Header Ads

Aksi Bela Islam

Baju Zirah itu Bernama Amanah

Shalahuddin Al Ayyubi
Baju Zirah itu nampaknya telah rusak, melewati sekian banyak pertarungan yang menegangkan, mengharukan dan beberapa konfrontasi yang membuat pemakainya tampak gagah dan sangat heroik. Tapi baju zirah ini masih memiliki kemampuan untuk bertarung beberapa kali lagi, sebagai buah dari kekokohan tekad para pendahulu yang dengan sabar dan ikhlas membuat baju zirah ini. Beberapa lecet terlihat di bagian lengan, bagian dada, dan bagian belakang yang agak rusak parah.

Lecet di bagian lengan baju zirah ini tergores saat pemakainya harus berhadapan dengan beberapa musuh yang kurang paham tentang segerak amal. Tentang apa itu segerak amal, Salim.A Fillah menjelaskan pada iman di lapis-lapis keberkahan, amal-lah yang membuat kita menjulang, menggapai cakrawala luas, dan mampu memberi naungan dengan rimbun daun-daun. Amal-lah yang mengantarkan keyakinan kita menggapai tempat di dekat ‘Arsyi-Nya yang mulia. Amal-lah yang melonjakkan pinta dan doa kita ke haribaan-Nya.

Dalam beberapa pertarungan ketika pemakai baju zirah ini harus mempertahankan kekonsistenan amalnya, tidak sedikit halang dan rintang yang harus ia hadapi. Pikirnya baju zirah yang penuh wibawa ini hanya untuk dipajang saja menjadi hiasan indah di dalam istana. Padahal fungsi substansi dari baju zirah ini adalah menjadi alat bantu dalam setiap pertarungan, baik pertarungan yang melibatkan hati, ideologi, bahkan fisik.

Maka, kata salah seorang petarung tangguh yang sudah beberapa kali mengganti dan memperbarui baju zirahnya, bukan sabar saja yang dibutuhkan dalam pertempuran, bukan ikhlas saja yang dibutuhkan dalam setiap pertarungan, tetapi sabar dan ikhlas yang jumlahnya lebih dari satu, sabar dan ikhlas yang jumlahnya melimpah didalam hati, agar setiap pertarungan dapat dilewati dengan perbekalan sabar dan ikhlas yang melimpah ruah.

Bagian tengah baju zirah ini juga tampak lecet, sepertinya telahmengalami beberapa pertarungan dengan gaya body rush. Lecet di bagian tengah baju zirah ini lebih terkait dengan pertarungan keimanan. Imam Nawawy menjelaskan tentang Iman secara etimologi (bahasa) adalah percaya sepenuhnya, dalam istilah iman adalah mempercayai secara khusus, yaitu percaya kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir dan takdir baik maupun buruk. Follow up dari penjelasan tadi adalah tentang sejauh mana keimanan itu harus dijaga didalam hati, dan di implementasikan dalam tindakan nyata.

Musuh internal dari keimanan tersebut adalah hawa nafsu dan syahwat yang menggebu-gebu mendominasi jalannya akal sehat. Terkadang, pemakai baju zirah ini terpengaruh dalam lingkungan orang-orang yang kemudian lebih memperturutkan nafsu dan syahwatnya dari pada nalar keimanan yang seharusnya mengontrol tindak tanduk pemakai baju zirah tersebut. Musuh eksternalnya adalah sekelompok orang yang bangga dengan Aqidah yang rusak dan menyebarkan fitnah tentang Aisyah bin Abu Bakr ra, Abu Bakr Ash-Shidiq ra, ‘Umar bin Khaththab ra, dan Utsman bin Affan ra. Sekelompok orang-orang yang menyebarkan fitnah tersebut bahkan menyanjung Ali bin Abi Thalib ra secara berlebihan tanpa ilmu yang mumpuni dan hanya berdasarkan fanatisme golongan. Namun serangan musuh internal dan eksternal ini justru membuat pemakai baju zirah semakin istiqomah di jalan kebenaran.

Selanjutnya, lecet dibagian belakang baju zirah ini karena gempuran beberapa orang yang mengaku dalam golongan yang sama dengan pemakai baju zirah ini namun ternyata mereka adalah musuh dalam selimut yang menikam dari belakang. Akmal Sjafril bercerita tentang musuh dalam selimut yang sempat hidup pada zaman Nabiyullah Musa’alaihissalam. Fir’aun bukanlah satu-satunya masalah berat yang dihadapi oleh Nabi Musa as. Dengan izin Allah, Fir’aun habis dimangsa lautan. Akan tetapi, di tengah-tengah Bani Israil, masih terdapat bahaya laten yang mengancam. Rupa-rupanya, jangankan tangan yang bercahaya atau tongkat yang berubah menjadi ular, bahkan lautan yang terbelah pun tidak cukup untuk meyakinkan kaum Bani Israil.

Merekalah musuh dalam selimut yang sempat hidup di zaman Nabi Musa as. Mereka meninggalkan Allah ketika ingatan tentang kekejaman Fir’aun belum lagi hilang dan peluh belum lagi kering. Betapa cepat mereka hilang ingatan akan dakwah Nabi Musa as dan Nabi Harun as yang begitu terjal, padahal kedua Nabi Allah yang Mulia ini telah menyempurnakan tugas untuk menyampaikan kata-kata yang benar di hadapan Fir’aun.

Musuh dalam selimut yang hidup dizaman pemakai baju zirah ini ternyata memiliki kecerdasan yang tak bisa di anggap enteng, mereka memakai kacamata hitam untuk melihatideologi dan setiap aksi pemakai baju zirah tersebut. Sehingga apapun yang dilakukan oleh pemakai baju zirah tersebut terlihat buruk dan penuh prasangka dalam pandangan mereka. Padahal pemakai baju zirah ini melihat mereka dengan pandangan yang sederhana, menghargai mereka dalam persaudaraan yang tulus, memakai kacamata yang jernih dan bebas dari segala bentuk prasangka.

Baju zirah ini pun bukan sesuatu yang abadi dan memiliki batas umur. Baju zirah ini pun bisa luluh dan hancur, luntur dan pudar, berbeda jauh saat pertama kali di nobatkan di bahu tegap pemakainya. Sesungguhnya tubuh pemakai baju zirah ini masih mampu untuk bertarung, raganya masih tahan dengan benturan-benturan selanjutnya, jiwanya optimis takkan kalah karena banyak belajar dari pertempuran yang pernah ia alami, bahkan ia berkomitmen atas izin Allah semangat ini takkan padam dengan mudah.

Namun yang perlu dipahami oleh petarung tangguh ini, baju zirah yang ia gunakan suatu saat juga akan diganti. Saat Baju Zirah terbaik menanti petarung tangguh tersebut, meskipun tak semulia para Sahabat dan Salafunasshaleh, ia memahami tentang kapasitasnya. Dengan gamangdan galau, efek dari benturan dan pertarungan sebelumnya,dengan terseok-seok karena luka–luka yang mungkin belum sempat terobati ia akan tetap menantang kezoliman namun dengan cara yang lebih waspada.

Pertarungan dan pertempuran selanjutnya akan membuatnya semakin lihai dalam bertarung, cerdas dalam menyusun strategi, mengintai setiap tebasan pedang, terjangan anak panah, dentuman keras. Ia memahami bahwa sebuah pertarungan besar hanya bisa di ikuti oleh-orang besar dengan baju zirah yang bernama amanah ini. Tanpa Baju Zirah pun, ia siap untuk luluh lantah, rela hancur lebur, hidup mulia atau mati syahid.


Penulis : Mohamad Khaidir, S.E.
Relawan KNRP Sulteng, Ketua Umum Forum Pemuda Kreatif Kota Palu (FPKP)


No comments

Powered by Blogger.