Header Ads

Aksi Bela Islam

Mengenal Komunitas #IndonesiaTanpaJIL

Indonesia Tanpa JIL
Ramadhan kemarin, saya bersama teman-teman dari Komunitas One Day One Juz (ODOJ) berkesempatan silaturahim dalam agenda Buka Puasa Bersama dengan Komunitas #IndonesiaTanpaJIL (ITJ), sebuah komunitas yang concern pada penyelamatan umat dari kerusakan pemikiran yang dibawa oleh Jaringan Islam Liberal (JIL), demikian mereka mengidentitaskan dirinya.

Awalnya saya iseng-iseng mention akun @malakmalakmal, boss ITJ, agar kedua organisasi ini sesekali mengadakan buka puasa bersama. Maksud saya, supaya dua komunitas yang sedang digandrungi anak-anak muda ini bersinergi untuk membangun sebuah gerakan bersama dalam membangun umat dan bangsa. Tentu akan menjadi sebuah kekuatan dahsyat jika ODOJ yang concern pada kampanye ‘dekatan diri pada al-Quran’, bersinergi dengan ITJ yang concern pada penyelamatan akidah.

Rupanya gayung bersambut. Dan, Buka Bersama yang dikonsep dalam format diskusi pemikiran Islam itu berlajalan dengan sukses, diikuti dengan antusias oleh sekitar 100 orang anggota ODOJ dan ITJ. Tema yang diambil pun sengaja dibuat relevan untuk kedua komunitas, “al-Quran, Solusi atas Problematika Pemikiran Islam”, tema yang mewakili semangat Komunitas ODOJ maupun ITJ. Dalam kesempatan itu oleh panitia, saya dikerjain menjadi pembicara bersama Akmal Syafril, pemililik akun @malakmalakmal.

Sebagai alumni Jurusan Filsafat di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kajian pemikiran Islam bagi saya merupakan tema yang menarik. Gelombang apa yang di kalangan aktivis dakwah disebut sebagai Ghazwul Fikri (perang pemikiran) telah saya rasakan sejak menghirup udara OPSPEK di Kampus Islam terbesar di Indonesia itu. Selama ini UIN terkenal karena kenyelenehan pemikiran yang –terutama—dicetuskan oleh mahasiswa-mahasiswa Fakultas Ushuluddin. Dan saya merasa “beruntung” pernah diasuh oleh dosen-dosen yang terkenal liberalitas-pemikirannya itu, semisal Prof.Kautsar Azhari Noor (konon satu dari sedikit tokoh pemercaya wahdatul wujud di Indonesia, dimana eksplorasi tentang konsep manunggaling kawula gusti tersebut bisa digali dari disertasinya yg membedah Wahdatul Wujud ibn ‘Araby), atau Dr.Zainun Kamal, seorang pemikir bebas yang pernah menikahkan wanita Muslimah dengan Lelaki Nasrani, dll.

Karena itu pula, sejak kuliah saya sedikit akrab dengan buku-buku pemikiran Islam, mulai dari filsafat Yunani hingga filsafat Islam. Mulai dari Socrates hingga Ar-Razy. Mulai filsafat murni hingga filsafat politik. Mulai dari ilmu kalam hingga tasawuf.

Berkesempatan membedah problematika pemikiran Islam dengan seorang founder Indonesia Tanpa JIL tentu akan menjadi pengalaman menarik, karena ITJ bagi saya merupakan sebuah komunitas yang unik. Disebut unik karena selama ini counter opinion terhadap pemikiran-pemikiran JIL umumnya hanya berkutat pada tataran akademis, tidak menyentuh ranah gerakan. Counter terhadap jurnal dan diskusi anak-anak JIL biasanya dibalas juga dengan jurnal dan diskusi-diskusi ilmiah dari kalangan aktivis-aktivis dakwah, fair. Hal ini cukup untuk menjadi bahan pustaka bagi kalangan yang selama ini memang concern pada pemikiran Islam. Tulisan berbalas tulisan, jurnal atau majalah berbalas jurnal dan majalah, misalnya Syir’ah vis a vis Islamia, diskusi berbalas diskusi. Itu cukup menjadi tesa dan antitesa untuk lahirkan paradigma yang konklusinya dikembalikan kepada para pembaca.

Tetapi untuk mereka yang awam terhadap dialektika pemikiran Islam, perlawanan terhadap ide-ide JIL tidak cukup berhenti di ranah itu. Perlu ada gerakan yang secara massif menyadarkan umat tentang bahaya pemikiran JIL. Ruang ini yang masih kosong, dan Akmal Syafril mengisi kekosongan itu. Ini yang membedakan antara mereka yang berkutat pada ranah intelektual an sich, dengan mereka yang bergerak pada ranah gerakan.

Dalam obrolan itu saya menjadi faham, mengapa misalnya, bahasa yang kerap digunakan oleh teman-teman ITJ dalam meng-counter liberalisme pemikiran Islam adalah bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat awam. Padahal biasanya, kajian-kajian pemikiran Islam selalu sarat dengan ‘bahasa-bahasa langit’ yang tak familiar di telinga masyarakat luas. Bahasa langit yang dimaksud adalah istilah-istilah yang menjadi 'sarapan pagi' anak-anak pemikiran, seperti epistemology, ontology, transcendent, post modernisme, post tradisionalisme, oksidentalisme, bibliolatri, diabolisme, esoterisme, dan istilah-istilah asing lainnya.

Gerakan seperti ITJ diperlukan untuk menyederhanakan istilah langit tadi ke dalam bahasa bumi. Sehingga masyarakat bisa memahami kekeliruan JIL tanpa perlu mengerutkan kening seperti ketika membaca tulisan intelektual muda INSIST di jurnal Islamia, yang selama ini juga aktif meng-counter gagasan sesat JIL dengan tulisan-tulisan akademis yang –mengutip Prof.Nasaruddin Umar– advanced.

Untuk diketahui, predikat sesat atas gagasan-gagasan JIL di atas berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai paham pluralisme Agama, sekularisme, dan liberalisme. Saya percaya pada Ulama, jika anda tidak, mari saling hormati.


Vis a Vis Jaringan Islam Liberal

Dalam obrolan ringan sebelum presentasi, Akmal Syafril mengatakan bahwa kritik terhadap JIL tak hanya dari segi pemikiran, tapi dari juga dari kurangnya kepedulian JIL pada aspek sosial. Sangat jarang kita mendengar JIL misalnya,–untuk tidak mengatakan tidak pernah– mengadakan kegiatan sosial bagi masyarakat seperti sering dilakukan oleh kelompok-kelompok dakwah. Padahal, lanjut Akmal, rata-rata aktivis JIL adalah orang berada. Mari sama bertanya: kenapa?

Bisa saja sebetulnya, sebab JIL sejak awal memang hanya concern pada dimensi pemikiran Islam, sehingga tidak berfokus untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti kelompok yg kerap mereka sebut sebagai ‘Islam literalis’ itu. Dan menariknya, justru dari sudut inilah ITJ membendung pemikiran JIL di tengah umat.

Selama ini, perkumpulan aktivis-aktivis dakwah semacam ITJ, seumpama Lembaga Dakwah Kampus, One Day One Juz, Peduli Jilbab, Forum Lingkar Pena, dll., akrab dengan kegiatan-kegiatan sosial sehingga lebih dekat kepada masyarakat, berbeda dengan JIL yang di mata masyarakat seperti menara gading. Indah, menarik, tapi tak terlalu berdayaguna. Mereka asyik masyuk mendiskusikan terma-terma asing yang sarat bahasa langit, dengan referensi buku filsafat nan tebal, siang dan malam, sementara umat duduk di pinggir jalan menunggu sumbangan makan berbuka. Mereka asyik dengan dunia intelektualnya, seperti filosof Rousseau yang asik berkontemplasi namun membunuh bayi-bayi di belakang rumah. Ibarat padang rumput dan bulan purnama: takkan pernah bertemu. Tidak membumi.

Tapi bagi saya itu semua tak masalah. JIL memang bukan komunitas yang bertujuan untuk berlomba memperbanyak anggota. JIL hanyalah ‘sekumpulan sangat sedikit orang’ yang memberikan ruang untuk berbeda pendapat bahkan pada hal-hal yang dianggap tabu dalam agama, yang selam ini acap dihindari oleh kebanyakan kaum santri.
salah satu hinaan Ulil

Itulah mengapa kita paham, JIL tak membuka kantor cabang di daerah-daerah. Dan, JIL bukan merupakan kumpulan dari orang-orang yang sepakat dalam semua hal. Ide Luthfie Asy-Syaukani misalnya, bisa saja berbeda dengan Ulil Abshar Abdalla atau Abdul Moqseth Gazali. JIL bukan kelompok pemikir yang punya satu madzhab. Mereka hanya sepakat pada satu hal: bahwa perbedaan itu dibolehkan, dan manusia diberikan kebebasan untuk berpikir sejauh yang mereka mau, liberal. “sejauh yang mereka mau” itu yang membedakannya dengan ITJ.

Sayangnya, aktivis-aktivis Islam liberal tak sepenuhnya liberal, dalam arti menghargai ragam keyakinan oang lain. Ulil Abshar buktinya, yang dikenal sebagai tokoh Islam liberal paling moncer saat ini, pernah menghina wanita bercadar di twitter-nya dengan menyamakan wanita berhijab itu seumpama bungkusan kantung sampah (lihat gambar). Dari gambar itu, kita akan paham bahwa Ulil justru harus diajari bagaimana cara menghargai keragaman dalam berkeyakinan.

Atau bagaimana kita membaca sebuah catatan harian seorang Sandrina Malakiano, mantan presenter populer di Metro TV, yang menaruh kecewa kepada “para penganut Islam liberal” lantaran menyinggung keputusan istri pengamat politik Eep Saefullah Fatah itu untuk kenakan hijab. Waktu itu, menurut Sandrina, seorang yang dikenal liberalismenya dalam pemikiran Islam justru menyindirnya dengan sarkastik, “Semoga Sandrina kembali ke jalan yang benar”. Sehingga kemudian presenter cerdas itu berkesimpulan, bahwa radikalisme tak hanya berada di balik kepala kalangan yang selama ini dicap sebagai kaum fundamentalis, tapi juga bisa hinggap di balik kepala mereka yang mengaku liberal.

Jaringan Islam Liberal juga senyap dari pembelaan terhadap isu-isu Islam. Ketika penggunaan jilbab di larang di sejumlah instansi di Bali misalnya, kita tidak dengar suara lantang para intelektual itu sebagaimana mereka membela Gereja, atau membela aliran-aliran yang dikategori sesat oleh MUI.

Sehingga, wajar jika kemudian muncul pandangan di tengah masyarakat Muslim bahwa JIL, sebetulnya bukan pembela Hak Asasi Manusia dalam beragama dan berkeyakinan seperti yang acap mereka klaim, tapi tak lebih dari sekelompok kaum Islamophobia. Phobia terhadap hal-hal yang berbau Islam: Ekonomi Syariah, jilbab, nasyid-nasyid modern, atau isu-isu dunia Islam, dll.


Bahkan Jaringan Islam Liberal, dari namanya sudah mengandung sebuah ‘contradictio interminis’ atau kontradiksi di dalam dirinya. Seorang Muslim yang belajar agama secara sahih tidak mungkin liberal, karena ia dipagari oleh norma-norma agama yang membatasi kehidupannya dalam banyak hal.


Haruskah saling Menegasi?

Jangan salah kira, sekalipun dari namanya ITJ terkesan anti perbedaan—setidaknya dengan keinginan untuk membubarkan JIL—sebetulnya ITJ adalah kelompok yang mudah menerima ragam pemahaman. Mereka bisa berbeda dan menerima keragaman, juga kebebasan berfikir. Bahkan member ITJ sendiri punya latar belakang beragam-ragam, ITJ bukan komunitas dengan member yang homogen.

Hanya saja perlu dipahami, kebebasan yang dipahami ITJ adalah kebebasan berpikir yang dibatasi oleh, atau berada dalam pagar norma agama: Tidak lagi membincangkan hal-hal yang sudah diatur keabsolutan kebenarannya oleh nash atau teks al-Quran maupun hadits Nabi. Misalnya mempertanyakan otentisitas al-Quran, memperdebatkan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi Terakhir, meragukan kehendak dan keadilan Tuhan, meragukan kredibilitas shahabat Nabi, dst., yang tabu bahkan cenderung merusak akidah kalangan yang awam terhadap agama.

Dan ITJ, atau Akmal khususnya, merasa terpanggil untuk menjaga umat dari hal tersebut. Bagian ini saya kira merupakan jawaban untuk catatan Pandji, presenter kondang Messake Bangsaku, atas program diskusi JIL versus ITJ di HardRock FM tahun lalu, tentang mengapa harus ada perbedaan yang saling menegasikan: Bahwa ITJ merasa terpanggil untuk menjaga akidah umat dari apa yang dipahami ITJ sebagai kerusakan pemikiran Islam, semata karena kecintaannya kepada saudara-saudaranya sesama Muslim.

Dalam beragama, memang terdapat kecenderungan bagi penganut agama untuk mengajak orang lain menuju jalan kesalehan sebagaimana yang ia imani. Sebab itulah muncul da’i-da’i dalam Islam, dan missionaris dalam iman kristiani. Dan lahirnya ITJ semata merupakan ekspressi dari hal itu, sekalipun tak lepas dari momentum isu “Indonesia tanpa FPI” yang digerakan oleh Jaringan Islam Liberal beberapa tahun lalu.

Lahirnya ITJ adalah ekspressi dari kecintaan kepada ummat, agar tak terpengaruh oleh virus Islam liberal. Sama persis, sebagaimana di seberang mereka JIL juga mengajak manusia untuk menerima gagasan-gagasannya dan menolak paham yang bertentangan dengan prinsip JIL. Dalam alam demokrasi, dan saya sepakat dengan Pandji, semua boleh ada. Kita boleh berbeda pendapat, dan itu sah dalam perspektif demokrasi.

Tapi tentu saja, sebagai penganut agama Islam yang besar dalam tradisi Nahdhatul Ulama, saya menaruh keprihatinan yang serupa dengan rekan-rekan ITJ, bahwa Umat ini berada dalam bahaya jika terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran yang digagas rekan-rekan JIL.

Bisakah anda bayangkan jika umat Islam ini pelan-pelan menjadi seorang atheis, atau agnostic yang meragukan eksistensi Tuhannya? Atau meragukan bahwa Nabi Muhamad sebagai Nabi terakhir? Jika anda seorang liberalis tentu hal ini tak masalah, karena agama dipahami sebagai urusan personal-individual dimana tidak ada pihak luar yang berhak menghukumi keyakinan orang lain di luar dirinya. Iman adalah urusan masing-masing pribadi dengan Tuhan. Tapi sebetulnya agama tidak membiarkan itu. Agama mengajak orang lain untuk menempuh jalan menuju Tuhan sebagaimana diyakininya. Sebagai seorang democrat religious, penerimaan terhadap keragaman dalam berkeyakinan di batasi oleh doktrin-doktrin agama itu sendiri. Penghormatan terhadap nilai-nilai agama yang dipandang mapan merupakan hal yang final.

Bahkan, seorang paling liberal sekalipun, tetap menginginkan sesuatu negasi dari dunia ini: yaitu hal-hal yang mengganggu atau merusak liberalisme.

Sebagaimana kaum liberalis merasa nyaman andai tiap orang di dunia ini bisa seliberal dirinya --dalam arti menerima perbedaan dengan selapang-lapangnya sebagaimana ia yakini--, maka demikian pula penganut agama yang mendasarkan hidupnya pada keyakinan agama, akan merasa nyaman jika orang lain selamat dan memahami agama secara shahih. Dalam arti, sekalipun terdapat keragaman dalam mengaktualisasikan agama, perbedaan hanya terjadi pada hal-hal yang dianggap cabang , atau dalam istilah agama disebut furu’iyyah, bukan pada doktrin inti agama.

Dan, tentu saja perlu difahami, kalangan seperti ITJ ini juga menaruh hormat pada keyakinan umat beragama lain, kepada Kristen, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, dst. Mereka hanya terganggu, dengan apa yang mereka nilai merupakan sebuah pembusukan Islam dari dalam, itulah mengapa mereka berkeinginan: Indonesia, tanpa JIL! []
Penulis: Sigit Kamseno
Twitter @mistersigit

No comments

Powered by Blogger.