Header Ads

Aksi Bela Islam

Etika Lahir dan Bathin dalam Membaca al-Qur'an

Adab membaca Qur'an - ilustrasi
Islam adalah agama yang paling komplit. Menyeluruh. Sempurna dan menyempurnakan. Ia mengatur semua aspek kehidupan. Tanpa terkecuali. Bahkan sekedar buang air kecil, buang air besar atau meludah pun diatur dengan seksama melalui contoh dari Nabi.

Begitupun dengan tilawah. Tilawah diatur sedemikian rupa meliputi bagaimana cara membacanya dengan adab ketika membacanya.
Dalam berinteraksi dengan Kalam Suci itu, kita tidak boleh membacanya sesuka hati. Ada aturan main yang harus dipatuhi.

Imam al-Ghozali ( 450H/1058M – 505H/1111M ) merumuskan adab yang harus kita lakukan ketika membaca al-Qur’an. Hujjatul Islam ini membagi adab tilawah dalam dua jenis. Yaitu Adab Bathin dan Adab Lahir.

Dalam menerangkan Adab Bathin, beliau merumuskan 5 hal yang harus ada ketika kita membaca al-Qur’an:

1.Memahami asal kalimat.
2.Hati dalam keadaan membesarkan kalimat Allah.
3.Menghadirkan hati.
4.Memperluas dan memperhalus perasaan.
5.Membersihkan jiwa.

Sedangkan Imam Jalaudin as-Suyuthi, dalam kitabnya al-Itqon fi ‘Ulum al-Qur’an mendefinisikan 10 hal lahir yang harus kita upayakan ketika membaca al-Qur’an.

1. Berwudhu, mengambil al-Qur’an dengan tangan kanan dan memegangnya dengan kedua belah tangan ( atau menaruhnya dalam meja baca- ibid).

2.Tempat yang bersih.

Di semua tempat sangat dianjurkan untuk membaca al-Qur’an. Kecuali tempat-tempat yang memang dilarang. Sebagaimana dikatakan oleh Imam asy-Sya’bi: Dimakruhkan membaca al-Qur’an di tiga tempat : kamar mandi, tempat buang air besar dan air kecil dan tempat penggilingan yang sedang berputar. Sedangkan tempat yang paling utama adalah di Masjid.

Al-Qur’an juga sangat dianjurkan untuk dibaca di rumah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dan Imam Anas bin Malik, “Terangilah rumah-rumah kalian dengan sholat dan membaca al-Qur’an.”

Sedangkan sahabat Abu Hurairah berkata: Sesungguhnya rumah yang dibacakan al-Qur’an, niscaya lapang penghuninya, banyak kebaikannya, datanglah malaikat ke dalamnya dan keluarlah setan dari dalamnya. Sedangkan rumah yang tidak dibacakan al-Qur’an, niscaya sempit penghuninya, sedikit kebaikannya, keluarlah daripadanya malaikat dan datanglah setan-setan.

3.Menghadap kiblat, membaca dengan khusyu’ dan tenang, berpakaian yang bersih.

4.Mulut dalam keadaan bersih, tidak sedang mengunyah makanan, membersihkan mulut dan gigi terlebih dahulu.

5.Membaca Ta’awudz dan Basmalah.

Tilawah merupakan ibadah ungggulan. Dalam hal ini setan tidak mungkin mendiamkan mereka yang membaca al-Qur’an. Setan akan menggoda dalam tiap fase. Dimulai dari ketika seorang mukmin berniat untuk tilawah, ketika tilawah dan juga setelah tilawah.
Ketika hendak tilawah, setan menggoda dengan iming-iming aktivitas lain yang lebih menyenangkan secara duniawi. Ketika tilawah, setan menggoda dengan meniupkan ketidak-khusyu’an. Setelah tilawah, setan menggoda agar kita segera melupakan apa yang baru saja kita tilawahi. Sehingga tilawah tersebut tidak memberikan bekas melainkan sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

Oleh karena itu disunnahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dengan membaca ta’awudz sebelum tilawah sebagaimana disebutkan dalam surah an- Nahl [16] ayat 98 , “Apabila kamu membaca al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”

Setelah ta’awudz, kita perlu menyambungnya dengan Basmalah sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Abu Dawud, “Setiap urusan (kebaikan) yang tidak dimulai dengan bismillah akan terputus (berkahnya).”

6.Tartil.

Tartil berarati pelan dan tenang. Sebagaimana disebutkan dalam surah al-Muzzammil [73] ayat 4 , “Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan.”


7.Memperhatikan maksud ayat yang dibaca.

Hal ini berlaku untuk mereka yang memang sudah intens interaksinya dengan al-Qur’an. Bagi pemula, hal ini belum begitu ditekankan.

8.Membaca untuk dipraktekan.

9.Dengan suara yang bagus dan merdu untuk menambahkan keindahan al-Qur’an.

Sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal, “Hendaklah kalian menghiasi al-Qur’an dengan suara kalian ( yang merdu ).”

10.Jangan berhenti membaca hanya karena hendak berbicara dengan orang lain ; dilarang sambil tertawa dan main-main.

Dalam hal ini, carilah waktu khusus sesuai keluangan kita. Sehinga bias fokus dan tidak terganggu oleh aktivitas terhadap makhluk.

Semoga dengan mengupayakan totalitas kedua jenis adab tilawah di atas membuat al-Qur’an yang suci itu mudah merasuk ke dalam jiwa setiap pembacanya. Semoga kita semakin mencintai al-Qur’an. Aamiin.


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com



2 comments:

  1. kalau membaca di Smartphone Android gmn ya???

    ReplyDelete

Powered by Blogger.