Header Ads

Aksi Bela Islam

Al-Qur'an, Sahabat Diskusi yang Asyik

Mengaji Quran
Dalam perjalanan kehidupan, pastilah kita pernah mendapati sebuah episode dimana diri mendapatkan sahabat sejati. Sahabat yang selalu ada. Baik ketika suka maupun duka. Yang selalu di hati meski tengah bersedih, yang selalu ada meski tengah dilanda nestapa. Sahabat yang keberadaannya meneguhkan, ketiadaannya menegarkan. Sahabat yang senyumnya menyejukkan, tuturnya menyemangati dan ajakannya menggairahkan. Sahabat yang kita mendapat manfaat darinya sebanyak mungkin, sementara ia mendapat keberkahan atas kebaikan yang telah ditebarkannya itu.

Sahabat yang seperti itu, salah satunya adalah al-Qur’an. Teringat dalam benak penulis tentang salah satu doa yang tersebut ketika khatam al-Qur’an. Dimana redaksi dari doa tersebut berbunyi, “Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an sebagai sahabat kami di dunia.” Doa ini merupakan sebuah sinyalemen. Bahwa sahabat yang mestinya menjadi inspirasi kita dalam berpijak adalah al-Qur’an.

Dalam realita hidup, kita tidak menafikan kebutuhan akan hadirnya sahabat dari jenis manusia. Namun, sahabat jenis ini sangatlah beragam. Bisa baik, tak jarang pula buruk. Bahkan, ia bisa saja menjerumuskan kita ke dalam lubang kebinasaan.

Sebut saja sahabat yang bermata dua. Ia bisa berarti penyelamat dalam satu sisi. Sementara di lain sisi, ia bermakna pula penjerumus. Kita mengenal sahabat tipe ini dengan istilah STMJ, Sholat Terus Maksiat Jalan. Sahabat jenis ini, sangat berbahaya. Karena kita tidak tahu kapan nyawa kita akan diambil oleh Izrail. Dan bisa jadi, Izrail akan bertamu manakala sahabat tersebut tengah mengajak kita bergelimang dalam maksiat. Na’udzubillah.

Lain halnya dangan setan. Keberadaannya sangat jelas sekali. Ia disebutkan oleh al-Qur’an sebagai fasa’a qoriinaa, teman yang paling buruk. Setan sejak awal keberadaannya pastilah mengajak kepada kebinasaan. Parahnya, mereka seringkali menghiasi kebinasaan itu dengan bungkus kenikmatan.

Sebut saja zina. Jika diri melakukannya, maka pelaku bisa menikmati sajian surga tanpa nikah, mau kapan saja boleh dan seterusnya. Sementara akibat dari zina itu, sungguh sangat pedih. Akibat yang paling jelas adalah hilangnya kesucian. Sedangkan akibat lain, sungguh pedih rasanya : hilangnya kehormatan, terkena penyakit menular seksual, kecanduan zina sehingga berpredikat sebagai pezina, ketahuan sedang berzina sehingga (maaf) ditelanjangi dan diarak keliling kampung, mati ketika sedang melakukan aksi biadabnya dan yang paling pedih: ditempatkan dalam satu bejana yang ditutup seraya dibakar di neraka, ketika pelakunya tidak bertobat sebelum mati. Na’udzubillah.

Maka, sahabat yang paling baik adalah al-Qur’an dan orang-orang yang mengajak kita untuk mempelajarinya. Al-Qur’an selalu setia menemani. Ia bisa diajak ke mana saja, semau kita. Di sekolah, kampus, pekerjaan, pantai, gunung, angkot, mall, masjid, bahkan ketika kita telah menjadi penghafal al-Qur’an –aamiin- kita akan disibukkan dengan al-Qur’an di manapun kita berada. Detik demi detik yang kita lalui, akan senantiasa berdampingan dengan al-Qur’an. Sehingga keberkahan akan Allah turunkan untuk diri dan lingkungan kita.

Al-Qur’an, bisa kita datangi dalam setiap kondisi. Ketika sedang berada dalam puncak semangat, kita bisa mengulang-ulang ayat tentang surga, balasan terbaik bagi mereka yang bersegera dalam amal shalih. Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (Qs. al-Bayyinah [ 98]:7-8)

Kedua ayat di atas adalah apresiasi dari Sang Mahatinggi, bahwa amal shalih yang dilakukan dengan benar akan membuat pelakunya dijuluki sebagai Makhluk Terbaik (Khoirul Bariyyah). Orang jenis inilah yang kelak akan dirahmati Allah dengan dimasukkan ke dalam surga dan kekal di dalamnya.

Di dalam surah al-Kahfi [18] ayat 110, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.’ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." Ayat ini terang sekali maksudnya, “ Jika ingin ketemu sama Allah, beramal shalihlah dan jangan menduakan-Nya dengan sesuatupun selain-Nya.”

Namun, ketika diri tengah dirundung duka dalam berbagai jenisnya, kita tidak perlu khawatir. Lagi-lagi al-Qur’an menghibur kita dengan kekhasannya, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,” (Qs. Ali-Imran [3]:139)


Lemah dan sedih adalah tabiat yang bisa dimaknai dengan bermacam bumbu, sesuai latar belakang manusia itu sendiri. Maka dua sikap tersebut, seharusnya tidak mendominasi pada diri setiap orang beriman. Karena apa? Jawab Allah dalam lanjutan Firman-Nya itu, “Padahal kamu adalah umat yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” Maka, orang beriman tak akan menginstal dirinya dengan perasaan lemah dan sedih. Iman akan menjadikan dirinya sebagai manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah.


Lantas, ketika sakit pun, al-Qur’an menghibur dengan sebuah nasehat yang sangat indah, “Dan jika aku sakit, maka Allahlah yang akan menyembuhkan aku.” (Qs. asy Syu’aro’ [26]: 80)


Bahkan, ketika diri didominasi oleh kecenderugan untuk berbuat kemaksiatan, al-Qur’an bisa menyapa kita dengan teguran kerasnya,“Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (Qs. Yunus [10]:49).

Ayat ini adalah rambu-rambu. Jika mau berbuat maksiat, lakukanlah! Namun, bersiap dirilah jika Allah mencabut nyawa kita ketika diri dalam keadaan mengingkari ajaran-Nya. Sehingga hati yang dipenuhi dengan keimanan, akan mudah luluh ketika menafakuri apa yang terdapat dalam kalam suci-Nya ini. Maka, al-Qur’an adalah rem dari kecenderungan buruk yang seringkali hadir dalam perjalanan kehidupan kita.

Dan semua ayat al-Qur’an, pastilah menimbulkan ketenangan yang luar biasa ketika kita mau mengakrabinya. Karena sejatinya, al-Qur’an memang Allah turunkan untuk menemani perjalanan kita. Mari, bersahabat dengan al-Qur’an. Sehingga hari-hari kita akan cerah lantaran kebersamaan kita dengannya.

Semoga dengan menjadikan al-Qur’an sebagai sahabat, kita bisa tiba di surga dengan selamat, tidak menuju ke neraka yang panas teramat dan kita bisa menemui-Nya dengan senyum terhangat.[]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com

1 comment:

Powered by Blogger.