Header Ads

Aksi Bela Islam

Pentingnya Merenungi Makna al-Qur’an

Tadabur Qur'an - ilustrasi
Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu. Tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman. Dan tidak ada kebaikan dalam membaca al-Qur’an kecuali dengan tadabbur (merenungi makna al-Qur’an).”

Menurut beliau, tadabbur merupakan parameter sukses dan tidaknya tilawah seorang muslim. Bahkan tilawah kita tidak akan memberi banyak manfaat (selain pahala) manakala tidak diikuti dengan tadabbur.

Umar bin Khattab merupakan sosok yang sering diceritakan terkait tadabbur. Sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat. Diantaranya,suatu malam, Umar bin Khattab berkeliling seperti biasanya. Tiba–tiba beliau mendengar seorang laki–laki yang sedang membaca al-Qur’an. Laki–laki tersebut membaca Surah ath-Thur [52] ayat 7 dan 8 yang artinya, "Sesungguhnya adzab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun dapat lari darinya."

Ketika mendengar lantunan ayat tersebut, serta merta Umar terjatuh dan tidak dapat berdiri kembali. Akhirnya beliau dibopong menuju rumahnya dan selama satu bulan beliau berdiam diri di rumah. Keadaannya tetap seperti itu hingga mendengar ayat lainnya yang menceritakan tentang rahmat Allah dan ampunan-Nya.

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Umar bin Khattab mempelajari keseluruhan surah al-Baqarah selama 12 tahun. Waktu selama itu tentulah digunakan untuk mentadabburi seluruh kandungan surah terpanjang dalam al-Qur’an itu.

Sedangkan dalam al-Qur’an, konsep tadabbur telah dipraktekan oleh generasi awal Islam. Sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Maidah [5] ayat 83, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Quran dan kenabian Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Sallam).”

Tadabbur merupakan salah satu sarana untuk membuktikan kebenaran Firman Allah. Ia bisa dijadikan salah satu aktivitas untuk meneliti apakah ada pertentangan dalam sekian banyaknya ayat al-Qur’an atau tidak. Hal ini bisa difahami sebagaimana terdapat dalam Surah an-Nisa’ [4] ayat 82 , “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Dalam surah Muhammad [47] ayat 24, Allah berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” Ayat ini diturunkan terkait kebengalan kaum kafir yang terdiri dari yahudi dan nasrani. Dimana mereka tidak mau membuka hati mereka untuk meyakini keEsaan Allah. Mereka menuruti hawa nafsu sehingga mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah sebagaimana tersebut dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Hasil dari tadabbur, sebagaimana diberitahukan oleh Allah dalam surah al-Anfal [8] ayat 2, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

Hal ini terjadi karena orang-orang beriman senantiasa menghadirkan hatinya (tadabbur) ketika mereka berinteraksi dengan Kalam Suci itu.
Sufyan bin Uyainah Rahimahullah berkata, “Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan (tidak melakukan) apa yang telah ia ketahui. Orang yang paling pintar adalah orang yang mengamalkan apa yang telah ia ketahui. Sedangkan orang yang paling baik adalah orang yang paling khusyu’ karena Allah.”

Sedangkan Ammar bin Yasir dalam perang Yamamah, mengobarkan semangat para pasukan kaum muslimin dengan mengatakan, “Wahai ahli al-Qur’an, hiasilah al-Qur’an dengan amal perbuatan!”

Tadabbur, merupakan pekerjaan orang yang beriman. Ia adalah sarana untuk mengokohkan keyakinan yang telah terbentuk. Maka, beruntunglah mereka yang menjadikan tadabbur sebagai tradisi keilmiahan yang ilahiah. Mari, mentadabburi setiap penciptaan Allah, baik yang terdapat dalam diri, maupun yang diluar diri.

Akhirnya, kita dipersilahkan memilih. Mau menjadi Ulil Albab (orang yang berakal) dengan mentradisikan dzikir, pikir dan doa? Atau mengikuti kaum kafir dengan tidak mau memikirkan segala sesuatu terkait alam semesta sebagai manifestasi adanya Sang Maha Pencipta?
Agar tidak salah pilih, merenunglah! Dan putuskan yang terbaik demi kesuksesan dunia terlebih akhirat kita! Pesannya masih sama: Jangan salah pilih! Pilih dengan hati nurani![]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com


1 comment:

  1. untuk menggenapkan pemaknaan terhadap suatu ayat, terkadang kita harus mencari ayat lain yang relevan, dan jika memungkinkan mencari hadits yang didalamnya mengandung penjelasan mengenai ayat yang sedang kita kaji. misalnya Quran Surat al An'am ayat 158 yang artinya ",,,,Pada hari datangnya ayat (tanda) dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya." ternyata, penjelasan mengenai "ayat(tanda)" diantaranya ada pada Hadits Bukhari no 4269 yaitu ketika matahari terbit dari sebelah barat. salain ayat ini, banyak ayat lain yang memiliki latar belakang, serta penjelasannya terdapat dalam hadits. semoga kita semua bisa terus mencari kepingan2 ilmu yang tercecer, hingga memegangnya secara utuh. :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.