Header Ads

Aksi Bela Islam

Al-Qur'an, Ruh Kebangkitan Umat

Membaca Quran
Dari Umar bin al-Khaththab ra, Nabi Muhammad saw bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat (martabat) sebagian orang dan merendahkan sebagian lainnya dengan sebab al-Qur’an" (Riwayat Muslim)

Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu merupakan salah satu contoh kebangkitan seorang individu bersebab al-Qur’an. Atas doa mujarab nabilah kemudian Umar berubah. Berawal dari didengarnya Surah Thoha, ia kemudian menjemput hidayah. Umar berislam di awal dakwah. Maka , masuknya umar dalam barisan mujahid membuat peta dakwah berubah drastis.

Umar yang ketika jahiliyah memusuhi Islam habis-habisan, kini berbalik membela Islam, sekuat tenaga. Beliau termasuk dalam keempat khalifah dan dijamin surga oleh Nabi. Di era kepemimpinannya, Islam benar-benar jaya. Kekuasaannya meluas sehingga al-Qur’an bisa dirasakan rahmatnya oleh semesta. Dalam pemerintahan Umar, Islam tak sekedar janji.

Bahkan, ia yang kepala negara dari dua pertiga belahan bumi, terbiasa berkeliling untuk menengok rakyatnya seorang diri. Tanpa satu pun paspampres yang menyertainya. Dan, ketika ada rakyatnya yang tak bisa makan, ia mengambil gandum dari baitul maal untuk diantarkan ke rumah rakyatnya itu. Tidak berhenti sampai di sana, Umar yang gagah pun menanak gandum itu seorang diri hingga siap saji. Adakah tandingannya?

Sayyid Quthb secara indah membahas rahasia kecemerlangan generasi awal Islam ini (termasuk Umar di dalamnya) dengan sebutan Generasi Al- Qur’an yang Unik. Di dalam bab pertama dari buku berjudul Petunjuk Sepanjang Jalan itu, mujahid (Insya Allah) yang meregang nyawa di tiang gantungan menyampaikan, “Umat dahulu bangkit lantaran al-Qur’an. Mereka menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Mereka menjadikan al-Qur’an bukan sekedar bacaan, pemuas dahaga intelektual atau kepentingan-kepentingan lain. Mereka hanya belajar al-Qur’an lantaran ingin mempraktekan apa yang berada di dalamnya.”

Itulah kekuatan al-Qur’an. Ia akan berdayaguna maksimal manakala dijadikan panduan untuk beramal. Bukan sekedar untuk bergelar Hafidz, Doktor Tafsir, Qori’ atau sebutan lainnya. Ketika belajar al-Qur’an hanya untuk diamalkan, maka ia akan berdaya luar biasa.

Namun, ketika al-Qur’an tidak berujung pada amal, melainkan pembasah bibir saja, maka Allah sudah jauh-jauh hari mengingatkan kita, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Qs. ash-Shaf [61]:3)
Sejarah panjang kehidupan umat Islam setidaknya telah memberikan sebuah gambaran menyeluruh kepada kita tentang sebuah kehidupan yang selayaknya kita upayakan. Dimana kesejahteraan, baik individu ataupun umat hanya bisa diperoleh dengan mempraktekan apa yang terkandung di dalam al-Qur’an.

Sebut saja era kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Beliau hanya menjabat selama 2,5 tahun. Namun kejayaan yang dicapai sungguh luar biasa. Salah satunya, pemerintah kala itu bingung untuk membagikan zakat. Hal ini terjadi karena kemakmuran yang berhasil diwujudkan oleh khalifah yang merupakan cicit Umar bin Khattab ini, sehingga persis tidak bisa dijumpai penerima zakat.
Semua rakyat termasuk dalam kelompok pemberi zakat. Wajar jika kemudiaan zakat tersebut dibagikan ke Negara tetangga yang memang miskin secara ekonomi. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa penghasilan minimal perkeluarga kala itu sekitar 40 juta rupiah perbulan.

Masih dalam pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kita mendapati sebuah pemandangan yang menakjubkan. Domba dan srigala akur. Mereka tidak saling terkam. Tidak ada musuh. Semuanya kawan. Sunggguh! Ini adalah potret kecemerlangan Islam lantaran pribadi-pribadi Qur’ani yang membumikan al-Qur’an. Dan kegemilangan ini, tidak akan terulangi! Tiada bandingnya!

Pertanyaannya, mungkinkah kita bisa mengejawantahkan al-Qur’an jika membacanya saja enggan? Apalagi untuk menerjemahkan, belajar tafsir, menghafal, dan juga mentadabburi untuk kemudian dipraktekan? Nampaknya, pemaknaan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari tidak akan bisa dilakukan manakala umat ini malas untuk ‘sekedar’ menyentuh al-Qur’an. Maka, mengakrabi al-Qur’an dengan beragam aktivitas ibadah di dalamnya merupakan harga mati agar al-Qur’an bisa benar-benar berjalan di muka bumi.

Mari bangkitkan umat dengan ruh al-Qur’an. Karena al-Qur’an akan menjadikan kita seperti Umar bin Khattab yang akhirnya menebus dirinya dengan syahid di jalan Allah, insya Allah.[]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com

1 comment:

  1. Mari kita bentuk rasa ketertarikan terhadap al Qur'an. ada yang senang melalui menghafalnya, mengkajinya, share, serta banyak cara lain. ekspolari gaya mengekspresikan cinta terhadap qur'an agar kita bisa lebih dekat dengan qur'an,,,
    :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.