Header Ads

Aksi Bela Islam

Bacalah al-Qur'an dengan Tartil dan Sebenar-benarnya Bacaan

Tartil adalah memenuhi hak-hak huruf. Jika panjang, maka dipanjangkan. Jika pendek, maka dipendekkan. Berhenti saat waqaf dan lanjut saat washal.

Tartil diartikan pula dengan perlahan-lahan. “Dan bacalah al-Quran itu dengan Tartil (perlahan-lahan).” (Qs. al-Muzzammil [73] : 4). Dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Quthb mengartikan tartil sebagai berikut, “Tartil berarti membaca dengan memperhatikan panjang pendeknya dan tajwidnya; bukan dengan menyanyikan dan melagu-lagukannya, tidak berlebih-lebihan dan berasyik-asyikan dalam menyanyikan dan menyenandungkannya.”

Sedangkan Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Maksudnya, bacalah al-Qur’an dengan perlahan. Sebab hal itu akan membantu dalam memahami dan merenunginya.”

Sahabat Anas bin Malik ketika ditanya mengenai cara Rasulullah membaca al-Qur’an, beliau menjawab, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca (al-Qur’an) dengan Madd. Kemudian beliau -Anas bin Malik– mencontohkan dengan membaca Bismillahir rahmaanir rahiim seraya memanjangkan Bismillaah, memanjangkan ar-rahmaan, dan memanjangkan ar-rahiim” (HR Bukhari)

Sebenar-benarnya Tilawah

Dimensi tartil lebih pada aspek teknis. Meski tidak mengesampingkan aspek ruhani dan tadabbur di dalamnya. Al-Qur’an sebagai kitab yang paling sempurna menerangjelaskan maqom berikutnya dari tilawah itu sendiri.

Maqom itulah yang disebut dengan Haqqo Tilawatih yang bermakna membaca dengan sebenar-benarnya bacaan. Hal ini disitir oleh Allah dalam surah al-Baqarah [2] ayat 121, “Orang-orang yang telah Kami berikan al- Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya (Haqqo Tilawatih), mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Dalam menafsirkan ‘Orang-orang’ ulama’ tafsir kita terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama mengartikan orang-orang sebagai ahli kitab golongan Yahudi dan Nasrani. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari termasuk dalam golongan ini.

Sedangkan Said sebagaimana diriwayatkan dari Abu Qatadah memaknai ‘orang-orang’ dalam ayat tersebut sebagai sahabat Rasulullah. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, Haqqo tilawatih sangat ditekankan kepada siapapun yang ingin menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Lantas, apa sebenarnya Haqqo Tilawatih sebagaimana dimaksud dalam ayat di atas?

Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb berkata, “Orang-orang yang membersihkan dirinya dari hawa nafsu, mereka membaca kitab mereka dengan sebenar-benarnya. Karena itu, mereka beriman kepada kebenaran yang engkau (Muhammad) bawa. Adapun orang yang mengingkarinya maka mereka itulah orang yang merugi, bukan engkau (Muhammad ) bukan pula orang mukmin.”

“Yang dimaksud dengan Haqqo Tilawatih ialah apabila si pembaca melewati penyebutan tentang surga maka ia memohon surga kepada Allah. Apabila ia melewati penyebutan tentang neraka maka ia meminta perlindungan kepada Allah dari neraka.” Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya yang mengutip pendapat Ibnu Hatim dari Sayyidina Umar bin Khattab.

Dalam riwayat lain, Umar bin Khattab berkata, “Bahwa mereka adalah orang-orang yang apabila dalam bacaan melewati ayat rahmat, mereka memohon rahmat kepada Allah ; dan apabila melewati ayat adzab, mereka memohon perlindungan dari adzab itu.”

Sedangkan al-Qurthubi mengatakan, bahwa Nasr ibnu Isa meriwayatkan dari Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa yang dimaksud dengan Haqqo tilawatih adalah mengikutinya dengan sebenarnya.

Sedangkan Abul Aliyah berkata, Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Demi Allah yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya Haqqo Tilawatih adalah hendaknya si pembaca menghalalkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah, dan tidak mengubah kalimat yang dari tempatnya masing-masing serta tidak menakwilkan sesuatupun darinya dengan takwil dari dirinya sendiri.”

Haqqo Tilawatih dalam ayat tersebut diikuti dengan sebuah jaminan keimanan. Bahwa orang-orang yang bisa menghadirkan ‘bacaan yang sebenar-benarnya’ akan mempunyai iman yang tertancap kokoh dalam hatinya. Tancapan iman inilah yang kelak menjadikan seluruh aktivitas fisik untuk beramal sesuai dengan kata hati. Karena hati adalah raja yang bisa menggerakkan seluruh prajuritnya (anggota tubuh yang lain).

Bukanlah hal yang mudah untuk mencapai derajat ini. Namun, susah bukan berarti tidak mungkin. Maka, selama matahari bersinar, selama kita terus berjuang, selama itulah kita akan terus berusaha agar bisa mencapai derajat ini. Insya Allah.

Apalagi Allah telah memberitahukan bahwa al-Qur’an dijadikan mudah untuk kita pelajari. “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs. al Qomar [54] : 17, 22, 32 dan 40 ).

Semoga tilawah kita membuahkan hasil, bukan di bibir dan tenggorokan saja. Aamiin. []



Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com

No comments

Powered by Blogger.