab pula,
    Bahkan tak jarang dari mereka beranggapan mereka yang tidak berjilbab sebagai muslimah yang tidak taat, anggapan ini mungkin yang menyebabkan mereka tidak mau bergabung dengan komunitas yang tidak berhijab tadi,
    namun tidak sedikit pula yang mau berbaur dengan siapa saja,
    setidaknya itulah realita yang saya lihat di lingkungan saya

    ReplyDelete
  14. Dakwah bs dikatakan ada hasilnya ketika yang merasakan bukan hanya orang-orang di golongannya :')

    ReplyDelete
  15. Ini seperti jawaban orang awam di indonesia yang sudah di setting oleh Yahudi. seprti ngapain pakai hijab kalau kelakuanya aja bejad. Memakai hijab itu Wajib bagi perempuan. Hanya saja sebagian besar wanita di Indonesia masih banyak alasan belum siap, yang penting hatinya baik lah. kenapa wanita harus menutup aurat Karena semua tubuh wanita itu adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. dan bukan karena hatinya jelekdan perilakunya buruk. ada nih pemaparan dari ustadzah Herlini amran. semoga mendapat pencerahan silahkan ke http://www.youtube.com/watch?v=5d6ccE3C6z4

    ReplyDelete
  16. afwan, ana kurang setuju dengan bahasa artikel di atas. Terlalu menyudutkan akhwat yang telah istiqomah untuk benar2 menutup aurat...Ciri-ciri wanita solehah adalah salah satunya menutup aurat dengan benar. afwan...

    ReplyDelete
  17. Syukron ukhti untuk nasehatnya,smoga tmbah bnyak karyanya,,,amiin :)

    ReplyDelete
  18. Yg membedakan air putih diwarung dan di minimarket hanyalah kemasan.

    ReplyDelete
  19. ada visualisasi yg lebih mewakili? kok kayaknya kalau visualisasi yang ditampilkan 2 sosok akhwat jilbab gedhe gitu kok kesannya mengeneralkan bahwa yg selalu bersikap eksklusif adl para jilbab gedhe2 gitu ya? pdhl setau saya jilbab gedhe gitu yang malah lebih baik penampilannya sesuai syari'at...
    lagi pula yg sering bersikap eksklusif gak cuma yg jilbab gedhe gitu aja,,, jilbab biasanya aja atau sesuai yg ditulis di atas (suka rutin rapat, aktivis organisasi) tidak sedikit yg bersikap eksklusif,, dari organisasi apa aja... wallauhu a'lam

    ReplyDelete
  20. Very good post. I will be dealing with some of these issues as well..


    Here is my page hottest live sex

    ReplyDelete
  21. Ambil positifnya ukhty/akhy fillaah..

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. Benar...kita tidak boleh ekslusif dalam pergaulan...kita harus berbaur dan terbuka dengan siapapun meski dengan saudara berbeda akidah, tentu dengan cara yang tidak berakibat pada melanggar prinsip akidah islam. Maka sebaiknya sbgai dai/daiyah wajib memiliki pemahaman aqidah islam yang benar sehingga dalam pergaulan dengan siapapun dalam rangka berdakwah tidak akan terpengaruh. maka kuatkan diri dan buka diri untuk menebarkan kebaikan kepada mereka. InsyaAllah berkah.

    ReplyDelete
  24. Enk akhwat it liar. Modal tax sst aj udh bsa ditidurin. Lliar lg.

    ReplyDelete
  25. "terlalu ekslusif" bukan eksklusif. akhwat memang ekslusif, tapi ini mengenai beberapa orang (kejadian di kampus ana sendiri) yang begitu. Entah karena karakternya berbeda-beda atau gimana, yang jelas ana cuma ingin sharing aja. :) Dan ini juga cerita langsung dari temen-temen ana yang merasa kaya gitu. Afwan jiddan. :)

    ReplyDelete
  26. Dan ana juga dulu masih hanya ingin bergabung dengan sesama temen yang sama, yg jilbab2 lebar jg. Soalnya masih rada takut. Eh, ternyata, setelah belajar, sikap ana yg kaya gitu ga bagus. Malah lebih seru kalo rame2 sama yang lain. 'Kau' di artikel ini salah satunya ditujukan ya untuk diri ana sendiri, muhasabah diri. :'D

    ReplyDelete
  27. subhanallah !!! benar banget mak kerna dakwah sesungguh nya untuk mengajak orang yang belum tau ataupun blum paham dengan agama allah lah yang masih awam yg perlu di rangkul dan diajak untuk menuju kebaikan,,,,kalau udh baik,tau dan paham agama allah sbnrya ngak perlu begitu intens untuk berdakwah di dalam nya!!!!ya ngak

    ReplyDelete
  28. ulisan ini bisa menurut saya kritik yang salah kepada akhwat yang berjilbab besar. Anggapa kita sbg orang awam kepada mereka2 yang berjilbab besar sbg ekslusif itu salah,, harusnya kita salahkan diri kita yang jauh dari ilmu agama dan majelis ta'lim sehinga kita tidak bisa memahami mereka. maksud dari "Bergabunglah dengan mereka sesekali, buktikan bahwa kau tak se-eksklusif yang mereka kira. Kau bisa sekedar mengobrol dengan mereka, pergi ke kantin bersama mereka, atau mengerjakan tugas bareng mereka" apa? bagaimana mau bergabung jika disitu ada ikhtilat?

    Hormatilah mereka, jauhkan prasangka buruk pada mereka yang sedang menjalankan agama ini seperti menggenggam bara api. Islam jadi asing menurut kita karena kita sudah menjauh dari ilmu. Bisa jadi akhwat yang kita tuduh ekslusif adalah orang2 yang dikabarkan Beruntung oleh rasulullah.

    “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

    Lebih lanjut :http://al-atsariyyah.com/islam-datang-dalam-keadaan-asing...

    ReplyDelete
  29. beberapa hal saya setuju, tapi beberapa hal saya tidak setuju...

    kalimat ini:
    Kemudian yang terjadi adalah kau yang melihat mereka sebelah mata karena anggapanmu bahwa ilmu agamamu jauh melampaui mereka.

    sebuah prasangka loh... kalau belum ada data jangan dulu menjudge. Anti tahu mereka berbuat begitu dari mana...

    semoga Allah selalu membimbing kita.

    ReplyDelete
  30. Sebenarnya tidak eksklusif...coba luangkan waktu untuk mengenal mereka lebih dekat, pasti anda akan mengerti.

    ReplyDelete
  31. gw setuju ama penulis, gw melihat dan merasakan sendiri, mereka tuh yg jilbabnya lebar2 laganya sok2 agamis, gak mw bergaul ama yg laen..... padahal gw tuh udah coba deketin mereka, pengen blajar dari mereka, tpi tetep aja mereka bikin jarak ama gw.....
    gw gk tw dwh knapa kyak gtu, kalo di kampus gw, cewe berjilbal lebar tuh mmg benar kesannya eksklusif, apalagi kalo bikin acara2 seminar, yg datang yang jilbaber semua, gw tuh bysanya langsung ilfil kalo ada acara seminar trus yg ngadain anak ldk..... ya paling acaranya gtu2 aja, yg datang yg jilbabser smw,,,, apalagi kalo bicara pake ana antum, gw kan jadi minder dkt2 mereka,
    gw akui mereka emang pinter, aktif, kritis..... tapi sayang sekali kesan yg gw tangkep mere emg eksklusif....
    gw tuh pengen gabung ama kalian, tpi bingung gmana caranya, gw cuma bisa ngasih saran aja bgi tmn2 yg berjauang di "LDK"
    kalo bikin acara seminar coba bikin judul yg menarik yang merangkul semua golongan, byr kami kami yg di anggap awam ini bisa ikut dan dket ma kalian, bysanya kesan yg gw tangkep kalo ada acara2 seminar "yaa paling acaranya anak2 LDK",
    trus, menurut gw kalian tuh da'wah hanya buat kalangan lo sendiri, hanya bwt anak2 mushola dan mesjid doang, knapa kalian para aktifis LDK gak dateng ke kantin2 kampus, nongkrong2 brg kami, knapa kalian gk mw ngobrol atau sekedar nerima curhatan kami, tolong ajak kami gabung dgn kalian,, kami ingin tw lebih dlm ttg kalian....kami ingin seperti kalian.......

    ReplyDelete
  32. Bner bgt, makanya aku wlwpun pake jilbab gede biasa2 aja kok (gak ngkut jd aktivis dakwah n ttp berbaur dgn yg lain wlopun tmn2 yg awam kirain aq diantara yg eksklusif itu). Alasannya simpel klo mo berkelit gak ngikut kyk mbk2 yg d LDK, yt aq tgal blg klo aq lulusan pesantren, titik. krn aku kurg sreg ikutan di firqoh yg mngusung dakwah kyk yg rame dikampus (aq masa bodo seandainya dicap mcm2 sm akhwat yg aktivis, this is my own style). bagiku dakwah biar skcil apapun kan jg bs disampein buat tmn kita yg awam. seandainya style ku berbusana ada yg kurang sempurna di mata mreka krn namanya manusia kdg malas n iman yaziidu wa yanqush jgn seenaknya mncela wlopun dgn cara yg halus. o ya, aq pernah trsinggung bgt gr2 brbusana da yg kurang (dia bner jg sih cmn nyampeinnya itu loh), akhwt kok mulut pdesss. oh noooo keep ur tongue first.

    ReplyDelete
  33. Kenapa takut disebut eksklusif?justru krn sy eksklusif,sy bs btahan dr dunia profesi hukum yg cukup bejat,sy msh btahan dng jilbab lebar sy ditengah smua rekan kerja sy yg laki2 dan bhkn sy mjd leader mereka,dan sy msh bs btahan dng menikahi seorang laki2 yg mbuat sy smakin bangga dng yg kt orang eksklusif,jilbab sy lebar sekali tp siapa bilang itu menutup diri sy?bhkn sy saat ini msh btahan mjd mahasiswa program doktor dng nilai IPK tbaik,justru dng keekslusifan sy,sy mjd tdk eksklusif.bg para dai2 muda,hati2 dng isu spt ini,ini isu murahan...yg pntng berbaur tp tdk melebur,tetap mjd mutiara dilaut yg asinn
    Dan siapa bilang kami tdk ke kantin?cafe?atw apalah namanya,justru tongkrongan kami stlh masjid adl dimana bny orang berkumpul

    ReplyDelete
  34. Assalamu'alaikum. Terima kasih kepada penulis yang sudah membuka topik ini. Menurut saya topik ini tidak bisa di generalisir ke semua wanita berjilbab lebar.

    Yang tahu isi hati setiap manusia hanya Allah SWT. Siapa tahu seorang perempuan berjilbab panjang tetap bersama kelompoknya karena dia ingin menjaga imannya agar tidak terbawa arus yang tidak baik. Siapa tahu ini adalah salah satu caranya dia untuk menjaga keistiqomahannya di jalan Allah SWT. Kekuatan iman seseorang hanya Allah SWT yang tahu.

    Saya setuju dengan kalimat "melebarkan sayap dakwahmu" :) Hendaknya kegiatan berdakwah itu ada pada diri setiap umat muslim.

    "Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

    (Surat Ali 'Imran ayat 104)

    Dakwah itu bisa banyak caranya. Jika belum siap untuk masuk ke "orang-orang di luar organisasi dakwahmu" (kalimat yang digunakan penulis), bisa dengan memberikan contoh perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam.

    Akan tetapi, persiapan untuk berdakwah diluar lingkungan organisasi juga harus dilakukan, sesuai dengan firman Allah SWT di dalam Surat Ali 'Imran ayat 104. Ada beberapa ayat dan hadits yang menyuruh kita untuk berdakwah. Yuk, kita pelajari ilmu tentang berdakwah :)

    Mari kita renungkan beberapa hadits ini:

    “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
    (Sumber: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pengaruh-teman-bergaul.html)

    “Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” [HR. Bukhari]
    (Sumber: http://rumahshintazahaf.wordpress.com/kewajiban-berdakwah/)

    “Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.” [HR. Muslim]
    (Sumber: http://rumahshintazahaf.wordpress.com/kewajiban-berdakwah/)

    Ayo, mari sama-sama kita kuatkan Iman kita, kita jaga keistiqomahan kita di jalan-Nya, dan kita mulai untuk berdakwah dan terus berdakwah karena Allah SWT :D

    ReplyDelete
  35. subhanallah..
    tapi tidak bisa kita menyamakan sifat ukti satu dengan ukh yang lainya..karena itu sangat berbeda..
    apapun caranya asalkan tidak keluar dari ajaran islam yang berlandasan kepada Al-quran dan hadist.

    ReplyDelete
  36. Allahuakbar..
    semoga kita berdakwah tampa harus ada yang dibeda- bedakan dalam objek dakwah kita.

    ReplyDelete
  37. afwan, menurutku penulis dengan artikelnya menilai seseorang dengan subjektifitasnnya. bukankah seorang muslimah dia harus meletakkan husnuzon pertama kali. mengapa yg terlihat di artikel ini adalah kumpulan pikiran negatif penulis dan orang orang disekitarnya? kecewanya krn penulis mempublikasikan pikiran dirinya (yang belum tentu benar) kepda orang lain yg bisa saja orang lain akhirnya terikut memiliki suudzon kpd saudarinya. dr awal hingga akhir artikel ini, penulis tidak sekalipun mencoba mengkonfirmasi, tabayyun kpd saudarinya yg berjilbab besar. sayang sekali. pdhl bukankah seorang muslim harusnya melakukan tabayyun terlebih dulu ttg apa apa yg terdengar ttg saudarinya?. sayang sekali anda tidak melakukannya sebelum menyebarkan tulisan spt ini. apakah penulis tidak merasa berdosa ketika diluar sana banyak akhwat berjilbab besar yang bergaul tidak eksklusif namun akhirnya di~judge terlalu eksklusif karena adanya tulisan atas pikiran anda yg tersebar ini? Allah lah yg sebaik baik penilai. wallahu a'lam

    ReplyDelete
  38. semoga bisa buat introspeksi diri buat perempuan dimanapun berada.

    ReplyDelete
  39. Jangan salahkan jilbabnya yang lebar. salahkan orangnya.
    Artikel ini jelas sekali menyudutkan akhwat yang berkerudung lebar. Bijaklah dalam membuat artikel, jangan hanya karena terbawa emosi.

    ReplyDelete
  40. Alangkah baiknya jika kita tidak menarik kesimpulan secara umum karena segala urusan hanya pada Alloh SWT semata. Jadi tetap teruskanlah dakwahmu dengan cara yang menurut kamu paling benar ridho semata-mata hanya karena Alloh SWT semata. InsyaAlloh Alloh SWT meluruskan jalanmu apabila jalanmu itu bengkok. InsyaAlloh Alloh SWT membenarkan jalanmu jika jalanmu itu salah.

    ReplyDelete
  41. Gini deh, ana ga su'udzon. Temen ana yg curhat beginian. Dan dulu waktu ana awal hijrah make kerudung lebar juga masih mau beda2in temen karena takut ketularan yg ga baiknya. Tapi, karena banyak denger materi di halaqoh, baru nyadar kalo ga boleh yg gitu2, beda2in yg udah hijaban ato belom, ga boleh banget. Intinya sebenernya simpel sih, cuma pengen ngerasain indahnya dakwah aja. Aktivis dakwah kampus paham ini mah maksud tulisan ana. Jauh2 deh su'udzon, sekalian muhasabah diri juga kan karena dulu ana kaya gitu. :)

    dan ana udah sering banget denger kata2 ini, "berbaur, tapi jangan sampe melebur"
    ada jg hadits yg ana baca nyuruhnya kaya gitu, berbaur. :)

    Syukron komentarnya ya semuanya!^^
    _RON_

    ReplyDelete
  42. Dari tulisanya kelihatan jika penulis kurang ilmu syar'i

    ReplyDelete
  43. iya betul klo mao berdakwah kudunya untuk semua golongan, apalagi klo bisa berdakwah & merangkul wanita yg ada di lokalisasi untuk hijrah yg lebih baik, salutttt deh..itu baru otomatis eksklusif dgn sendirinya

    ReplyDelete
  44. “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
    (Sumber: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pengaruh-teman-bergaul.html)
    Dari hadits di atas jelas ada 3 pelaku...penjual minyak wangi, pandai besi dan orang yang mencari teman....maka wahai para pemakai hijab besar jadilah "penjual minyak wangi" yang menyambangi dan bergaul dengan orang awam sehinga aroma minyak wangimu akan menebar pada orang di sekelilingmu jangan hanya berkumpul sesama "penjual minyak wangi"......bisa jadi kehadiranmu ditengah2 teman2mu yang belum dapat hidayah berhijab menjadi jalan turunnya hidayah pada mereka....
    jadilah ikan laut yang tetap tawar meskipun hidup di air asin......

    ReplyDelete
  45. ana kurang setuju dgn stts ini, yg ana liat dr artikel ini seperti meng ekstrimiskan
    ukhti hijab lbar dan seakan2 bhwa jilbab lebar ito tdk benar

    ReplyDelete
  46. saya sbgai laki2 jga pernah berpikir sama seperti yang dimuat penulis...tapi, ternyata ada sedikit kekeliruan. gak semua mereka seperti itu. mereka ramah kalau kita ramah...mereka bersahabat kalau kita bersahabat..itu yang saya ambil dari pengalaman saya punya teman jilbaber

    ReplyDelete
  47. Menurut saya penulis hanya mengingatkn untuk mereka yg mengeksklusifkn diri dgn tdk mau berbaur dgn yg bukan kalangannya...yg mnjaga jarak dgn yg mereka rasa tdk sama dgn mereka...atau kasarnya yg memandang sebelah mata dg yg mereka anggap tdk selevel imannya. Kalo anda tdk mengeksklusifkn diri dlm artian merasa lebih baik imannya syukur alhamdulillah kemuliaan hanya milik Allah

    ReplyDelete

Powered by Blogger.