Header Ads

Aksi Bela Islam

Pelayan

Pelayan - ilustrasi
Pagi yang cerah. Matahari baru mau menyembulkan sedikit cahayanya. Di hampir setiap rumah kesibukan sudah dimulai, karena hari itu bukan hari libur. Yang mau sekolah sibuk mempersiapkan segala kebutuhannya. Yang mau berangkat kerja juga tak kalah sibuknya menata keperluannya. Yang lebih sibuk lagi adalah yang menyiapkan kebutuhan sekolah anak-anaknya dan menata keperluan kerja suaminya, yaitu si ibu.

Di rumah Pak Fahmi juga sama sibuknya. Sejak matahari belum terbit Bu Farah sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan, dan menyiapkan minum untuk suami dan anak-anaknya. Membantu menyiapkan keperluan suami dan juga keperluannya sendiri. Karena Bu Farah juga bekerja di sebuah Bank Syariah. Si kecil Fatin nampak sudah siap. Namun Fahri anak pertamanya yang duduk di bangku SMP, pagi itu terlihat terlambat bangun. Rupanya dia tertidur lagi setelah sholat shubuh, maklum tadi malam tidurnya terlalu larut. Hari itu ulangan semester. Bahan pelajarannya cukup banyak. Dengan terburu-buru dan sedikit cemas dia berteriak pada pembantunya,

"Bibik, tolong ambilkan baju seragam sama sepatu Fahri... cepet Bik...!"
Beberapa saat kemudian terdengar lagi teriakannya,
"Bibik, cepet Bik, kenapa lama sekali... Fahri buru-buru nih!"

Dengan tergopoh-gopoh pembantunya membawakan keperluan Fahri. Buru-buru dia ganti baju dan pakai sepatu. Tak sempat makan pagi, Fahri hanya minum segelas susu sereal, Fahri segera berlari keluar rumah. Ayah, ibu dan adiknya telah menunggu di dalam mobil. Mobil segera meluncur pelan setelah Fahri masuk.

Beberapa saat setelah mobil melaju ibu memulai percakapan,
"Fahri, Ibu lihat kamu sudah bangun dari tadi, kenapa jadi terburu-buru begitu?"
"Fahri tertidur lagi Bu, masih ngantuk sekali, belajarnya sampai malam." jawab Fahri.
"Iya Kakak ini, sampai bentak-bentak bibik kayak gitu." sahut Fatin adiknya ikut nimbrung.
"Lho, bukannya memang bibik itu tugasnya melayani kita? dia memang pelayan kan?!" jawab Fahri enteng.
“Kakak ini, gak boleh gitu, kasihan kan bibik sudah tua, kok dibentak-bentak?” sambung Fatin lagi.
“Iya Fahri, walaupun bibik itu pembantu, tapi harus tetap diperlakukan dengan baik.” Kata Bu Farah menasehati.
“Iya Bu, nanti pulang sekolah Fahri minta maaf sama bibik” jawab Fahri kalem.

Mobil yang tadinya melaju pelan di jalanan yang mulai padat, kemudian berhenti. Perempatan jalan, traffic lightnya sedang menyala merah. Sambil mengunyah biskuit, Fatin melayangkan pandangannya keluar jendela. Di pojok perempatan terpampang baliho besar bergambar bapak dan ibu polisi. Dengan seragamnya yang rapi, membuat mereka tampak gagah. Di sampingnya terdapat sebuah tulisan besar berbunyi Polisi Abdi Masyarakat. Sambil menoleh pada ibunya Fatin bertanya,
"Bu, apa artinya Polisi Abdi Masyarakat itu?"
Bu Farah menjawab datar,
"Sepengatahuan Ibu, abdi itu berasal dari Bahasa Arab yang artinya hamba, tapi kalau dalam Bahasa Indonesia sering diartikan sebagai pelayan."
"Jadi bapak-bapak sama ibu-ibu yang gagah itu pelayan ya Bu?" tanya Fatin lagi.
Bu Farah diam sejenak baru menjawab,
"Begini anak-anak, apapun profesi kita di dunia ini pada dasarnya adalah pelayan. Namanya pelayan ya tugasnya melayani orang lain. Tapi itu hanya untuk urusan mu'amalah, kalau untuk urusan ibadah ya hanya kepada Allah kita mengabdi dan hanya Allah yang kita ta'ati"
"Kok begitu Bu?" sahut Fahri memotong pembicaraan ibunya. "Kenapa semua dibilang pelayan? Bukankah ada pedagang, guru, dokter, pengacara, ada juga pejabat kan Bu?"
"Iya benar, profesi itu memang bermacam-macam. Tapi coba kalian cermati bagaimana mereka bekerja. Misalnya pedagang, dalam bekerja mereka harus melayani pembelinya dengan ramah, dengan jujur, kalau tidak, pasti orang tidak suka belanja di tokonya..."
"Iya Bu, bener, warungnya Bu Ina yang deket rumah kita itu jarang lho yang mau beli, habisnya Bu Ina cemberut aja, sereeem jadinya. Fatin juga lebih suka belanja di warungnya Bu Ika, padahal warungnya lebih jauh kan? tapi Bu Ikanya ramah, banyak senyum, seneng deh kita belanja di sana..." sahut Fatin memotong pembicaraan ibunya.

Ibu melanjutkan uraiannya,
"Contohnya lagi Ibumu ini. Sebagai pegawai bank, Ibu juga harus melayani nasabah dengan baik. Itu artinya Ibu juga pelayan. Lihatlah Ayah kalian juga. Sebagai dokter, Ayah juga harus melayani pasien dengan baik. Dengan begitu pasien jadi semangat untuk berobat, pasien jadi penuh harapan untuk sembuh, walaupun nantinya hanya Allah SWT yang kuasa untuk menyembuhkan. Tapi paling tidak pelayanan yang baik dari tenaga medis akan sangat membantu mempercepat kesembuhan. Pernahkan kalian lihat tengah malam Ayah ditelpon untuk datang ke rumah sakit? Itulah resikonya jadi pelayan, tugas pengabdian, harus siap kapanpun dibutuhkan. Demikian pula profesi-profesi yang lain."
"Terus untuk apa dong Fahri capek-capek sekolah, susah-susah belajar, kalau akhirnya akan jadi pelayan?" tanya Fahri setengah protes.

Kali ini ayah yang tergoda untuk menjawab,
"Begini Fahri, seseorang itu belajar, bersekolah, kursus, atau yang lainnya, itu untuk mencari ilmu, untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan. Semakin banyak ilmu dan keterampilan yang dipunyai, maka akan semakin banyak hal yang bisa diperbuat, semakin banyak manfaat dirinya. Coba kalian perhatikan bibik di rumah. Karena pendidikannya rendah, terus keterampilannya hanya beres-beres rumah, ya peluang kerjanya hanya jadi pembantu rumah tangga atau sejenisnya. Tapi lihat ibumu, dengan pendidikan yang cukup, banyak yang bisa dilakukannya. Mau ngurusi rumah serta merawat kalian? dia ahlinya, tanpa baby sitter juga oke. Jadi guru les privat kalian? itu pekerjaan mudah bagi ibu. Kerja di bank atau perusahaan lain? jangan ditanya lagi, dia ahlinya. Mau mengamalkan ilmunya untuk kerja sosial? Tidak ada susahnya, Insya Allah ibumu mampu. Apalagi bagi Ayah, Ibumu adalah sekretaris pribadi yang handal tiada duanya, teman diskusi yang baik dan bidadari cantik yang mempesona." Kata pak Fahmi sambil tersenyum melirik istrinya.
"Ah.. Ayah ini ada-ada saja.” Jawab Bu Farah tersipu.
“Demikian juga dengan Ayah kalian. Ilmunya banyak sekali manfaatnya. Berguna untuk diri sendiri dan keluarga, kita jadi lebih paham kesehatan. Bisa untuk menolong orang yang sedang sakit, bisa juga untuk memberi pelajaran pada mahasiswa, atau memberi penyuluhan pada masyarakat agar hidup sehat, dan masih banyak lagi yang bisa Ayah lakukan. Di samping itu, ada imbalan yang cukup untuk menafkahi kita. Iya kan?... Itu hanya gambaran kecilnya saja. Yang penting bagi kalian sekarang adalah tuntutlah ilmu sebanyak mungkin, latihlah kecakapan kalian dan jadikan ilmu itu penambah kesalehan kalian, dan bukan penambah kesombongan diri. Ibu selalu berdoa agar kalian diberi ilmu ladunni yaitu ilmu yang akan mendekatkan kalian pada Allah. Karena tidak ada yang perlu disombongkan di dunia ini karena semua orang adalah...."
"PE - LA - YAN...." serentak Fahri dan Fatin melanjutkan uraian ibunya.

Ciiittttt..... mobil direm mendadak oleh pak Fahmi. Bu Farah, Fahri dan Fatin terkejut dibuatnya.
"Ada apa Ayah??" tanya mereka serempak.
"Lihat di depan itu..." jawab pak Fahmi.
Pantas saja di depan mobil tampak begitu banyak orang bergerombol di kanan kiri jalan. Mereka berjalan tidak beraturan, berkelompok-kelompok sambil membawa poster, papan dan lain-lain dengan berbagai macam tulisan. Teriakan dan orasi juga ramai terdengar.
Pagi-pagi mereka sudah berdemo, sementara polisi belum siaga di tempat untuk mengamankannya, jadilah keruwetan di pagi itu tak terelakkan.

"Ada demo ya Yah?" tanya Fatin.
"Sepertinya begitu..." jawab pak Fahim datar.
"Apa yang didemo?" si cerewet Fatin masih ingin tahu.
"Baca dong Dik tulisan-tulisan yang mereka bawa itu!" sahut Fahri

'RAKYAT BUTUH BUKTI TIDAK BUTUH JANJI'
'COPOT, PEJABAT KKN'
'USUT TUNTAS KORUPSI'
‘KEMBALIKAN HAK KAMI’
dan masih banyak lagi poster yang mereka bawa.

"Inilah satu bukti jika pelayan yang bernama pejabat yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik...." gerutu Pak Fahim lirih. Andai mereka tahu dan paham hal-hal ini?

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS. Luqman: 18)

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik, surga) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Qoshosh: 83)

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim: 91)

Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk surga? mereka semua adalah orang-orang lembut yang tawadhu', namun jika bersumpah niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya. Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong)" (HR. Bukhari: 4198 dan Muslim: 2853).




Penulis : Santi Harmoetadji
Ibu Rumah Tangga yang berusaha untuk menjadi insan mulia



No comments

Powered by Blogger.